You are currently viewing Serial Menyambut Bulan Misi GKII: Belajar dari Pentakostalisme (19)

Serial Menyambut Bulan Misi GKII: Belajar dari Pentakostalisme (19)

  • Post author:
  • Post category:Renungan

Oleh: Daniel Ronda

Seringkali gerakan Pentakosta mendapat olok-olok dari teolog dan akademisi di seminari atau sekolah tinggi teologi. Bahkan masih banyak pemimpin gereja arus utama dan Evangelikal menganggap remeh pergerakan ini dan mengabaikannya. Bahkan terdengar ungkapan sinis “teologi mereka dangkal”, hamba Tuhannya tidak sekolah teologi atau sekolah teologinya abal-abal, hanya bicara kemakmuran dan berkat, hanya pindahkan anggota alias curi domba, dan masih banyak kritik yang dilontarkan. Namun satu hal yang dilupakan bahwa gerakan ini sudah menjadi fenomena dunia secara global yaitu ketika Kristen Protestan kehilangan jutaan anggota justru Pentakostalisme menarik banyak orang masuk ke dalam gerakan ini. Bahkan Katolik pun merasakan dampaknya di Amerika Latin, di mana banyak umat mereka masuk ke aliran ini. Bahkan tiga perempat yang disebut Kristen Protestan di Amerika Latin saaat ini adalah gereja Pentakosta. Amrika Latin adalah rumah besar bagi gerakan Pentakosta.

 

Jika dulu orang berkata asal gereja maka gereja cukup terbagi tiga Katolik, Prostestan dan Ortodoks Timur. Hari ini pembagian itu sudah tidak relevan lagi dan tidak bisa lagi ditelusuri asal muasalnya karena mereka sudah menjadi begitu banyak gerakan baik dari Pentakosta serta Kharismatik dan sejumlah gereja independen. Jadi jika membayangkan gereja itu seperti pohon maka dia sudah rimbun sekali karena terlalu banyak cabangnya. Tentu yang paling menonjol adalah gerakan Pentakosta. Berapa jumlahnya saat ini di dunia? Diperkirakan lebih dari 600 juta anggotanya di seluruh dunia dan itu nomor dua terbesar setelah Katolik. Gereja Katolik menjadi besar sekali membutuhkan beberapa abad sejak upaya mencari daerah baru yang disebut Padroado. Tapi gerakan Pentakosta hanya membutuhkan 100 tahun untuk menjadi kedua terbesar dalam sejarah kekristenan. Apa yang menjadi rahasianya sampai pemimpin Katolik pun turun tangan mempelajari dan mengadopsi ajaran ini?

 

Dengan kata lain apa karakteristik Pentakosta? Walaupun memiliki pandangan beragam ajaran, ada beberapa karakteristik dasar yang ada padanya yaitu Gerakan Pentakosta percaya kepada karya Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul masih berlaku sampai saat ini, termasuk berbahasa roh, seluruh karunia serta tanda dan mujizat. Gerakan ini percaya kepada kesembuhan ilahi, percaya kepada nubuatan yaitu kata-kata hikmat dan pengetahuan yang mana Roh Kudus memimpin gerejaNya hari ini. Ibadah mereka sangat bersemangat dengan alat musik band lengkap, menyanyi dengan bersorak yang disertai tepuk tangan, angkat tangan dan melompat yang penuh antusiasiasme. Banyak yang bertanya, fenomena apakah hal seperti ini? Mengapa bisa menarik begitu banyak orang di abad ke 21 ini? Tentu akan ada banyak analisisnya. Belum ada studi komprehensif tentang gerakan ini, tapi sudah banyak kajian internasional terhadap fenomena global gerakan Pentakosta ini. Yang jelas teologi mereka sederhana namun mereka sangat bergantung kepada kuasa Roh Kudus. Keyakinan mereka akan Roh Kudus sama berkuasanya dari zaman gereja mula-mula sampai sekarang membuat mereka berbeda dengan gerakan pendahulunya.

 

Di Indonesia sendiri gerakan Pentakosta tiba sudah sejak tahun 1921. *) Dulu jika menyebut kata Pentakosta di kampung saya di Toraja pasti langsung disebut sekte yaitu istilah halus untuk bidat, namun hari ini gerakan ini menjadi gerakan yang besar dan berpengaruh di Indonesia. Bagi yang belajar misiologi akan tercengang melihat fenomena perkembangannya di Indonesia. Bahkan hampir setengah populasi Kristen di Indonesia adalah Pentakosta dan Kharismatik, walaupun tidak ada data komprehensif dan akurat yang menjelaskan jumlah mereka. Walaupun demikian secara kasat mata mereka yang menguasai media dan tempat ibadah yang strategis. Bila di awal kedatangan Pentakosta mereka melayani kaum marjinal, maka saaat ini mereka sudah masuk ke semua lini sosial masyarakat dari rakyat jelata sampai konglomerat. Mereka pun aktif berpolitik di Indonesia dan nampak lebih aktif bersuara di media daripada lembaga-lembaga seperti PGI dan KWI yang sudah lama menjadi partner pemerintah. Tentu kita masih menunggu banyak tulisan-tulisan tentang gerakan ini di Indonesia, namun sudah sepatutnya gereja-gereja tidak mengabaikan fenomena ini.

 

Pelajaran apa yang bisa diambil GKII dari gerakan global yang fenomenal ini? GKII dapat dipulihkan menjadi gerakan besar jika kita bersedia mendengarkan dan mau belajar dari gerakan ini yang memiliki keyakinan yang kokoh akan otoritas firman Tuhan, penuh gairah dalam mengabarkan Injil dan mencari jiwa, dan memiliki komitmen yang dalam kepada sentralitas Yesus Kristus dan percaya kepada kuasa Roh Kudus yang masih bekerja sampai saat ini. Walaupun kita harus tahu memilah kebenaran, tapi gereja harus saling belajar dan memperkaya diri dengan saling mendengarkan dan bukan saling mencela dan mengkritik satu kepada yang lainnya, karena semua pergerakan yang ada pasti ada maksud Tuhan di balik itu (DR).

 

Sumber Penulisan:

*) Studi nukilan sejarah tentang Pentakostalisme di Indonesia juga bisa dibaca salah satunya dari tulisan Cornelis van der Laan, “Mutual Influences of Indonesian and Dutch Pentacostal Churches” di Jurnal GEMA Vol. 36, No. 1, April 2012 : 95–126 tersedia di
http://ukdw.ac.id/journal-t…/…/gema/article/viewFile/138/pdf diakses tanggal 8 Agustus 2017.

Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).