KISAH AKHIR HIDUP DR. R.A. JAFFRAY

February 11, 2017 GKII No comments exist

Oleh Randall Whetzel

Terjemahan oleh Daniel Ronda

 

Catatan: Tulisan ini saya terjemahkan dan munculkan kembali sebagai peringatan HUT GKII yang ke-88 tahun lalu. Saya posting kembali

 

Jaffray “Memilih” DItangkap

Ketika tentara Jepang mulai menyerang Asia Tenggara, R.A. Jaffray, istrinya, Minnie, dan anaknya, Margaret, sedang di Baguio, Filipina, beristirahat beberapa hari sebelum berangkat ke Kanada. Keluarga Jaffray diperhadapkan kepada pilihan yang harus diputuskan: kembali ke Timur memakai kapal laut untuk kembali ke Kanada tempat tinggalnya atau ke Selatan yaitu ke Indonesia (saat itu masih dijajah Belanda). Tanpa ragu, mereka kembali ke Makassar, Indonesia. Saya bertanya kepada Jaffray mengapa tidak ke Kanada saja sesuai rencana, apalagi misi C&MA (The Christian and Missionary Alliance) sudah menetapkan Pdt. Russell Deibler, pemimpin yang luar biasa, sebagai pemimpin. Dia menjawab, “Tempatku adalah dengan saudara-saudaraku di Indonesia.” Jaffray berpikir, sebagaimana saya juga, berharap bahwa dengan kepulangannya tentara pendudukan Jepang akan mengizinkan pekerjaan misi dilanjutkan. Justru dia kembali untuk ditangkap. Jepang telah menyiapkan kamp tawanan untuk pria di Pare-Pare, sekitar 200 km sebelah utara Makassar. Kamp tawanan untuk perempuan dan tawanan di Kampili, dekat Makassar. Pada awalnya, orang laki-laki yang sudah tua ditempatkan di kamp perempuan, tetapi pada Juni 1943, semua orang tua, yang ditemani sekelompok anak-anak berusia 14 tahun ke atas, direlokasi ke kamp Pare-Pare. Ketika Jaffray mengucapkan selamat berpisah kepada Nyonya Jaffray dan Margaret, mereka pun tidak tahu apakah mereka akan bertemu kembali dalam keadaan hidup.

 

Tetap Sibuk

Di kamp tawanan, Jaffray bertemu Deibler dan Ernie Presswood, yang juga misi C&MA. Saya juga bertemu Jaffray untuk pertama kalinya pada sorenya. Dia dan 23 laki-laki yang sudah tua diizinkan tidak bekerja dan ditempatkan terpisah dan sedikit baik keadaannya. Jaffray tetap sibuk menerjemahkan ke bahasa Inggris buku-buku dan tafsiran-tafsiran yang dia telah tulis dalam bahasa China dengan suatu harapan bahwa setelah perang berakhir, mereka akan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Di sana ada tiga orang China di kamp tawanan: Konsul China, Bapak Wang; wakil-konsul, Lee Tsu Hwai dan anak laki-laki dari Bapak Wang, Mi Fu. Karena Konsul Wang adalah seorang diplomat, maka dia tidak perlu bekerja, Jaffray sering bercakap-cakap dengannya dalam bahasa China.

 

Dia setiap sore mengusahakan berjalan mengelilingi kamp dengan Deibler dan Presswood. Saya juga berupaya sesering mungkin bersama dia pada waktu malam sampai larut. Pelayanannya yang telah dilakukan di China, Vietnam (dulu Indo-China jajahan Perancis) dan Indonesia adalah suatu hal yang baru saya tahu. Dia tidak pernah lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang tak terhitung banyaknya. Setelah Russell Deibler meninggal karena diare tanggal 29 Agustus, hanya Presswood menjadi teman sandaran Jaffray. Ketika itu saya pergi selama enam hari dengan sekelompok grup kayu untuk menebang pohon dan memotongnya sebagai kayu bakar untuk dapur Jepang dan juga dapur kami. Waktu itu kami berhasil menyelundupkan berbagai jenis makanan ke kamp, ditaruh secara sembunyi di bawah tumpukan kayu bakar. Barang yang paling populer yang diselundupkan adalah telur bebek, di mana ini menjadi suplemen bagi makanan untuk kesehatan Jaffray.

