Serial Menyambut Bulan Misi GKII: William Carey, Bapak Misi Modern (6)

July 24, 2017 GKII No comments exist

Oleh: Daniel Ronda

Mengapa William Carey disebut Bapak Misi Modern padahal dia bukan penginjil pertama dari gereja Protestan yang keluar negeri bahkan dari gereja Baptis pun dia juga bukan yang pertama? Bahkan sudah ada Zinzendorf dan gerakan Moravia yang sudah lebih dahulu mengutus penginjil ke luar negeri.

 

Dia disebut berjasa sebagai bapak misi modern bukan karena apa yang telah dikerjakannya di India tapi oleh karena tulisan dan dorongannya dia akhirnya lahir puluhan lembaga misi yang siap mengutus penginjil, mendorong munculnya ratusan penginjil yang siap diutus dan pada waktu itu menjadi gerakan mobilisasi terbesar sepanjang sejarah gereja Protestan. Mungkin banyak yang belum mengenalnya. Untuk itu diharapkan semua hamba Tuhan harus mempelajari sejarah hidupnya supaya kita bisa menghargai karyanya dan belajar semangat misinya untuk dikobarkan sepanjang sejarah.

 

William Carey lahir di Inggris tanggal 17 Agustus 1761. Masa kecilnya dia cukup susah karena berasal dari keluarga miskin dan dari sebuah desa yang terpencil. Dia punya penyakit kulit yang sangat rentan dengan cahaya sinar matahari sehingga dia harus memilih pekerjaan yang tidak kena cahaya matahari. Untuk itu dia memilih bekerja menjadi tukang sepatu. Ia menjadi anggota gereja Baptis Khusus (Particular Baptist) tapi jemaat ini agak disingkirkan dalam pergaulan dalam masyarakat karena gerejanya sangat konservatif dan tidak kompromi dengan dosa. Boleh dikatakan sejak kecil sampai remaja dewasa Carey merepresentasikan dirinya sebagai orang yang terpinggirkan secara ekonomi, sosial dan bahkan dalam agamanya. Namun singkat cerita dia bertumbuh menjadi seorang Kristen yang baik dan terpanggil menjadi hamba Tuhan. Setelah melewati proses persiapan dan pendidikan, beliau dilantik menjadi gembala di sebuah Gereja Baptis yang kecil.

 

Dalam kaitan dengan penginjilan, kisah dramatis perubahan Carey terjadi sewaktu ada teman sejawatnya dalam pertemuan bulanan sesama hamba Tuhan menantang dia dengan pertanyaan apakah perintah penginjilan atau Amanat Agung Yesus Kristus ke seluruh dunia yang diberikan kepada muridNya masih berlaku sampai hari ini? Apalagi kajian Calvinistik berkembang ke arah lain yaitu tidak perlunya penginjilan karena Tuhan akan mampu menyelamatkan tanpa kita harus pergi. Diskusi ini ternyata berkepanjangan dan terus terjadi berkali-kali, sehingga akhirnya lewat diskusi ini Carey lalu menulis buku yang diterbitkan tahun 1792. Buku setebal hanya 87 halaman ini dikatakan sebagai tulisan yang paling berpengaruh yang pernah ditulis dalam Bahasa Inggris pada zamannya. Dari judulnya saja kita sudah mendapatkan apa yang terkandung dalam tulisan itu. Bukunya berjudul: “An Enquiry into the Obligation of Christian to Use Means for the Conversion of Heathens.” Waktu itu judul-judul buku cukup panjang dan tidak seperti sekarang judul-judul buku pendek dan kadang tidak sesuai dengan isinya.

 

Mari kita kaji tulisan beliau. Bagian pertama dari buku adalah “An Enquiry into the Obligation of Christians” (Hal yang merupakan kewajiban orang Kristen) menyatakan adanya halangan sejarah dan teologis untuk menjadi seorang penginjil. Salah satunya adanya pengajaran yang keliru tentang Calvinisme yang seolah-olah menganggap tidak perlu lagi penginjilan karena semua sudah ada ketetapan Allah. Bagi Carey, Tuhan tetap menggunakan manusia untuk tugas penyelamatan. Lalu bagian “for the Conversion of the Heathens” (Pertobatan orang yang tidak percaya) dijelaskan bahwa Carey punya komitmen yang jelas dan tegas bahwa perlunya penginjilan dan misi ke seluruh dunia serta perlunya manusia meresponi berita keselamatan dari Tuhan. Tapi ada bagian kalimat tengahnya yang sering dilupakan orang yaitu kata “use means” (penggunaan berbagai cara). Padahal inilah poin yang penting dari buku ini menyebabkan dia dijuluki Bapak Misi Modern.

 

“Use Means” mengungkapkan pentingnya orang percaya ikut bertanggung jawab dalam melaksanakan misi sehingga perlu orang percaya mengorganisasi diri mereka dan membentuk suatu struktur sehingga orang percaya dapat diatur dan diarahkan untuk mendukung penginjilan misi seluruh dunia. Dalam dunia sekarang perlu punya strategi manajemen misi yang menyebabkan orang percaya termobilisasi dalam penginjilan dunia. Ini sumbangan penting dari William Carey untuk dunia Kristen Protestan. Hal ini sebenarnya bukan baru dalam gereja Katolik, karena dalam Katolik sudah ada ordo-ordo atau komunitas atau lembaga yang terbentuk untuk berbagai jenis pelayanan dalam gereja dan dunia. Ada yang fokus kepada penginjilan, pendidikan, rumah sakit, orang miskin dengan panti sosialnya serta banyak jenisnya dalam gereja Katolik. Orang yang terlibat tidak hanya para imam atau pastor tapi juga kaum awam terlibat dalam pelayanan ini. Berbeda dengan reformasi Protestan di mana fokus masih menghadapi penindasan dan masalah internal sehingga selama dua ratus tahun pertama sejak reformasi tidak ada pengiriman tenaga penginjil ke luar negeri. Itu bukan hanya karena faktor teologis tapi juga memang tidak ada lembaga-lembaga pelayanan yang dibuat dalam mendukung gereja.

 

Dalam buku Carey yang penuh berisi tulisan historis dan teologis tentang pentingnya penginjilan, dia tidak menemukan apa kata Alkitab dan kajian teologis bagaimana misi harus didukung dan dikembangkan dalam gereja Kristen. Maka Carey mencoba mengusulkan suatu sistem dengan meminjam organisasi dagang yang sekuler dan dipakai dalam mengorganisasi pelayanan dalam gereja. Bagi Carey pendekatan misi itu tidak hanya dilakukan oleh para hamba Tuhan dan jemaat hanya mendukung dari segi dana, tapi bagaimana menata suatu sistem organisasi yang juga melibatkan jemaat awam atau seluruh jemaat terlibat dalam pelayanan. Jadi pendekatan bahwa hanya pendeta yang bisa jadi penginjil dipatahkan dalam konteks Carey. Misalnya Carey melibatkan perempuan juga bisa diutus ke misi luar negeri dengan memakai karunia yang diberikannya sebagai dokter, perawat dan banyak peran lainnya. Akibat dari buku ini banyak organisasi misi mulai terbentuk baik di Inggris maupun di Amerika. Mereka membentuk organisasi yang membidangi penerjemahan Alkitab, kesehatan, pendidikan dan banyak lagi. Ini terbukti pada waktu Carey ke India dia berhasil membentuk lembaga misi Baptis yang besar, penerjamahan Alkitab< Rumah Sakit, ikut dalam perjuangan masalah sosial dan kesmiskinan dan seterusnya.

 

Apa pelajaran yang bisa diambil dari Carey dan bukunya untuk GKII? Sudah waktunya kita menata kembali kegerakan misi untuk melibatkan kaum awam atau kaum profesional. Kita jangan fokus pada bulan misi semata meminta uang mereka untuk mendukung misi. Kita harus melibatkan mereka dalam berbagai pelayanan sesuai dengan bidangnya untuk menopang manajemen misi strategis yang holistik.

 

Hal kedua adalah perlunya manajemen strategi misi dengan lebih profesional. Seringkali kita tidak pernah menata bagaimana harus pergi tapi sistem organsiasi masih amburadul baik dari segi kemampuan menggerakkan, anggaran pelaporan pendanaan dan laporan-laporan misi. Kita harus melakukannya lebih baik dari tahun ke tahun. Semoga (DR).

 

Catatan: Bulan Agustus sebagai Bulan Misi GKII

 

Sumber bacaan: Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *