Seksualitas Manusia

Seksualitas Manusia

KEYAKINAN TENTANG SEKSUALITAS MANUSIA SEBAGAI RESPONS ATAS PERMASALAHAN SEKS MANUSIA TERMASUK ISU LGBT

(LESBIAN, GAY, BISEXUAL DAN TRANSGENDER)

 

  1. Keyakinan Iman Gereja Kemah Injil Indonesia tentang Alkitab/Firman Tuhan yang terdapat dalam AD/ART GKII Pasal 4/Ayat 4 sebagai berikut: ”Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mutlak firman Allah tidak berkesalahan sebagaimana ditulis oleh penulis aslinya. Setiap kata naskah asli diilhamkan oleh Allah dan adalah wahyu lengkap tentang kehendak-Nya untuk keselamatan manusia. Alkitab adalah satu-satunya kaidah Ilahi bagi kepercayaan dan kelakuan Kristen.”
  2.  

  3. Berdasarkan keyakinan iman ini, maka kepercayaan kami terhadap identitas manusia sepenuhnya didasarkan kepada kebenaran Firman Tuhan. Seksualitas manusia sangat tegas dinyatakan di dalam penciptaan, bahwa manusia diciptakan Allah menurut rupa dan gambarNya yaitu laki-laki dan perempuan (Kejadian 1:27). Tuhan menyatakan bahwa perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan dinyatakan Tuhan sebagai sangat baik (Kejadian 1:31). Penegasan perbedaan laki-laki dan perempuan dijelaskan kembali dalam Kitab Kejadian 2:18-24, di mana relasi Adam dan Hawa sebagai laki-laki dan perempuan bersifat pemberian untuk saling melengkapi. Itu sebabnya kami meyakini bahwa seksualitas manusia adalah pemberian Tuhan. Oleh anugerah Tuhan, seksualitas manusia dapat memperkaya dan memperindah kehidupan manusia.
  4.  

  5. Setelah kejatuhan manusia (Kejadian 3), maka hubungan manusia dengan Allah mengalami kematian dan perpisahan dengan Tuhan, termasuk hubungan manusia dengan manusia serta manusia dengan alam semesta terjadi kerusakan dan penyimpangan, di dalamnya juga seksualitas manusia mengalami distorsi antara laki-laki dan perempuan.
  6.  

  7. Oleh anugerah Tuhan, maka lewat pengorbanan Yesus Kristus manusia diselamatkan termasuk di dalamnya penebusan dosa seksualitas yang dilakukan manusia. Dalam surat Rasul Paulus, Tuhan Yesus menempatkan seks yaitu laki-laki dan perempuan dalam konteks penebusanNya (Galatia 3:28).
  8.  

  9. Alkitab memberikan kesaksian tentang kehendak Tuhan atas seksualitas manusia. Nafsu seks adalah hak yang hanya bisa dipenuhi dalam konteks pernikahan yang disatukan Tuhan untuk seumur hidupnya. Bila ada panggilan selibat, maka kehidupan yang tidak menikah atau membujang itu juga adalah panggilan yang baik karena mereka hidup tidak menggunakan keinginan seks mereka dan hal ini mendapat dukungan dari Kitab Suci (Matius 19:12; 1 Korintus 7:1, 8).
  10.  

  11. Hubungan seksual antara pria dan wanita dalam konteks pernikahan didasarkan pada hukum penciptaan dan bukan soal tradisi manusia. Pernikahan dimaksudkan untuk hubungan perjanjian seumur hidup yang menggambarkan komitmen tidak bersyarat Kristus kepada jemaatNya (Efesus 5:25-27). Tuhan menciptakan pernikahan sebagai kesatuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sehingga di dalamnya adalah benar, wajar serta hak mereka untuk melakukan hubungan seksual. Maka walaupun pelaksanaan pernikahan itu memiliki konteks budayanya masing-masing, tetapi pernikahan itu lembaga Tuhan yang bukan diatur oleh opini manusia dan tidak bisa berubah prinsipnya hanya karena adanya perubahan sosial masyarakat.
  12.  

  13. Semua praktik hubungan seksual di luar pernikahan adalah salah. Praktik perilaku seksualitas manusia telah rusak karena dilakukan di luar ikatan janji pernikahan di hadapan Tuhan dan cinta kasih yang Tuhan maksudkan. Maka gereja harus berpendirian kokoh bahwa hubungan seksualitas hanya ada dalam konteks pernikahan. Itu sebabnya kami menolak perilaku seks bebas, pedofilia (seks dengan anak-anak), kekerasan seksual, pornografi, perzinahan, percabulan, dan prostitusi.
  14.  

  15. Di samping itu kami pun menolak perilaku seksualitas sejenis, mengubah jenis kelamin dengan cara medis, berperilaku berlawanan dengan jenis kelaminnya atau yang dikenal dengan ungkapan LGBT, di mana secara moral itu salah dan berdosa (Ulangan 22:5). Bahkan Alkitab secara eksplisit melarang hubungan seksual sejenis. Imamat 18:22 berkata, ”Jangan engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.” Perilaku homoseksual disebut kekejian bagi Tuhan karena bertolak belakang dengan tujuan manusia diciptakan Tuhan. Hal yang sama dinyatakan dalam Perjanjian Baru tentang perilaku homoseksual ini (Roma 1:25-27). Perilaku ini merupakan penolakan kepada kemuliaan Tuhan dan semua tindakan seksual yang bertentangan dengan maksud Tuhan semula adalah dosa.
  16.  

  17. Ada pemulihan atas semua dosa seksual lewat pertobatan (1 Korintus 6:11). Sama seperti semua dosa lainnya, maka dosa seks pun ada jalan keluarnya yaitu lewat pengampunan yang diberikan di dalam Yesus Kristus. Walaupun luka-luka dan trauma psikologis dan fisik tidak selalu dapat disembuhkan dan dihapuskan dalam kehidupan seseorang, tetapi anugerah Tuhan Yesus sempurna adanya untuk memberikan tuntunan penyertaan sehingga mereka pasti sanggup melewatinya. Kami turut bersimpati dan mengasihi mereka yang mengalami masalah seksualitas baik karena faktor orang lain, lingkungan maupun karena perilaku dosanya sendiri. Kami harus menolong dengan sekuat tenaga sesama kami dan menerima mereka dengan penuh kasih tanpa menghilangkan tanggung jawabnya atas masalah seksualitas yang dilakukannya. Kami percaya Yesus adalah teladan kami dalam melayani dengan penuh kasih mereka yang melakukan dosa seksualitas, seperti perkataan Yesus kepada perempuan berzinah, ”…Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:3-11).

 

Diadaptasi dari Gereja Kemah Injil Amerika Serikat tentang ”Human Sexuality” yang tersedia di http://www.cmalliance.org/about/beliefs/perspectives/human-sexuality

Leave a Reply

Close Menu