Serial Menyambut Bulan Misi GKII R.A. Jaffray dan Strategi Misinya (11)

Oleh: Daniel Ronda

Menurut Rodger Lewis bahwa ada tiga strategi keberhasilan yang kemudian disebut tiga pilar pelayanan Dr. R.A. Jaffray yaitu : penerbitan, pendidikan dan gereja pusat (baca Lewis 37-76). Kemudian dari patokan ini semua tulisan selanjutnya tentang strategi misi GKII mengikuti pedoman ini dalam menulis tentang Jaffray. Untuk penerbitan, beliau menerbitkan majalah The Pioneer dan The South China Alliance Tidings (Lihat catatan Nierkinchen). Untuk di Indonesia yang sampai hari ini penerbitan yang eksis dan telah membesar adalah penerbitan Kalam Hidup. Untuk pendidikan, STT Jaffray yang dulu bernama Sekolah Alkitab Makassar adalah hasil pelayanan beliau dan kemudian munculnya STT-STT lain di daerah-daerah. Sedangkan untuk gereja, Rodger Lewis banyak memfokuskan kepada Gereja Kemah Injil walaupun ada gereja lain yang lahir dari tangan Jaffray secara langsung seperti Gereja KIBAID, Gereja Bahtera Injil, Gereja Menara Injil, serta yang lahir dari lembaga bentukan Jaffray yaitu Chinese Foreign Missionary Union (CFMU) yaitu GKKA, GPMII dan GEPEKRIS. Pertanyaan yang mungkin patut dipikirkan adalah benarkah hanya itu strategi misi Jaffray?

 

Jika meneliti sejarah lebih jauh sebenarnya pelayanan Jaffray di Indonesia memiliki satu pilar dengan lima strategi, bukan tiga pilar seperti yang ditulis Rodger Lewis. Pilar utama Jaffray adalah penggenapan Amanat Agung Yesus Kristus. Itu satu-satunya alasan mengapa dia datang ke Indonesia dan satu-satunya sebab ada Gereja Kemah Injil Indonesia. GKII tanpa penginjilan dan misi pengutusan maka itu bukanlah GKII. Lewat pilar ini maka Jaffray membuat lima strategi misi yaitu: 1. Pekabaran Injil; 2. Penanaman Gereja sampai menjadi mandiri; 3. Pembentukan Sekolah Teologi sebagai pembentukan hamba-hamba Tuhan; 4. Penerbitan; 5. Membantu masyarakat dengan sekolah dan klinik (Catatan ini ada pada arsip surat di Kantor Misi CMA Jakarta, “Riwajat Singkat dari Usaha Missie “The Christian and Missionary Alliance” di Indonesia, halaman 1).

 

Catatan pribadi yang saya temukan dalam tulisan Jaffray sendiri memaksa kita mendefinisikan kembali strategi misi GKII ke depan: Pertama, pentingnya strategi yang relevan dan kontekstual untuk pekabaran Injil di Indonesia. Jaffray di tahun 1930-an telah berhasil membawa strategi pekabaran Injil yang bisa secara masif membawa jiwa maka GKII harus bangkit mencari berbagai strategi pekabaran Injil untuk generasi masa kini yang disebut geneerasi milenial.

 

Kedua, penanaman gereja adalah kelanjutan dari pekabaran Injil. Jangan sampai GKII hanya pandai menginjil tapi tidak mampu melakukan penanaman gereja sehingga menjadi gereja yang mandiri secara dana dan pemerintahan gereja. Perlu ada suatu gerakan khusus tentang strategi menanam dan memelihara serta menumbuhkan gereja yang merupakan kumpulan orang yang dimenangkan.

 

Ketiga, sekolah-sekolah teologi harus berorientasi kepada misi dan bukan kepada kegiatan akademis intelektual semata. STT dan sekolah Alkitab harus menopang gereja dalam menyiapkan hamba-hamba Tuhan. Pada sisi lain gereja-gereja harus secara nyata mendukung sekolah Alkitab sehingga terjadi sinergi antara keduanya.

 

Keempat, penerbitan memang sedang memasuki era kesuraman karena adanya pengaruh dunia digital dan membaca sudah berpindah dari konvensional buku kepada e-book secara digital. Walaupun demikian masih ada harapan bagi gereja untuk terus mengembangkan pelayanan penerbitan untuk tujuan penginjilan. Jangan sampai penerbitan ada hanya untuk komersial dan bukan memenuhi mandat Amanat Agung Yesus Kristus.

 

Kelima, Jaffray juga memperhatikan strategi pelayanan sosial dalam penginjilannya. Dia mendorong ada kilinik, panti asuhan dan sekolah-sekolah dalam pelayanan. Itu sebabnya GKII masih memiliki panti asuhan, pernah ada sekolah dan klinik tapi saat ini sekolah dan klinik sudah mulai pudar dan redup. Ini harus menjadi perhatian gereja untuk memulihkan pelayanan holistik dan sosial masyarakat. GKII tidak boleh hanya berfokus kepada hal-hal spiritual dalam gereja tanpa memperhatikan hal-hal sosial, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.

 

Jadi strategi misi Jaffray itu jauh lebih banyak dari apa yang selama ini kita pahami. Semoga ini membawa kebangkitan bagi pelayanan GKII ke depannya (DR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *