Author: GKII

Oleh: Daniel Ronda

Hari ini Korea dikenal sebagai negara yang pertumbuhan kekristenannya sangat pesat dan juga pengirim misionari terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Korea saat ini bukan hanya menjadi negara maju secara ekonomi tapi juga kaya dengan sejarah misi. Bagaimana sebenarnya Injil mula-mula masuk Korea dan sampai berkembang di sana? Ada cerita unik di dalamnya yang dapat jadi pelajaran.

 

Pada awalnya Korea adalah sebuah kerajaan yang dipimpin pemimpin agama yang tinggal di biara-biara. Negara ini termasuk lemah sehingga sering dijajah dan diserang negara tetangga baik oleh China maupun Jepang. Korea akhirnya menjadi negara yang sering terisolasi dari negara luar karena serangan yang bergiliran dari negara tetangga.

 

Sejarah penjajahan awal terbesar yang dicatat adalah serangan tentara Jepang tahun 1592 yang dipimpin Toyotomi Hideyoshi yang mengirim sembilan batalyon untuk menghancurkan Korea. Dari peristiwa itu Jepang banyak mengambil pria Korea dibawa ke Jepang untuk dijadikan budak tawanan dalam kamp penjara Jepang. Yang menarik pada saat itu pemerintah Jepang memberikan izin bagi imam-imam Yesuit Katolik untuk bekerja di kamp tawanan itu. Salah satu Pastor Yesuit yang melayani di kamp itu adalah Pastor Frois (1532-1597). Dia melaporkan kurang lebih dalam kamp di mana dia bekerja ada 300 orang Korea di Nagasaki. Itu baru satu dari sekian banyak kamp tawanan untuk orang Korea. Yang menarik tidak ada orang Korea di tanahnya yang menjadi Kristen. Namun dalam tawanan di negara lain mayoritas tawanan Korea menjadi Kristen. Cuma sungguh menyedihkan karena iman itu pula pada akhirnya mereka dihukum mati dan lewat konfirmasi Perintah atau Dekrit Pemerintah Jepang tahun 1614 (1614 Edict) bahwa ratusan tawanan Korea dihukum mati karena mereka memilih menjadi Kristen. Jadi alasan mereka dibunuh karena iman mereka kepada Kristus. Sungguh ironi bahwa mereka sudah mati sahid dan menjadi martir karena iman mereka sebelum ada orang Kristen di tanah Korea sendiri.

 

Sejarah kemudian berlanjut ke China, di mana kekristenan justru masuk ke Korea lewat China. Adalah duta besar Korea untuk China bernama Chung tu-won sekitar tahun 1770 membawa ke Korea buku karya Matteo Ricci yaitu “Tianzhu atau Pengajaran yang Benar tentang Tuhan di Sorga”. Buku-buku Matteo Ricci yang dibawa ke Korea banyak beredar dan dibaca di China dalam tahun-tahun itu. Itu yang membuat ilmuwan muda Korea datang ke China dan salah satunya bernama Yi Pyok. Di Korea ada gerakan intelektual yang dikenal dengan nama Sekolah Shilhak (Sekolah untuk Pelajaran Praktis). Gerakan ini sangat tertarik mempelajari hal-hal yang datang dari dunia Barat. Mereka mulai membuka diri untuk belajar dunia filsafat dan berbagai keilmuan dari luar Korea. Pada tahun 1783 gerakan Sekolah Shilhak ini minta kepada Yi Sang-hung (Lee-Seung-hun), anak dari duta besar, meminta kerajaan China mengizinkan mereka mengunjungi markas misi Katolik di China untuk dapat belajar tentang kekristenan. Lalu Yi yang saat itu berusia 27 tahun belajar kekristenan di bawah Pastor Yesuit dan dibaptis di Beijing sebelum kembali ke Korea. Yi kembali ke Korea tahun 1784 dengan nama baptis Peter Seung-hun. Dialah yang membawa kekristenan ke Korea dan membawa buku-buku literatur Kristen dalam bahasa Mandarin untuk diterjemahkan. Buku-buku ini kemudian dibagikan ke gerakan Sekolah Shilhak untuk dipelajari. Para intelektual dan ilmuwan muda yang mempelajari kekristenan ini mencapai kesimpulan bahwa kekristenan jika diajarkan di Korea akan membawa keuntungan bagi orang Korea karena menurut mereka bahwa etika kekristenan tidak beda dengan etika Konghucu (Confucian). Lewat pengajarannya Peter Seung-hun membaptis pertama orang Korea di tanah Korea yang bernama Lee Pyok yang kemudian diberi nama baptis Yohanes Pembaptis. Mereka lalu terus mengembangkan kekristenan sehingga banyak yang dibaptis dan kemudian mereka melatih para imam. Lagipula pihak kerajaan Korea sangat positif menyambut kekristenan dan mengizinkan perkembangan pelayanan Injil di tanah Korea. Inilah kisah awal kekristenan di Korea di mana nanti saya akan lanjutkan menulis tentang pelayanan misi Kristen Protestan di Korea.

 

Pelajaran yang bisa diambil untuk GKII dalam bulan misi sebagai berikut: pertama, kekristenan ternyata lebih mudah tumbuh jika mereka keluar dari akarnya walaupun harganya mahal yang harus dibayar. Ini mengingatkan pentingnya pelayanan Diaspora bagi saudara-saudara kita yang sedang mencari nafkah di luar negeri. Mari kita mendoakan dan mendukung pelayanan diaspora ini terutama di Hongkong di mana ada 150 ribu orang Indonesia di sana. Kita mendoakan rencana pembukaan pelayanan di Taiwan di mana ada 250 ribu saudara-saudara kita di sana. Ini belum termasuk di negara-negara lainnya.

 

Kedua, para penginjil mula-mula bukanlah orang asing tapi orang Korea asli. Itu berarti pentingnya pelatihan tenaga lokal bagi pelayanan penginjilan dan pengutusan. Bahkan literatur yang digunakan adalah dari China. Ini pelajaran tentang pentingnya pelayanan literatur dalam pelayanan misi. Jangan anggap sepele buku atau traktat yang baik dan menarik. Peran penerbitan sangat diperlukan dalam PI. Teknik menggunakan buku dan traktat masih perlu dipelajari oleh para penginjil sebagai penopang pelayanan. Tentu tidak sembarangan kita membaginya tapi sangat penting dimiliki oleh para penginjil karena banyak orang yang bukan saja imannya tumbuh karena mendengar tapi juga karena membaca (DR).

 

Catatan: Bulan Agustus sebagai Bulan Misi GKII

 

Sumber bacaan: Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).

Departemen PI & Pengutusan GKII

Tema :

Bangkit Menjadi Gereja Pengutus
(Yohanes 17:18)

Sub Tema:

Melalui bulan misi, GKII bangkit menyukseskan proyek misi penginjilan, baik di daerah, di wilayah, dan di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri.

Oleh: Daniel Ronda

Banyak tulisan-tulisan misi dan khotbah misi menyebutkan bahwa William Carey adalah Bapak Misi Modern dalam dunia Kristen Protestan. Padahal gereakan misi Protestan sudah dimulai jauh sebelum William Carey. Itu dimulai oleh seorang bernama Count Nicolaus von Zinsendorf dengan membuat gerakan penginjilan Moravia.

 

 

Gerakan misi Moravia lahir pada abad ke 17 dan berkembang sampai abad ke 18 di tengah-tengah munculnya kebangkitan sebuah gerakan yang terkenal dalam sejarah gereja yaitu Pietisme. Pietisme adalah sebuah gerakan kebangunan kesalehan atau kesucian hidup yang mengutamakan saat teduh atau meditasi pribadi, doa-doa pribadi atau kelompok, penelaahan Alkitab atau PA, khotbah yang hidup, dan memberikan peran besar kepada kaum awam berperan dalam gereja. Tokoh kunci dari gerakan Pietisme adalah Philip Jacob Spener dengan buku klasik yang sangat terkenal yaitu “Pia Desideria” (Keinginan yang Suci) yang diterbitkan tahun 1675. Buku ini wajib dibaca sampai sekarang bagi mereka yang mau mendalami sejarah spiritualitas gereja. Gerakan Pietisme ini sangat mempengaruhi banyak gereja dan tokoh dan mungkin tidak akan dibahas dalam tulisan ini karena fokus kepada tulisan misi. Namun harus dicatat bahwa gerakan Reformasi tidak menghasilkan pengiriman tenaga penginjil karena memang konteksnya adalah sibuk berhadapan dengan serangan dari gereja Roma Katolik waktu itu. Nanti dua abad kemudian, akibat pengaruh gerakan Pietisme ini maka Lembaga Misi Danish-Halle mengirim Bartolomeus Ziegenbalg dan Henry Plutschau ke India tahun 1705. Itu contoh pengaruh Pietisme yang menghasilkan gerakan misi. Namun fokus kita kepada Zinzendorf yang akibat dari gerakan Pietisme ini menghasilkan gerakan pertama dalam Protestantisme yaitu gerakan penginjilan Moravia.

