sejarah

Kehadiran Gereja Kemah Injil Indonesia

Kehadiran Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) berawal dari visi Dr. Albert Benyamin Simpson, pendiri The Christian and Missionary Alliance yang merupakan cikal bakal dari Gereja Kemah Injil Indonesia. Albert Benyamin Simpson seorang keturunan Skotlandia, lahir pada tahun 1843 di Kanada dan dibaptis di Gereja Presbiterian Kanada ketika ia masih bayi. Pada tahun 1865, Benyamin ditahbiskan menjadi Pendeta Gereja Presbiterian tersebut. Ketika Simpson melayani jemaat Presbiterian di Louisville, Amerika Serikat, ia mendapat penglihatan yang telah meninggalkan kesan mendalam di hatinya dan tidak pernah terlupakan dari ingatannya. Dalam penglihatannya, Simpson melihat dengan jelas beribu-ribu orang dari berbagai suku bangsa sedang memandang kepadanya, seolah-olah mereka minta tolong kepadanya namun mereka sama sekali tidak mengatakan apa-apa.

Pada tahun 1879, Simpson dipindahkan dari Gereja Presbiterian Louisville ke gereja yang sama di New York. Sebelum Simpson pindah ke sana, ia meminta persetujuan dari para pemimpin di Louisville untuk mendukungnya dalam program penginjilan. Di kota New York, banyak sekali orang yang belum pernah masuk gereja. Mereka seperti domba yang terhilang, berkeliaran tanpa gembala. Simpson bertekad untuk memberitakan injil Yesus Kristus kepada mereka. Untuk melaksanakan kerinduan yang mulia ini, nampaknya Allah menghendaki agar Simpson sendiri perlu dikuduskan melalui suatu pengalaman rohani.

Pada suatu malam dalam kamarnya di New York, Simpson merasakan kerinduan dan kehausan yang amat sangat akan Allah, ia bergumul di dalam doanya, ia mengalami apa yang disebutnya pengudusan yaitu penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, sekaligus dipenuhi dengan Roh Kudus. Simpson menulis demikian:

Dulu saya mengira bahwa orang Kristen dikuduskan seluruhnya hanya pada saat ia menghadapi kematian, sebagai persiapan untuk masuk sorga. Waktu itu saya tidak mau dikuduskan, karena saya berpikir jangan-jangan saya akan cepat mati! Tetapi Tuhan Yesus berfirman bahwa kita dikuduskan untuk melayani Dia sekarang ini – di dunia ini.

Melalui pengalaman rohani ini, Simpson melangkah maju dalam pengenalannya akan Allah. Simpson merasakan kuasa Allah dengan cara yang tidak pernah dialaminya sebelumnya. Sejak saat itu, Simpson berkata bahwa Yesus Kristus bukan saja menjadi penyelamatnya, tetapi juga pengudusnya. Peristiwa itu merupakan awal gerakan yang dahsyat dalam kehidupannya, sehingga ia termotivasi untuk melakukan pekerjaan Tuhan dengan sungguh-sungguh. Sementara semangatnya berkobar-kobar, di tengah kesibukannya dalam pelayanan semakin meningkat, kesehatan Simpson mulai terganggu. Syarafnya sering menjadi tegang dan denyut jantungnya semakin lemah. Akhirnya, kekuatan fisik Simpson menurun secara drastis sehingga untuk bergerak pun ia sudah tidak berdaya. Seorang dokter memberitahukan bahwa kesehatan Simpson tidak akan pulih, bahkan Simpson hanya menunggu ajalnya. Simpson pada masa itu, baru berumur 38 tahun. Iblis memanfaatkan situasi ini, terutama membuat Simpson patah semangat, tawar hati, putus asa dan bahkan tak berdaya.

Pada saat yang sangat kritis ini, Simpson mendengar kidung pujian yang kata-katanya berbunyi sebagai berikut: ”Yesus adalah Tuhan atas segala tuhan, tidak ada seorang pun yang dapat bekerja seperti Dia.” Kata-kata yang sederhana itu dipakai Tuhan untuk membangkitkan semangat dan iman Simpson. Kemudian ia bertemu dengan seorang dokter bernama Cullis, yang banyak menolong orang sakit hanya melalui doa. Simpson belajar tentang kesembuhan ilahi dari dokter tersebut. Pada suatu hari, ketika Simpson sedang berada sendirian di tempat yang sepi, Tuhan menjamahnya. Simpson merasakan di dalam tubuhnya terjadi suatu perubahan dan seketika itu juga ia disembuhkan. Sepertinya Tuhan memberikannya jantung yang baru. Karena jamahan Tuhan ini, Simpson yang tadinya dinyatakan akan mati, menerima kesembuhan yang sempurna. Sejak itu Simpson percaya Yesus Kristus adalah tabib sejati. Simpson bersaksi:

Setelah saya disembuhkan serta menjadikan Yesus Kristus yang utama dalam kehidupan saya, Tuhan memanggil saya untuk melakukan pekerjaan yang lebih besar lagi, yang menuntut waktu dan tenaga yang jauh lebih banyak daripada pelayanan saya sebelumnya. Saya menyadari bahwa saya tidak boleh bekerja dengan kekuatan saya sendiri, melainkan dengan kekuatan yang dari Allah. Kesaksian ini saya berikan semata-mata untuk kemuliaanNya saja.

Di New York, para gelandangan, peminta-minta, pemabuk, pelacur, dan penganggur sering tampak berkeliaran di sekitar gedung-gedung gereja yang mewah. Simpson merasa prihatin melihat mereka dan juga beberapa lingkungan di kota besar itu, yang penduduknya tidak pernah mengunjungi gereja mana pun. Simpson memberitakan Injil kepada mereka dan berhasil memenangkan beberapa orang di antaranya. Ketika ia mengusulkan kepada Badan Pengurus Jemaat, agar sekitar 100 orang kristen baru ini diterima sebagai anggota resmi, usulnya itu ditolak. Alasan yang diberikan adalah bahwa orang-orang kristen baru ini berasal dari golongan masyarakat rendah. Simpson mulai menyadari betapa sulitnya mencapai orang banyak kalau ia tetap berada di gerejanya. Setelah bergumul dalam doa selama satu minggu, Simpson akhirnya memutuskan untuk meminta izin keluar dari keanggotaan gerejanya dan menjadi penginjil lepas. Simpson berpisah dengan mereka dengan penuh pengertian. Kemudian Simpson memberitahukan maksudnya, bahwa ia ingin membuka pos penginjilan di antara orang-orang yang di luar jangkauan gereja itu. Ia menyewa sebuah ruangan di salah satu balai pertemuan yang letaknya mudah dijangkau oleh orang banyak.

Tuhan kemudian memakai Simpson secara luar biasa, sangat terbukti dari hasil pelayanannya di dalam jemaat-jemaat yang pernah digembalakannya. Namun hal itu tidak menjadikannya sombong. Simpson sama sekali tidak ingin dikenal sebagai pendiri sebuah gereja baru. Keputusan Simpson untuk menjadi seorang penginjil lepas pun sungguh merupakan suatu langkah iman. Dalam waktu delapan tahun, Simpson dan para pengikutnya dapat membangun sebuah tempat permanen sebagai rumah ibadat mereka. Uniknya rumah ibadat ini diberi nama tabernacle atau kemah.

Albert Benyamin Simpson membangun gedung gereja, tempat beribadat dengan memakai pola pembangunan seperti Kemah Sembahyang yang didirikan oleh Musa di padang gurun (Keluaran 25-27 dan 33:7 – Kemah Sembahyang disebut juga ”Kemah Suci” dan ”Kemah Pertemuan”). Walaupun keadaannya serba sederhana, namun Simpson yakin bahwa Allah tetap hadir dan berkenan ditemui di sana. Simpson percaya bahwa Yesus Kristus akan datang kembali ke dunia ini setelah semua bangsa diinjili (Matius 24:14 – dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya”).

Sebab itu yang paling penting bagi Simpson ialah penginjilan, bukan pembangunan. Ia berpendapat, lebih baik dana yang ada dipakai untuk mengirim utusan-utusan Injil ke pelosok-pelosok bumi, ke tempat-tempat yang belum mendengar tentang Yesus Kristus daripada membangun rumah ibadat yang megah. Inilah dasar pemikiran Simpson mendirikan dua buah Rumah Ibadat yang disebut KEMAH (Broadway Tabernacle (Kemah Broadway) dibangun pada tahun 1876 di Louisville, Amerika Serikat, dan the Gospel Tabernacle (Kemah Injil) dibangun pada tahun 1888 di New York). Dari sinilah asal-usul nama Kemah Injil atau The Gospel Tabernacle. Di Kemah Injil New York, Simpson mengajarkan Injil Empat Berganda yang sekarang menjadi Logo Gereja Kemah Injil Indonesia yang mengandung makna: Yesus Juruselamat, Yesus Pen gudus, Yesus Penyembuh atau Tabib danYesus Raja Yang Akan Datang.

Dr. R.A. Jaffray sama halnya dengan A.B. Simpson. Keduanya sama-sama keturunan Skotlandia, berkebangsaan Kanada, lahir dan dibesarkan dalam keluarga kristen, anggota Gereja Presbiterian. Keduanya juga sama-sama telah mendapat penglihatan khusus mengenai dunia orang-orang yang belum percaya Yesus dan bertindak berdasarkan penglihatan mereka itu sehingga melalui pelayanan mereka, di kemudian hari beribu-ribu orang bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.

 

Dr. R.A. Jaffray

Ketika masih muda, R.A. Jaffray pernah mendengar Simpson berkhotbah, dan saat itu juga Jaffray menyerahkan dirinya untuk siap pergi, melayani di luar negeri sebagai misionari (utusan injil). Kemudian Jaffray masuk Sekolah Alkitab Simpson dan setelah tamat serta mendapat pengalaman menggembalakan Jemaat, Jaffray memutuskan untuk memulai pelayanannya sebagai Misionari (Utusan Injil).

Surat Kabar GLOBE di Toronto Kanada, melaporkan upacara pelantikan dan penahbisan yang diadakan pada tanggal 20 Januari 1896 sebagai berikut:
Dr. Albert Benyamin Simpson dari New York telah mengambil bagian dalam kebaktian penahbisan dan pelantikan Robert Alexander Jaffray. Ia yang memimpin doa untuk utusan Injil yang akan pergi ke negeri Tiongkok ini. Suasana khdmat meliputi Bethel Chapel, Toronto, ketika tujuh orang Badan Pengurus Jemaat itu menunmpangkan tangan ke atas kepala duta Allah yang masih muda ini. Dengan kesungguhan hati Simpson menyerahkan Jaffray kepada Allah untuk pelayanan suci sebagai pendeta yang akan menggembalakan umatNya. Tidak sedikit di antara orang-orang yang hadir itu mengaminkan permohonan doa Simpson atas Jaffray, agar Tuhan memakai Jaffray bukan hanya untuk memenangkan pribadi-pribadi, tetapi juga bangsa-bangsa, bagi Kristus.

Allah menjawab doa yang disampaikan oleh A.B. Simpson, pendiri C&MA ini melalui pelayanan yang dilaksanakan oleh Robert Alexander Jaffray, di kemudian hari. Sejak dilantik menjadi utusan Injil pada tahun 1896, R.A. Jaffray melayani di Tiongkok Selatan selama kurang lebih 32 tahun;  Jaffray mendirikan Chinese Foreign Mission Union (CFMU); berhasil menanam Gereja; membangun sekolah Alkitab yang berpusat di Wuchouw dan membangun lembaga penerbitan khususnya untuk komunitas yang berbahasa Kanton (Cantonese). R.A. Jaffray mulai perjalanannya ke Indonesia (kepulauan Hindia Belanda) dan menjejakkan kakinya di Borneo (Kalimantan) pada tanggal 10 Februari 1928. Inilah perjalanan pertama Jaffray ke Indonesia untuk mengadakan Survey sekaligus memberitakan Injil.

Setelah kembali ke Tiongkok Selatan, maka untuk mewujudkan kerinduan Jaffray akan pelayanan dan tuaian yang sangat besar di Indonesia, terutama pelayanan yang diawalinya di Kalimantan – kota Samarinda dan Balikpapan dan sambil menunggu kedatangan para utusan C&MA yang sedang disiapkan di Amerika dan Kanada,  maka pada bulan Februari 1929, Jaffray membawa dua hamba Tuhan yang diutus oleh CFMU, suatu organisasi penginjilan yang didirikan oleh Jaffray di Tiongkok Selatan yaitu: Yason S. Linn dan Paul R. Lenn – mereka adalah tamatan dari Wuchow Bible School – untuk membantu pelayanan yang dimulainya di kalangan orang Tionghoa di Kalimantan Timur dan kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Pada bulan Juni 1929, R.A. Jaffray pergi ke Saigon, Vietnam untuk menyambut kedatangan rombongan pertama utusan C&MA yang dikirim dari Amerika dan Kanada ke Indonesia. Pada tanggal 29 Juni 1929, rombongan yang terdiri dari: George dan Anna Fisk, Wesley dan Ruby Brill serta David Clench – tiba di Surabaya, Jawa Timur. Tak seorang pun yang menduga bahwa di kemudian hari betapa luasnya pekerjaan Tuhan yang dimulai oleh C&MA di Indonesia. Setibanya di Surabaya, Jaffray yang fasih berbahasa Mandarin ini langsung mengadakan kontak dengan orang-orang Tionghoa. Keesokan harinya mereka mendapat kesempatan untuk melayani dalam kebaktian penginjilan di salah satu gereja Tionghoa (kemungkinan besar gereja inilah yang mendesak Jaffray untuk meminta agar dikirim seorang utusan injil. Penginjil T.H. Loh, lulusan Sekolah Alkitab Wuchow, dikirim dan menjadi CFMU/C&MA pertama ke pulau Jawa – menggembalakan jemaat Kanton di Surabaya itu).  Menurut catatan Jaffray, waktu kebaktian penginjilan dilaksanakan, ada enam (6) pria yang menyerahkan diri untuk didoakan. Itulah buah sulung dari suatu panen besar yang nantinya akan dituai di beberapa tempat di Indonesia.

Tanggal 1 Juli 1929, Jaffray dan rombongan dari C&MA, berangkat ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan kendaraan darat. Tanggal 4 Juli 1929 – Jaffray mengunjungi pejabat pemerintah Belanda di Jakarta. Jaffray menulis hasil kunjungannya sebagai berikut:
”wawancara kami dengan Konsul Zending (Kepala Dewan Pengutusan Injil) berjalan dengan lancar. Kami mengajukan permohonan agar diberi izin untuk melayani di Kalimantan dan Lombok (NTB). Kami sungguh mengucap syukur kepada Allah atas kerja sama yang baik dari Pemerintah Belanda. Seandainya mereka tidak mau memberi izin, secara manusia kami tidak dapat berbuat apa-apa di Indonesia.”
Sekembalinya ke Surabaya, para utusan Injil C&MA tersebut berpisah untuk memulai pelayanan masing-masing. Tanggal 19 Juli 1929 – David Clench berangkat ke Balikpapan, Kalimantan Timur; keluarga Wesley Brill ke Lombok, NTB; dan keluarga George Fisk ke Tarakan, Kalimantan Timur.  Sedangkan R.A. Jaffray sendiri kembali ke Tiongkok Selatan.

R.A. Jaffray menyadari bahwa pelayanan C&MA di Indonesia tidak dapat berkembang hanya dengan diawasi dari jauh. Karena itu, Jaffray memutuskan untuk menetap di Indonesia. Keputusan ini, pada awalnya tidak mendapat dukungan dari C&MA, disebabkan karena C&MA yang berpusat di Amerika Serikat pada waktu itu sedang mengalami krisis finansial atau yang dikenal dengan Great Depression, dan mereka hanya merestui pembukaan pelayanan di Indonesia, namun tidak menjanjikan dukungan apapun. Visi Jaffray untuk Indonesia sudah bulat yaitu menjangkau Indonesia melalui penginjilan, pendidikan dan penerbitan.

Untuk menetapkan pusat pelayanan yang tepat, Jaffray segera mempelajari peta. Ia melihat bahwa kota pelabuhan Makassar sangat strategis secara geografis. Jaffray membayangkan kota itu seperti sebuah poros roda yang jari-jarinya kelak memancarkan terang Injil ke seluruh pelosok nusantara atau tanah air Indonesia. Akhirnya, pada bulan September 1930, Jaffray pindah ke Makassar dan menetapkan Makassar sebagai Pusat C&MA atau Kemah Injil yang pertama. Kantornya di rumah kediaman Jaffray sendiri, di Jalan Daeng Tompo No. 8. Di tempat inilah Jaffray meletakan fondasi dan mengembangkan ”sayap Injil” ke seluruh Indonesia dari Sabang di Sumatera sebelah barat sampai ke Merauke di Irian Jaya (Papua) sebelah timur.

Sejarah Singkat Gereja Kemah Injil Indonesia dalam Kronologi Waktu

oleh Pdt. Dr. Daniel Ronda

1. Tahun 1928 – Rev. Dr. R. A. Jaffray, misionari CMA dari Kanada yang 32 tahun di Tiongkok adalah sebagai perintis yang menginjakkan kaki di Balikpapan pada tanggal 10 Februari 1928 dan mulai melakukan pekabaran Injil di Balikpapan dan Samarinda. Ini yang dijadikan patokan sebagai hari masuknya Injil lewat pelayanan lembaga misi CMA. Beliau kembali lagi ke China setelah pelayanan ini dan mempersiapkan pengutusan Injil ke Indonesia (Hindia Belanda)

2. Tahun 1929 – Dr. R. A. Jaffray dan Dr. Leland Wang membentuk lembaga misi bernama Chinese Foreign Mission Union (CFMU) atau Persekutuan Utusan Injil Tionghoa untuk membantu Dr. Jaffray mewujudkan misi pekabaran Injil di Indonesia.

3. Tahun 1929 – Tanggal 31 Juli 1929 ada 7 orang dibaptis di Balikpapan dan ini adalah buah sulung yang dicatat dalam pelayanan Misi CMA di Indonesia. Tenaga misi yang ditempatkan di sana adalah David Clench dan Paul Lenn.

4. Tahun 1930 – Bulan September 1930 Jaffray pindah ke Makassar secara penuh dari Tiongkok dan menjadikan Makassar sebagai basis pelayanan atau Pusat Pekabaran Injil untuk menjangkau Indonesia.

5. Tahun 1930 – Bulan Oktober 1930 edisi perdana Majalah Kalam Hidup terbit di Makassar yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Penerbitan Kalam Hidup yang mencetak bahan khotbah dan bahan pelajaran Alkitab. Tahun 1958 Penerbit Kalam Hidup pindah ke Bandung.

6. Tahun 1932 – Januari 1932 dimulai kelas perdana Sekolah Alkitab Makassar (SAM) untuk mempersiapkan hamba Tuhan nasional menjadi utusan Injil ke seluruh Indonesia. Tahun 1958 SAM berubah nama menjadi Jaffray Bible College dan Tahun 1966 menjadi Sekolah Tinggi Theologia Jaffray sampai sekarang.

7. Tahun 1932 – Pada 15 Mei 1932 Gereja Kemah Injil pertama dibentuk di Jl. G. Merapi Makassar, yang ditandai dengan ibadah perdana dengan Gembala Sidang pertama Pdt. David Clench.

8. 1942-1945 – R. A. Jaffray ditawan oleh penjajah Jepang dan wafat di kamp tawanan Jepang di Tana Toraja tanggal 29 Juli 1945.

9. Tahun 1949-1965 – Mulai terbentuk organisasi Kemah Injil yang pertama kali organisasi ini pada awalnya bernama KINGMI (Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia) yang pusatnya ada di wilayah-wilayah hasil pekabaran Injil:
a. KINGMI Kalimantan Barat tahun 1949 di Balai Sepuak
b. KINGMI Kalimantan Timur tahun 1952 di Long Bia
c. KINGMI Indonesia Timur (KINGMIT) tahun 1956 di Makassar
d. KINGMI Irian Jaya tahun 1963 di Kota Baru (Jayapura)
e. KINGMI Jawa Sumatera tahun 1965 di Jakarta.

10. Tahun 1965 – Tanggal 11-18 Februari 1965 KINGMI dari berbagai wilayah membentuk KINGMI Persekutuan di Makassar, dan ikut bergabung dari gereja yang serumpun yaitu semua lulusan SAM:
a. Gereja KIBAID (Toraja)
b. Gereja Bahtera Injil (Sulawesi Utara)
c. Gereja Zending Kristen Indonesia yang kemudian bergabung menjadi KINGMI Jawa Sumatera.
d. Menara Injil Gereja Kristen Indonesia (MIGKI) tahun 1948 bergabung ke KINGMIT
e. Gereja Sinar Injil di Bali tahun 1949 bergabung ke KINGMIT
f. Gereja Masehi Alor tahun 1952 bergabung ke KINGMIT
g. Kemah Injil Gereja Protestan Indonesia di Bandung tahun 1960 bergabung ke KINGMI Jawa Sumatera.

11. Tahun 1983 – Pada tanggal 1-8 Februari 1983 di Makassar, KINGMI Persekutuan menjadi Gereja Kemah Injil Indonesia Kesatuan yang melebur menjadi satu yaitu KINGMI Kalbar, KINGMI Kaltim, KINGMIT (Indonesia Timur), KINGMI Irian Jaya, KINGMI Jasum. Sedangkan KIBAID dan Bahtera Injil menyatakan keluar dari Gereja Kesatuan dan membentuk Sinode tersendiri.

12. Tahun 1984 –GKII adalah Gereja Kesatuan sah sebagai badan hukum yang diaktakan dalam Akta Notaris No 14 oleh Notaris E. Sianipar, SH pada tanggal 11 Juli 1984 di mana seluruh KINGMI yang ada di wilayah-wilayah membubarkan diri dan menjadi Gereja Kemah Injil Indonesia kesatuan.

13. Tahun 1987-1993 – Tanggal 22 Agustus 1987 GKII memperoleh status terdaftar dengan No. 87 Tahun 1987 di Kementerian Agama Republik Indonesia yang izinnya berlaku selama ada GKII di Indonesia (seumur hidup). Juga telah diumumkan dalam Tambahan Berita Negara tanggal 31 Desember 1993 No. 105 sehingga GKII sah sebagai badan hukum. Dengan demikian Badan Hukum KINGMI baik di Pusat maupun wilayah-wilayah sudah tidak ada karena melebur menjadi gereja kesatuan. Saat ini mantan KINGMI yang ada di wilayah menjadi Organsiasi Wilayah di mana struktur GKII kesatuan terdiri dari Badan Pengurus Pusat, Badan Pengurus Wilayah, Badan Pengurus Daerah/Klasis dan Badan Pengurus Jemaat.

14. Tahun 1991-2019 Wilayah-Wilayah bertambah menjadi 13 Wilayah Pelayanan dengan Wilayah yang ditambah yaitu:
a. Wilayah Sulawesi Utara (1991)
b. Wilayah Kaltengsel (2001)
c. Wilayah Indonesia Timur 2 (2001), yang lama menjadi Indonesia Timur 1
d. Wilayah Papua menjadi Papua Sinode Wilayah 1, 2, dan 3 (2006)
e. Wilayah Kalimantan Utara (2011)
f. Wilayah 2 Kalimantan Barat (2016)
g. Wilayah 4 Papua (2021)

15. Tahun 2021 – Data statistik terakhir dari GKII: Ada 13 wilayah pelayanan, dengan 119 Daerah/Klasis, gereja lokal mandiri berjumlah 1826, Pos PU/PI berjumlah 414, dan anggota jemaat keseluruhan 449.190 orang yang terdiri jumlah baptis 370.974 dan yang belum baptis 128.216 orang.

Sumber Penulisan/Informasi:
1. Arsip BPP GKII di Jakarta.
2. R. A. Jaffray, “The Call of the Dyacks: The Wild Man of Borneo”, 23 Juni 1928 tersedia di http://www.cmalliance.org/…/dow…/pioneer/pioneer-1928-06.pdf.
3. R.A. Jaffray, “Pioneer to the Dutch East Indies” di Majalah Pioneer Vol. 1/1, Nov. 1929, tersedia di http://www.cmalliance.org/…/dow…/pioneer/pioneer-1929-11.pdf
4. Rodger Lewis, Karya Kristus di Indonesia: Sejarah Gereja Kemah Injil Indonesia Sejak 1930, Bandung: Kalam Hidup, 1995.
5. Tse Ying Kwang, 30 Tahun Kiprah Penginjilan di Asia Tenggara (1929-1959) The Chinese Foreign Mission Union (Persekutuan Utusan Injil Indonesia), Surabaya: Sinode GKKA, 2018.

.