Pohon Natal

Pohon Natal

Tulisan tgl 12/12/2016

Hampir semua rumah orang Kristen di hari Natal memasang pohon Natal sebagai simbol memperingati hari kedatangan Yesus Kristus, sang Juruselamat ke dalam dunia. Tapi dari mana asal muasal pohon Natal itu dan apa sebenarnya makna dekorasi Natal ini? Apakah diperbolehkan pasang pohon Natal, karena ada kelompok internal Kristen sendiri yang melarang pemasangan pohon karena dianggap dari agama kafir pra Kristen?

Secara tradisi disebutkan bahwa menaruh pepohonan dan daun serta mendekornya pada hari raya tertentu di dalam pada masa pra Kristen di Eropa adalah hal yang biasa, misalnya hari raya Saturnalia dan lainnya. Tujuannya untuk mengusir roh jahat dari rumah-rumah mereka. Walaupun daun dan pepohanan yang sudah didekorasi itu merupakan cara berpikir agama pra Kristen, Kekristenan tidak mengadopsi dari mereka ketika menggunakan pohon Natal ini. Orang Kristen mengambil pohon Natal ini yaitu pohon cemara atau pinus dengan maksud berbeda dan tidak dipakai untuk mengusir setan. Pohon pinus diambil karena daunnya abadi alias tidak gugur pada musim dingin sehingga disebut “evegreen tree” yang menyimbolkan kasih Tuhan yang abadi. Bentuknya kalau dilihat dalam dua dimensi seperti segitiga yang menggambarkan kasih abadi dari Allah Tritunggal kepada manusia. Lalu di pohon dipasang bintang atau Malaikat surga menggambarkan peristiwa-peristiwa yang menyertai kelahiran Yesus di mana ada bintang yang menuntun orang majus dan penampakan Malaikat kepada gembala.

Awalnya pohon asli itu ditaruh buah apel yang menggambarkan buah dari pohon terlarang di taman Eden yang mengingatkan bahwa kedatangan Yesus karena dosa manusia. Sekarang buah sudah diganti dengan bola-bola warna-warni. Di masa awal pada pohon ditaruh wafer (roti) yang menyimbolkan pengorbanan Yesus dalam perjamuan kudus. Setelah dibawa ke Amerika maka kaum Moravianlah yang awalnya menaruh lilin untuk menggambarkan terang keselamatan untuk bangsa-bangsa, di mana sekarang sudah diganti dengan lampu kelap-kelip dari tenaga listrik.

Asal-usul masa awal penggunaan pohon Natal tidak diketahui tanggalnya dengan pasti, tapi kira-kira jejaknya ditemukan pada abad ke 16 sebagai catatan temuan yang tertua dan ditemukan di berbagai negara seperti Perancis, Georgia, Latvia, Estonia dan Jerman. Dari Jerman inilah pohon Natal lalu berkembang ke seluruh dunia. Mengapa Jerman? Itu karena memang Jerman tempat deklarasi awal reformasi yang dikumandangkan oleh Martin Luther, Bucer dan seterusnya. Secara resmi dalam agama Kristen, pohon Natal pertama kali dipasang kaum Lutheran di Katedral Strassburg tahun 1539 yang pada waktu itu dipimpin reformator Martin Bucer. Kaum Lutheran inilah yang membawanya ke Amerika dan nanti pada zaman era televisi pada tahun 1930-an di Amerika, pohon Natal menjadi mendunia dan dipasang di rumah-rumah yaitu setelah ada acara serial TV yang memasang pohon Natal. Sejak itu meledaklah pemasangan pohon Natal di rumah-rumah orang Kristen.

Hari ini pohon Natal sudah pakai plastik, lampu lilin sudah diganti dengan lampu listrik, dekorasi sudah begitu kreatif dengan banyak variasi, sehingga kadang tidak tahu lagi apa tujuannya. Ada yang menaruh pita, rantai kertas warna-warni, kapas yang melambangkan salju, dan banyak lagi jenisnya. Harganya pun tidak murah. Bahkan pohon Natal sudah merambah sampai ke mal-mal, sehingga nilai religinya menjadi kabur dan malah menyimbolkan semangat hedonisme yaitu sifat konsumtif dan nafsu berbelanja yang tiada habisnya.

Pada sisi lain, banyak yang anti memasang pohon Natal karena juga dianggap mengadopsi ajaran kafir. Sejarah menjelaskan bahwa ini bukan dari agama pra Kristen, tapi kecintaan umat Kristen menghayati kedatangan Yesus dalam peristiwa kelahiranNya dalam sejarah. Jadi wajar sebenarnya bila orang Kristen memasang pohon Natal di rumahnya sepanjang penghayatan akan pengorbanan Yesus hidup dalam hati masing-masing umat. Yang harus diperangi adalah semangat hedonis, mementingkan diri, konsumeristis, materialistis dalam kehidupan orang percaya. Kelahirannya adalah menyatakan pentingnya kesederhanaan dan hidup yang penuh pengorbanan. Seharusnya itu menjadi gaya hidup orang Kristen dalam menyambut Natal (DR).

Leave a Reply

Close Menu