 

Zinzendorf (1700-1760) lahir sebagai orang Kristen di bawah pengaruh dari gerakan Pietisme. Sejak kecil sampai remaja dewasa dihabiskan di Halle, Jerman di mana dia sangat dipengaruhi oleh tokoh Pietisme di Jerman yaitu Auguste Francke. Lahir dari keluarga kaya maka di tahun 1722 dia membeli tanah yang begitu luas di Berthelsdorf (Jerman di bagian Timur) yang dipakai untuk menampung pengungsi Kristen dari Bohemia dan Moravia (sekarang daerah Moravia adalah Negara Ceko). Mereka ditampung karena dianiaya oleh gereja Roma Katolik dan terusir dari kampung halamannya.

 

Gerakan Moravia ini juga sebenarnya memiliki akar dari suatu gerakan Hussite di abad ke-14. Gerakan ini disebut gerakan Pra-Reformasi karena pendirinya John Hus adalah orang pertama yang mengkritik kesewenangan Roma Katolik. Lalu kelompok ini membuat suatu gerakan disebut Kesatuan Persaudaraan (Unity of the Brethren atau Unitas Fratrum). Gerakan protes ini karena sering dianiaya akhirnye menjadi gerakan bawah tanah. Pada tahun 1722 mereka mengungsi ke tanah yang disediakan oleh Zinzendorf. Di tanah pengungsian ini gerakan ini mencapai lebih dari 300-an orang yang kemudian berganti nama dan menyebut diri mereka Komunitas Herrnhut (Tuhan mengawasi).

 

Tanggal 13 Agustus 1727, komunitas ini menerima pencurahan Roh Kudus yang sangat hebat sehingga menyebabkan adanya perubahan dahsyat dalam komunitas ini. Digambarkan bahwa situasinya seperti peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul sehingga mereka hidup bersehati, berbagi bersama, berdoa dengan penuh semangat, penyerahan hidup kepada Yesus dan komitmen untuk penginjilan, serta ada pemulihan kembali yang begitu berapi-api. Lalu dari komunitas ini terbentuklah gereja Moravia dengan gerakan penginjilannya di mana diangkat Zinzendorf sebagai pemimpinnya. Lewat peristiwa ini, Zinzendorf memobilisasi gerakan penginjilan ke seluruh dunia di mana sejak itu mereka mulai mengirim sampai ratusan penginjil ke berbagai negara seperti Karibia, Amerika Utara dan Selatan, Kutub Utara, Afrika, Timur Tengah, dan India.

 

Dari sejarah gerakan ini ada beberapa hal yang bisa kita ambil untuk bulan misi GKII. Pertama, gerakan Moravia bukan hanya semangat mengirim penginjil keluar tapi berkomitmen berdoa dengan sungguh untuk pelayanan penginjilan. Sejak peristiwa 13 Agustus 1727 di mana Tuhan melawat komunitas ini, maka mereka berkomitmen untuk berdoa tiada henti dan disebutnya sebagai “Tembok Doa atau Prayer Wall”. Mereka berdoa secara bergiliran untuk penginjilan selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan mereka berdoa tanpa putus selama lebih dari 100 tahun!!! Inilah abad keemasan misi Protestan yang lahir dari doa-doa yang tiada putusnya dari gerakan Moravia.

 

Pelajaran kedua, mereka terbiasa menderita akibat aniaya Roma Katolik. Itu sebabnya di lapangan mereka menjadi sangat tangguh karena siap bayar harga. Ada misionari Leonhard Dober (1706-1766) rela berjalan ratusan kilometer untuk melayani dan siap membiayai diri sendiri. Dober contohnya, hidup dengan berdagang dan pergi ke Karibia untuk melayani para budak asal Afrika. Di sana para misionari mampu bertahan dalam kondisi yang sangat jelek dan bahkan mengubah komunitas di sana dan menjadikan kekristenan bertumbuh pesat. Mereka tahan menderita dan sanggup membiayai diri mereka sendiri. Dengan kata lain gerakan ini sangat hebat menjangkau orang miskin dan terpinggirkan karena memang mereka sudah terbiasa dalam penderitaan.