 

Hari Minggu kami lebih memiliki waktu bersama. Presswood, Jaffray dan saya berbicara sambil minum teh dan kopi, dan Jaffray sering memberikan teka-teki tentang apa yang saya lihat selama 10 km jalan kami setiap hari untuk mencari kayu bakar. Dia adalah orang yang penuh humor, dan satu komentar dari penjaga Jepang sungguh membuat dia tertawa riang. Kebanyakan pada hari Minggu kami diizinkan beribadah, tetapi suatu minggu kami tidak diizinkan beribadah. Salah seorang penjaga menjelaskan dalam bahasa Indonesia, “Tidak boleh meong-meong!” (Maksudnya tidak boleh menyanyi seperti kucing).

 

Sasaran Lanjutan

Sebelum Perang Dunia Kedua, gereja Katolik dan Protestan Balanda di Indonesia terlibat dalam perang kata-kata. Saat di kamp, ternyata ada 40 imam Katolik, 80 awam Katolik dan 40 misionari Protestan yang ditawan bersama, dan perselisihan terus berlanjut selama beberapa minggu di dalam tawanan. Dan ketika pertemuan diadakan, salah seorang bertanya “Di fihak mana kita sebenarnya?” “Kita mempunyai musuh bersama, Jepang yang memenjarakan kita.” Sejak saat itu perdamaian terjadi. Saat itu Jaffray berkata bahwa dia berharap bahwa sebenarnya semua masalah dalam kehidupan teratasi sehingga sungguh heran mengapa orang percaya dari semua gereja tidak bersatu melawan musuh bersama yang terbesar yaitu Iblis.

 

Jaffray seringkali berbicara sasaran berikutnya: membuka daerah Burma (Myanmar) untuk Injil. Dia merasa bahwa pelayanan misi C&MA di Indonesia sudah berjalan dengan sehat, sehingga dia merasa bebas untuk melanjutkan visinya. Saya yakin sepenuhnya, bila dia mampu bertahan hidup dalam perang, dia pasti akan pergi ke Myanmar setelah keadaan lebih baik.

 

Di dalam kamp tawanan sipil seperti kami, ada beberapa profesor, guru dan dari berbagai profesi. Para tentara penjaga mengizinkan adanya kelas-kelas pendidikan yang diajar setelah makan malam. Beberapa dari guru memiliki buku teks, dan beberapa orang mengajar dari ingatannya. Banyak mata pelajaran yang diberikan, sehingga pilihan menjadi tidak terbatas. Saya mengambil kelas filsafat, atau ilmu burung (ornithology) dan sastra. Jaffray mengikuti kelas etnologi. Saya yakin bahwa ketertarikannya terkait dengan visinya ke Burma.

 

Pulang Ke Rumah Bapa

Tanggal 19 Oktober 1944, pasukan Sekutu mengebom kamp kami di Pare-Pare. Tentara penjaga memindahkan kami dengan berjalan kaki sepanjang delapan kilometer ke selatan ke beberapa gudang kosong, namun orang yang sudah tua diizinkan naik menggunakan kendaraan trailer besar yang biasa dipakai mengangkut kayu bakar. Kondisi kebersihan di kamp yang baru ini sangat mengerikan. Dalam waktu tidak lama terjadi wabah disentri. Bahkan ketika puncak wabah, ada sampai 400 dari 600 tawanan yang terkena wabah. Presswood dan saya kena penyakit ini, tetapi Jaffray tidak.

