You are currently viewing Beberapa Pengalaman tentang Teknik Menulis III

Beberapa Pengalaman tentang Teknik Menulis III

  • Post author:
  • Post category:Kesaksian

 

Kalau soal teknis menulis saya bukan pakarnya, karena saya bukan seorang yang punya latar belakang keahlian jurnalistik atau sastra. Saya bukan Arswendo Atomowiloto, Goenawan Muhammad, Andar Ismail, Eka Darmaputera, Andrea Hirata, Dewi Lestari, atau sastrawan Remy Sylado yang tulisannya saya sukai. Saya hanya seorang teolog dan menguasai bidang kepemimpinan gereja. Walau demikian izinkan saya berbagi cerita tentang teknik menulis berdasarkan pengalaman dalam menulis di koran, majalah, jurnal, buku, dan berbagai karya ilmiah serta mengelola blog sendiri dengan nama danielronda.com.

 

Pada saat yang sama disarankan bagi yang mau menulis, luangkan waktu membaca teknik-teknik menulis yang tersebar di dunia digital dan beberapa buku tentang kepenulisan yang dijual di toko-toko buku. Ada beberapa teknik menulis secara sederhana yang dapat saya bagikan:

  1. Baca, baca dan baca!

    Prinsip dasar mau menjadi penulis adalah rajin membaca. Lahap semua jenis bacaan yang Anda suka dan perdalam apa yang menjadi minat Anda. Di era sekarang, manusia sudah tidak kekurangan bahan bacaan. Luangkan waktu berselancar di dunia digital dan unduh dulu bahan-bahan bagus dan nikmati jika ada waktu luang misalnya seperti sedang menunggu dan sebagainya. Pokoknya rajin membaca.

  2. Tetapkan tema!

    Menulis memerlukan tema yaitu suatu pokok bahasan yang mengikat sebuah tulisan. Tema ini lahir dari masalah yang ditemukan, lalu tetap bertahan dengan tema itu. Artinya jangan lari kemana-mana. Misalnya menulis tentang toleransi yang secara khusus membahas fenomena intoleransi. Jangan membahas yang lain seperti topik pilkada dan lainnya. Fokus saja pada yang sudah menjadi tema. Sekali menetapkan tema, setialah mendeskripsikannya sampai akhir. Ada yang menyarankan supaya kita bisa setia dengan tema, maka buatlah peta pikiran atau “mind map” dalam bentuk oret-oretan di kertas satu halaman yang berisi judul garis besar sampai penutupnya. Dari situ baru mulai dituangkan dalam tulisan. Nanti tema ini kemudian kita buatkan judul yang menarik perhatian pembaca.

  3. Bahasa yang sederhana dan menarik

    Bahasa membuat gambar mental dalam otak manusia bahkan bisa berimajinasi serta berfantasi karenanya. Itu kekuatan bahasa. Maka dalam menulis perhatikan bahasa. Untuk tulisan populer diperlukan bahasa yang bisa dimengerti dan menarik. Artinya jangan gunakan bahasa yang rumit tapi saat yang sama sederhana tidak berarti monoton. Misalnya kalau sering menggunakan kata “tetapi”, maka bisa dicari padanannya seperti “namun”, dan seterusnya. Jadi harus berani bermain kata. Sederhana berarti juga sebuah peristiwa deskripsikan secara detail sehingga pembaca bisa membayangkannya. Contoh, jika Anda pergi berwisata ke Jepang dan ingin menyatakan kekaguman Anda, maka jangan hanya tulis: Jepang itu indah sekali. Belum ada imajinasi di situ. Tapi jika Anda mengatakan saya tiba di Tokyo, lalu Anda menggambarkan tentang bersih, rapi, nyaman, teratur ada perpaduan antara modernitas dan tradisional maka itu jauh memberikan fantasi ketimbang hanya katakan kota itu indah.

  4. Ada logika dan argumen

    Menulis itu selalu punya tiga bagian penting yaitu bagian awal atau pendahuluan, bagian isi dan bagian kesimpulan. Penulis harus taat dengan alur logika itu walaupun pendekatannya bisa bervariasi. Jangan lupa pakai argumen atau alasan-alasan mendukung ide atau gagasan Anda. Bisa juga pakai retorika, di mana Anda bertanya dan dijawab sendiri. Tingkat kesulitan argumen tergantung siapa pembaca yang dibidik. Gunakan berbagai argumen untuk menopang pendirian Anda.

  5. Baca ulang dan izinkan tulisan diedit.

    Kebanyakan penulis yang punya reputasi hebat pun kurang pandai berbahasa. Ada editor buku bercerita, beberapa orang hebat di Indonesia yang bukunya menjadi best seller adalah penulis yang buruk dari sudut bahasa. Kita punya ide tapi miskin dalam mengakspresikannya. Untuk penulisan karya ilmiah dan buku, izinkan tulisan Anda diperbaiki, karena banyak teolog yang merasa sudah dapat inspirasi surgawi dan tidak mengizinkan kalimatnya dikoreksi. Tentu editor yang baik akan bekerjasama dan berdiskusi tentang makna. Buku saya pertama “Leadership Wisdom” itu penuh dengan koreksi kesalahan kalimat. Lalu editor membantu mengoreksinya. Hasil finalnya sangat baik dan enak dibaca. Jika menulis di FB, yah cukup baca ulang satu sampai dua kali sebelum dimasukkan ke halaman FB Anda.

  6. Konsisten menulis

    Orang menulis itu banyak sekali dan belum tentu ada yang pedulikan tulisan Anda. Jangan marah, karena dunia informasi sudah meluber dan bersaing dalam mendapatkan pembaca. Maka supaya orang mulai melirik tulisan Anda perlu konsistensi dalam menuis. Misalnya bila Anda berniat menayangkan tulisan di Fb tiap hari atau seminggu dua kali dan seterusnya. Bila demikian, konsistem lakukan. Pasti akan ada yang melirik tulisan Anda dan terberkati karenanya. Jika hanya sesekali maka pengaruhnya kurang. Dua buku saya lahir dari kesetiaan menulis di Fb dan Kompasiana yaitu “Belajar Menjadi Pemimpin” oleh Matana Publishing Jakarta dan “Khotbah yang Berkuasa” oleh Kalam Hidup Bandung. Jadi menulis di blog dan halaman Fb bisa jadi buku loh!

Nah, ini tip terakhir dalam seri tentang keterampilan menulis bagi pemimpin. Selamat mencoba kawan! (DR)

 

Catatan: sampai berjumpa untuk mereka yang menghadiri “Writer’s Workshop” di Bandung minggu depan. Jangan lupa bawa draf buku kalian. Kita sebarkan pengetahuan lewat menulis! Blessings.