 

Ketiga, gerakan Moravia juga memobilisasi kaum awam untuk terlibat PI. Penginjilan bukan hanya tugas pendeta tapi tugas semua orang dan mereka terus menggerakkan kaum awam untuk terlibat. Bagi mereka tidak pembagian kelas dalam tugas pelayanan karena panggilan berkat Tuhan adalah untuk semua umatNya.

 

Akhirnya, walaupun gerakan ini bukan gerakan dahsyat karena memang Gereja Moravia saat ini bukan gereja yang besar, tapi tokoh-tokoh besar bertobat karena melihat kehidupan dan pengajaran Kaum Moravia ini. Sebagai contoh John Wesley dan William Carey yang dalam buku mereka mengisahkan bahwa pertobatan mereka karena akibat dari melihat kehidupan Kaum Moravia. Kiranya ini menginspirasi semangat doa kita dan siap bayar harga untuk melaksanakan misi (DR).

 

Catatan: Bulan Agustus sebagai Bulan Misi GKII

 

Sumber bacaan: 1) Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).

Oleh: Daniel Ronda

Tomas dikenal dengan julukan “Tomas si Peragu”. Ceritanya begini, Yesus sudah bangkit dan akan naik ke surga. Mandat pengutusan misi sudah diberikan. Dalam Injil Yohanes, Tuhan Yesus menjumpai murid-muridNya dan memberi perintah, “Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Namun sayang sekali dalam catatan Injil Yohanes, malam itu Tomas tidak ada (20:24). Ketika kemudian dikabarkan kepada Tomas bahwa Tuhan sudah bangkit, dia mengatakan bahwa kecuali saya melihat tangannya yang terpaku dan mencucukkan jari pada tangan itu maka Tomas menyatakan bahwa dia tidak akan percaya (20:25). Ini yang selalu diingat dalam sejarah sehingga oleh para pengkhotbah menjulukinya sebagai Tomas si peragu alias belum mau percaya. Tapi banyak pengkhotbah yang lupa bahwa satu minggu kemudian Tomas mengeluarkan pernyataan yang paling berharga untuk menyatakan ketuhanan Kristus di mana ketika akhirnya dia berjumpa Yesus dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku” (20:28).

 

Cerita Injil berhenti sampai di sini, tapi dalam tradisi gereja tidak demikian. Ada banyak manuskrip tradisi yang menceritakan kelanjutan perjalanan Tomas sebagai penginjil. Salah satu manuskrip yang dapat dipercaya adalah “Acts of Thomas” yang ditulis di sekitar abad ketiga. Tomas dikisahkan pergi ke India. Salah satu dalam manuskrip itu diceritakan bahwa para murid Yesus sepakat untuk berpencar mengabarkan Injil sampai ke seluruh dunia. Lalu dikatakan bahwa mereka membuang undi nama-nama yang harus didatangi. Tomas mendapat tugas pergi ke India, sebuah rute perjalanan perdagangan ke Timur. Dalam manuskrip itu dikatakan bahwa dia sempat menolak karena dia memiliki masalah kesehatan (dalam istilah di manuskrip kelemahan dalam daging). Tapi Tuhan Yesus menampakkan diri dalam penglihatan mimpinya untuk pergi dan berjanji menyertai Tomas. Lalu dia berangkat dengan kapal yang merupakan rute perdagangan ke India dan tiba tahun 52 Masehi di India. Dia mengabarkan Injil dengan setia di berbagai tempat di India sampai akhirnya dia mati sahid dan dikuburkan di Chennai (nama tempat itu sekarang di India).

 

Mungkin tradisi manuskrip ini tidak dapat disejajarkan dengan Injil sehingga kita hanya ambil sejarahnya. Tapi pada sisi lain, ada bukti arkeologis yang ditemukan di India dan berbagai tradisi independen di India (bukan Kristen) mencatat ada kedatangan Rasul Tomas, dan bagaimana orang itu disembuhan, berapa banyak yang disembuhkan, adanya penyakit sampar di masyarakat dan adanya mujizat lawatan Tuhan, ada jumlah orang yang percaya dan asal kasta mereka. Semua itu persis jika digabungkan manuskrip di Barat dengan tradisi serta temuan arkeologis di India. Termasuk catatan tentang kematiannya di mana dia dibunuh di sebuah bukit yang dikenal sekarang dengan nama Bukit Tomas. Sampai hari ini ada orang Kristen di India dijuluki Kristen Rasul Tomas (Mar Thoma Nazranis). Ini membuktikan bahwa tidak ada keraguan sedikitpun bahwa Tomas memang sampai di India dan setia mengabarkan Injil sampai mati.

 

Ada pelajaran yang bisa diambil dari sini. Pertama, bahwa pemberitaan Injil sampai ke seluruh dunia sangat serius dipercayai oleh para murid. Dalam keterbatasan mereka saat itu mereka tetap berkomitmen membawa Injil kepada segala bangsa. Mereka sadar bahwa ketaatan kepada Yesus adalah segalanya dan itu mengandung nilai kekekalan yang luar biasa dalam hidup mereka. Memang Injil lebih mudah terlihat jejaknya di dalam wilayah kekaisaran Roma karena Paulus memberitakan Injil ke Barat (Eropa) tapi tidak sedikit para penginjil di awal sudah siap bawa Injil ke Timur di mana kemudian diikuti para penginjil yang pergi ke Siria, tanah Arab sampai ke China. Sudah waktunya GKII bangkit memikirkan misi kepada bangsa-bangsa secara serius dan bukan hanya sibuk dengan program internal dan perayaan yang begitu banyak memakan biaya dan waktu.

 

Kedua, janji penyertaan Tuhan sempurna bagi para penginjil yang sungguh taat kepada amanat Agung. Tomas pergi dalam segala kelemahannya dan tidak ada pengutus. Tetapi kuasa Tuhan menyertai mereka dengan dahsyat. Penggenapan Markus 16 bahwa mereka yang pergi akan menyaksikan kuasa, mujizat dan tanda yang ajaib. Tomas menyaksikan dan mengalami bagaimana Tuhan setia pada janjiNya untuk menyertai dengan tanda dan mujizat. Para hamba Tuhan GKII harus percaya kepada kuasa penyertaan Tuhan ini masih berlaku sampai hari ini. Tinggal bagaimana komitmen kita untuk setia dalam pekabaran Injil kepada bangsa-bangsa (DR).

 

Catatan: Bulan Agustus sebagai Bulan Misi GKII

 

Sumber bacaan: 1) Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).
2) “Thomas the Apostles”, Wikipedia, diakses tanggal 18 Juli 2017, tersedia di www.wikipedia.org/wiki/Thomas_the_Apostle#Saint_Thomas_Cross

Oleh: Daniel Ronda

Ketika memasuki bulan Misi dalam lingkup GKII, sering kita mencari siapa tokoh-tokoh misi besar yang hendak kita presentasikan atau khotbahkan. Kita menyiapkan ayat Amanat Agung dan murid-murid Yesus sebagai teladan. Kita tidak luput menyiapkan tokoh Paulus dan para hamba Tuhan dalam gereja mula-mula. Lalu di zaman moderen ini kita mempersiapkan nama-nama besar mulai dari William Carey, A.B. Simpson sampai R.A. Jaffray. Mereka tokoh hebat yang memenangkan ratusan bahkan ribuan percaya kepada Kristus.

 

Namun gerakan misi dahsyat tidak semata-mata lahir dari orang hebat-hebat. Bisa jadi lahir dari orang biasa bahkan tidak disebutkan namanya. Ini kisahnya terdapat dalam Kisah Para Rasul yaitu misionari tanpa nama.

 

Adalah sekelompok orang murid yang berasal dari Pulau Siprus dan sebuah kota di Afrika Utara yaitu Kirene. Merekalah yang pertama-tama keluar memberitakan Injil kepada orang Non-Yahudi di mana orang yang diinjili tidak ada sama sekali latar belakang Yahudinya. Dalam Kisah Para Rasul dijelaskan bahwa gereja mengalami aniaya sampai akhirnya Stefanus dibunuh (Kis 8). Akibat dari aniaya ini, kekristenan yang berpusat di Yerusalem akhirnya keluar terpencar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia (Kis 11:19). Mereka semua keluar memberitakan Injil. Namun ada catatan khusus, di mana Kis 11:20 dikatakan bahwa: “Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan”. Mereka ini tanpa disebutkan namanya setia memberitakan Injil kepada orang Yunani tanpa latar belakang Yahudi. Tuhan memberkati penginjilan ini dengan dikatakan: “Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan (ayat 21). Bayangkan, jumlah besar bertobat tapi tidak disebutkan sama sekali namanya. Inilah asal muasal adanya gereja di Antiokhia dan beberapa tahun kemudian gereja ini menjadi gereja pengutus dengan mengutus Paulus untuk melaksanakan tugas misinya (Kis 13:1). Paulus membawa Injil kepada dunia. Semua ini karena apa sekelompok penginjil tanpa nama!

 

Refleksi: Dalam bulan Agustus mendatang ketika GKII sedang melaksanakan bulan misi, mari kita libatkan orang-orang yang mungkin dipikirkan hanya orang biasa dalam jemaat. Sejatinya Tuhan mau pakai mereka yang disebut orang biasa untuk menjangkau jiwa-jiwa terhilang. Orang yang mungkin disebut biasa, jika digerakkan dan diberikan pelatihan serta mandat pengutusan akan menjadi orang yang dapat mengubahkan dunia. Lihat kembali catatan dalam Kisah Para rasul 15, ketika gereja di luar Yerusalem jauh membesar sehingga memaksa para Rasul bersidang dan singkat cerita memutuskan bahwa kekristenan tidak harus melewati tata cara Yahudi. Ini menjadi suatu yang sangat signifikan dalam dunia misi dan semua itu terjadi karena ada sekelompok orang biasa tanpa nama yang dengan berani keluar memberitakan Injil bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.

 

Selamat menyambut bulan Misi dalam lingkup GKII. Serukan GKII Bangkit menjadi gereja pengutus misi!

 

Sumber bacaan: Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).

Para Pelayan Anak dapat menghadiri “Temu Raya Pelayan Anak GKII” dengan mendaftar pada Komisi (Kopara) dan Biro (Bipara) di Daerah dan wilayah masing-masing. Lihat waktu pendaftaran dan pelaksanaan.

 

(Matius 6:25-34)

Oleh: Pdt. Dr. Nyoman Enos, M.Th.

 

I. INTRO

  • Tuhan mau kita hidup tanpa kekuatiran (1 Korintus 7:22).
  • Hidup yang penuh kekuatiran sama dengan hidup tanpa iman (Matius 6:27).
  • Kekuatiran adalah suatu kecemasan yang dapat mengacaukan tujuan hidup kita.

II. ASAL USUL KEKUATIRAN

  1. Menurut perjanjian lama, kekuatiran berasal dari ketidak taatan kita kepada Firman Tuhan (Ulangan 28:66).
  2. Menurut perjanjian baru, kekuatiran berasal dari tidak hadirnya Kerajaan Surga yaitu kebenaran, sukacita dan damai sejahtera dari Roh Kudus (Matius 6:33 & Roma 14:17).
  3. Menurut Tuhan Yesus, tidak adanya Iman dalam hati (Matius 6:27).

III. AKIBAT KEKUATIRAN

  1. Melumpuhkan semangat (Amsal 24:10)
  2. Menimbulkan ketakutan (Hakim-Hakim 7:3)
  3. Mendatangkan penyakit bungkuk (Amsal 12:25)
  4. Menggagalkan pertumbuhan iman Kristen (Matius 13:22 & Markus 4:19)

IV. MENGATASI KEKUATIRAN

  1. Memiliki Kebenaran Allah (Matius 6:33)
  2. Percaya kepada Yesus (Kis 16:31) dan bertobat (Kis 5:31)
  3. Menyerahkan diri dan berdoa (1 Petrus 5:7)

V. PENUTUP

Berhentilah berbuan dosa, maka kekuatiran akan hilang.

(Markus 8:22-26)

Oleh: Pdt. Dr. Nyoman Enos, M.Th.

 

I. INTRO

Kampung Betsaida, Khorazim dan Kapernaum adalah perkampungan orang Yahudi yang keras kepala. Tuhan Yesus melakukan banyak sekali mujizat di kampung ini dengan tujuan supaya orang Yahudi di kampung ini bertobat dari dosanya, tetapi orang Yahudi tersebut tidak mau bertobat. (Lukas 10:13-16). Tuhan Yesus menegur kampung ini dengan keras. Dalam Markus 8:22-26, Tuhan Yesus di kampung Betsaida, sedang mengadakan mujizat.

 

II. LANGKAH-LANGKAH AGAR KITA BISA MENGALAMI MUJIZAT TUHAN

  1. Ikutilah Pimpinan Tuhan (Markus 8:23)
    • “Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung..”
  2. Berserah sepenuhnya kepada Yesus (Markus 8:23)
    • “Yesus meludahi mata orang buta itu…”
    • Orang buta itu tidak boleh marah karena diludahi matanya oleh Yesus.
  3. Mengandalkan Tuhan Yesus sepenuhnya (Markus 8:24-25)
    • Sudah dipegang oleh Tuhan Yesus
    • Sudah diludahi oleh Yesus, mujizat belum terjadi
    • Si buta tetap mengandalkan Tuhan Yesus
    • Orang yang mengandalkan Tuhan pasti diberkati (Yermia 17:7)
  4. Orang buta ini sembuh setelah dia mengikuti 3 langkah, yaitu:
    • Mengikuti pimpinan Tuhan.
    • Berserah sepenuhnya kepada Tuhan.
    • Mengandalkan kuasa Tuhan sepenuhnya.

 

III. PENUTU

Jadi kita semua bisa mengalami mujizat Tuhan bila kita:

  1. Mengikuti pimpinan Tuhan
  2. Berserah sepenuhnya kepada Tuhan
  3. Mengandalkan kuasa Tuhan sepenuhnya

Amin.

(Lukas 18:1)

Oleh: Pdt. Dr. Nyoman Enos, M.Th.

 

A. TELADAN TUHAN YESUS DALAM BERDOA

  1. Tuhan Yesus berdoa pagi-pagi benar (Markus 1:35).
  2. Tuhan Yesus berdoa sepanjang malam (Lukas 6:12).
  3. Berdoa di bukit sampai malam seorang diri. (Matius 14:23).
  4. Berdoa khusus untuk Petrus supaya imannya tidak gugur (Lukas 22:31-32).
  5. Berdoa untuk rasul-Nya supaya imannya teguh (Yohanes 17:1-26).
  6. Mengajarkan bentuk doa yang benar kepada para murid-Nya dan para pengikut-Nya. (Matius 6:9-13)
  7. Doa di Taman Getsemani saat menghadapi salib Bersama para murid-Nya sampai keluar peluh-Nya menjadi seperti titik darah yang bertetesan ke tanah (Markus 14:32-42 & Lukas 22:44).
  8. Berdoa saat menderita di kayu salib bagi musuh-Nya (Luas 23:34).
  9. Nasehat Tuhan Yesus, berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan (Matius 26:41).

B. APLIKASI

  1. Teladan telah diberikan oleh Tuhan Yesus dalam berdoa.
  2. Marilah kita sebagai hamba Tuhan melipat gandakan semangat doa yang benar.
  3. Bila orang benar itu berdoa atau berseru-seru, Allah menjawabnya (Mazmur 34:18).
  4. Pekerjaan Allah harus ditopang doa oleh hamba Tuhan.
  5. Berhenti berdoa atau malas berdoa adalah dosa (2 Samuel 12:23).
  6. Segala sesuatu ada karena doa orang percaya.

 

Amin

(Yohanes 6:54-58)

Oleh: Pdt. Dr. Nyoman Enos, M.Th.

 

“makan daging-Ku dan minum darah-Ku” artinya adalah percaya dan menerima pengorbanan  kematian Tuhan Yesus sebagai korban penghapus dosanya.

 

A. MANFAAT

  1. Mempunyai Hidup kekal selamanya (Yoh 6:54 & 58)
  2. “ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh 6:56)
  3. Ia memiliki hak ikut kebangkitan pertama (Yoh 6:54 & Wahyu 20:5-6)

B. KESIMPULAN

Mereka yang makan daging dan minum darah Kristus akan:

  • Memiliki hidup kekal
  • Memiliki hak dibangkitan pada kebangkitan pertama
  • Memiliki kemanunggalan kekal dengan Allah.