 

Pada Juni 1945, Pasukan Sekutu sudah mendekati pulau-pulau di utara Indonesia, dan tentara Jepang memutuskan untuk memindahkan kami lebih ke dalam lagi. Kami ada 30 dinaikkan ke sebuah truk dari kamp kami di pantai ke pegunungan di Toraja di mana waktu tempuh perjalanan selama 16 jam. Orang-orang yang lebih tua dipindahkan beberapa hari kemudian.
Kamp tawanan baru kami terletak di suatu lembah sekitar hampir dua kilometer dari ujung jalan. Waktu itu hujan terus menerus, sehingga jalanan berlumpur, licin, berlubang dan dipenuhi dengan batu-batu. Orang yang sudah tua tidak dapat berjalan masuk, sehingga kami membuat jalinan bambu dan membuatnya sepanjang malam sehingga jalanan bisa dilewati. Karena bahayanya, maka kami mengikat orang tua sehingga bisa lewat. Jaffray dan beberapa orang lainnya dibawa dengan terburu-buru ke tempat orang sakit, yang berdinding bambu sederhana dan atap jerami dengan lantai tanah. Selimut sama sekali tidak ada. Beruntung, Kolonel Woodward dari Bala Keselamatan (Salvation Army) memiliki jaket tebal sehingga dia menjualnya ke Jaffray US$20, di mana pembayaran akan diberikan setelah perang.

 

Kecuali yang sudah lanjut, seluruh tawanan dalam keadaan kelaparan. Seringkali tidak ada makanan sama sekali selama 24 jam, bahkan kadangkala 36 jam. Makanan harian adalah setengah gelas nasi, tidak ada garam dan gula, sayuran tidak teratur dan hampir tidak ada daging sama sekali. Jaffay sangat memerlukan garam dan gula, tetapi tidak ada seorang pun yang punya. Beberapa anak muda mencoba menyelinap keluar kamp pada waktu malam untuk mendapatkan benda-benda itu di desa terdekat. Mereka kembali dengan tangan hampa, dan tentara penjaga, yang mengabsen tawanan, memukuli mereka.

Berat badan saya turun menjadi 49 kg dari sebelumnya 75 kg namun saya tetap harus bekerja dengan rekan penebang kayu. Saya kena disentri lagi dan ditaruh di tempat orang sakit sekitar empat tempat tidur dari Jaffray. Hari lepas hari Jaffray semakin lemah. Perawat laki-laki memerintahkan Presswood dan saya untuk memeriksa apakah Jaffray sudah meninggal. Jaffray kemudian pergi ke rumah Tuhan di tengah malam tanggal 29 Juli 1945, beberapa minggu sebelum perang berakhir. Perawat tidak memanggil saya sampai pagi harinya. Presswood kemudian datang, dan kami berdua menangis di samping tempat tidur hamba Tuhan yang terpilih ini.

 

Presswood memimpin upacara pemakaman pada pukul 16.00 sore dalam suasana hari yang dingin dan berangin. Sekelompok paduan suara gabungan Katolik dan Protestan menyanyikan lagu “Makin Dekat KepadaMu, Tuhan “ (“Nearer My God to Thee”) dalam harmoni tiga bagian yang diaransir oleh sorang imam, Pastor Does. Nyonya Jaffray dan Margaret tidak tahu kematian orang yang dikasihinya sampai kami semua dibebaskan. Setelah perang berakhir, mayat Jaffray dipindahkan ke tempat yang layak di Makassar, di mana kuburannya masih ada sampai saat ini (catatan penerjemah: di kuburan Kristen Panaikang).

 

Kebenaran Yesus yang ada dalam Lukas 9:57-62 sangat tepat teraplikasi dalam kehidupan Jaffray. Ketika dia sudah melangkah untuk melayani tidak ada lagi titik balik, baik itu karena masalah rohani maupun fisik. Dia tidak mempunyai tempat untuk membaringkan kepalanya yang menjadi miliknya. Lewat pemeliharaan Tuhan, hanya saya dari empat orang yaitu Jaffray, Deibler, Presswood dan saya yang masih hidup. Lewat pengaruh dari ketiga hamba Tuhan ini, saya kembali ke Indonesia pada bulan Januari 1948 dengan istri dan keluarga sebagai utusan misi C&MA. Seseorang yang mengikuti Tuhan dengan begitu dekat dan penuh dedikasi, sebagai yang Jaffray lakukan, adalah seorang yang layak diikuti (1 Kor 11:1).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *