Serial Menyambut Bulan Misi GKII: Nicolaus von Zinzendorf dan Gerakan Misi Moravia (3)

Serial Menyambut Bulan Misi GKII: Nicolaus von Zinzendorf dan Gerakan Misi Moravia (3)

Oleh: Daniel Ronda

Banyak tulisan-tulisan misi dan khotbah misi menyebutkan bahwa William Carey adalah Bapak Misi Modern dalam dunia Kristen Protestan. Padahal gereakan misi Protestan sudah dimulai jauh sebelum William Carey. Itu dimulai oleh seorang bernama Count Nicolaus von Zinsendorf dengan membuat gerakan penginjilan Moravia.

 

 

Gerakan misi Moravia lahir pada abad ke 17 dan berkembang sampai abad ke 18 di tengah-tengah munculnya kebangkitan sebuah gerakan yang terkenal dalam sejarah gereja yaitu Pietisme. Pietisme adalah sebuah gerakan kebangunan kesalehan atau kesucian hidup yang mengutamakan saat teduh atau meditasi pribadi, doa-doa pribadi atau kelompok, penelaahan Alkitab atau PA, khotbah yang hidup, dan memberikan peran besar kepada kaum awam berperan dalam gereja. Tokoh kunci dari gerakan Pietisme adalah Philip Jacob Spener dengan buku klasik yang sangat terkenal yaitu “Pia Desideria” (Keinginan yang Suci) yang diterbitkan tahun 1675. Buku ini wajib dibaca sampai sekarang bagi mereka yang mau mendalami sejarah spiritualitas gereja. Gerakan Pietisme ini sangat mempengaruhi banyak gereja dan tokoh dan mungkin tidak akan dibahas dalam tulisan ini karena fokus kepada tulisan misi. Namun harus dicatat bahwa gerakan Reformasi tidak menghasilkan pengiriman tenaga penginjil karena memang konteksnya adalah sibuk berhadapan dengan serangan dari gereja Roma Katolik waktu itu. Nanti dua abad kemudian, akibat pengaruh gerakan Pietisme ini maka Lembaga Misi Danish-Halle mengirim Bartolomeus Ziegenbalg dan Henry Plutschau ke India tahun 1705. Itu contoh pengaruh Pietisme yang menghasilkan gerakan misi. Namun fokus kita kepada Zinzendorf yang akibat dari gerakan Pietisme ini menghasilkan gerakan pertama dalam Protestantisme yaitu gerakan penginjilan Moravia.

 

Zinzendorf (1700-1760) lahir sebagai orang Kristen di bawah pengaruh dari gerakan Pietisme. Sejak kecil sampai remaja dewasa dihabiskan di Halle, Jerman di mana dia sangat dipengaruhi oleh tokoh Pietisme di Jerman yaitu Auguste Francke. Lahir dari keluarga kaya maka di tahun 1722 dia membeli tanah yang begitu luas di Berthelsdorf (Jerman di bagian Timur) yang dipakai untuk menampung pengungsi Kristen dari Bohemia dan Moravia (sekarang daerah Moravia adalah Negara Ceko). Mereka ditampung karena dianiaya oleh gereja Roma Katolik dan terusir dari kampung halamannya.

 

Gerakan Moravia ini juga sebenarnya memiliki akar dari suatu gerakan Hussite di abad ke-14. Gerakan ini disebut gerakan Pra-Reformasi karena pendirinya John Hus adalah orang pertama yang mengkritik kesewenangan Roma Katolik. Lalu kelompok ini membuat suatu gerakan disebut Kesatuan Persaudaraan (Unity of the Brethren atau Unitas Fratrum). Gerakan protes ini karena sering dianiaya akhirnye menjadi gerakan bawah tanah. Pada tahun 1722 mereka mengungsi ke tanah yang disediakan oleh Zinzendorf. Di tanah pengungsian ini gerakan ini mencapai lebih dari 300-an orang yang kemudian berganti nama dan menyebut diri mereka Komunitas Herrnhut (Tuhan mengawasi).

 

Tanggal 13 Agustus 1727, komunitas ini menerima pencurahan Roh Kudus yang sangat hebat sehingga menyebabkan adanya perubahan dahsyat dalam komunitas ini. Digambarkan bahwa situasinya seperti peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul sehingga mereka hidup bersehati, berbagi bersama, berdoa dengan penuh semangat, penyerahan hidup kepada Yesus dan komitmen untuk penginjilan, serta ada pemulihan kembali yang begitu berapi-api. Lalu dari komunitas ini terbentuklah gereja Moravia dengan gerakan penginjilannya di mana diangkat Zinzendorf sebagai pemimpinnya. Lewat peristiwa ini, Zinzendorf memobilisasi gerakan penginjilan ke seluruh dunia di mana sejak itu mereka mulai mengirim sampai ratusan penginjil ke berbagai negara seperti Karibia, Amerika Utara dan Selatan, Kutub Utara, Afrika, Timur Tengah, dan India.

 

Dari sejarah gerakan ini ada beberapa hal yang bisa kita ambil untuk bulan misi GKII. Pertama, gerakan Moravia bukan hanya semangat mengirim penginjil keluar tapi berkomitmen berdoa dengan sungguh untuk pelayanan penginjilan. Sejak peristiwa 13 Agustus 1727 di mana Tuhan melawat komunitas ini, maka mereka berkomitmen untuk berdoa tiada henti dan disebutnya sebagai “Tembok Doa atau Prayer Wall”. Mereka berdoa secara bergiliran untuk penginjilan selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan mereka berdoa tanpa putus selama lebih dari 100 tahun!!! Inilah abad keemasan misi Protestan yang lahir dari doa-doa yang tiada putusnya dari gerakan Moravia.

 

Pelajaran kedua, mereka terbiasa menderita akibat aniaya Roma Katolik. Itu sebabnya di lapangan mereka menjadi sangat tangguh karena siap bayar harga. Ada misionari Leonhard Dober (1706-1766) rela berjalan ratusan kilometer untuk melayani dan siap membiayai diri sendiri. Dober contohnya, hidup dengan berdagang dan pergi ke Karibia untuk melayani para budak asal Afrika. Di sana para misionari mampu bertahan dalam kondisi yang sangat jelek dan bahkan mengubah komunitas di sana dan menjadikan kekristenan bertumbuh pesat. Mereka tahan menderita dan sanggup membiayai diri mereka sendiri. Dengan kata lain gerakan ini sangat hebat menjangkau orang miskin dan terpinggirkan karena memang mereka sudah terbiasa dalam penderitaan.

 

Ketiga, gerakan Moravia juga memobilisasi kaum awam untuk terlibat PI. Penginjilan bukan hanya tugas pendeta tapi tugas semua orang dan mereka terus menggerakkan kaum awam untuk terlibat. Bagi mereka tidak pembagian kelas dalam tugas pelayanan karena panggilan berkat Tuhan adalah untuk semua umatNya.

 

Akhirnya, walaupun gerakan ini bukan gerakan dahsyat karena memang Gereja Moravia saat ini bukan gereja yang besar, tapi tokoh-tokoh besar bertobat karena melihat kehidupan dan pengajaran Kaum Moravia ini. Sebagai contoh John Wesley dan William Carey yang dalam buku mereka mengisahkan bahwa pertobatan mereka karena akibat dari melihat kehidupan Kaum Moravia. Kiranya ini menginspirasi semangat doa kita dan siap bayar harga untuk melaksanakan misi (DR).

 

Catatan: Bulan Agustus sebagai Bulan Misi GKII

 

Sumber bacaan: 1) Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).

Leave a Reply

Close Menu