You are currently viewing Refleksi Akhir Tahun: Isu-Isu Kepemimpinan

Refleksi Akhir Tahun: Isu-Isu Kepemimpinan

  • Post author:
  • Post category:Renungan

Refleksi Akhir Tahun:
Isu-Isu Kepemimpinan
Oleh Daniel Ronda

Tak terasa tahun 2018 sisa beberapa hari lagi. Yang patut diucapkan adalah syukur atas penyertaan Tuhan (Imanuel). Saat yang sama kita berdoa mohon tuntunan Tuhan memasuki tahun 2019 di mana tantangan dan pergumulan yang tidak sedikit dihadapi.

Jika kita lihat ke belakang maka didapati bahwa kehidupan ekonomi jemaat yang mulai sulit terutama menjual produk pertanian dan perkebunan yang harganya jatuh ke harga yang tak masuk akal dan ketidakpedulian pemerintah akan hal ini. Contoh, harga karet petani kita di Kalimantan yang jatuh bak orang terjun bebas. Nilai dollar Amerika yang menguat drastis, membuat inflasi dan uang yang dikumpulkan dengan memeras keringat tiada arti. Belum lagi simpati pemerintah terhadap akar persoalan separatisme di Papua dianggap sepele dan masih menggunakan gaya lama dalam penyelesaian. Sementara pemerintah sibuk dalam pencitraan media akan keberhasilan dan membuat data secara makro tapi kurang masuk ke tataran yang lebih mikro yaitu kehidupan yang nyata yang dihadapi rakyat.

Patut disyukuri pemimpin bangsa ini yang sudah berjuang sekuat tenaga memerintah tapi sayang jika itu hanya di level Pusat tapi di level Daerah tidak ada yang menyampaikan kebenaran apa yang terjadi dengan rakyatnya. Ini ironi yang tidak dapat dibiarkan karena oposisi masih dianggap sampah, apalagi memang oposisi di DPR kebanyakan masih asbun dan tidak punya kualitas sebagai orang yang menyuarakan kepentingan rakyat. Mereka masih sebatas kepentingan diri dan partainya.

Melihat masalah di atas, tidak membuat kita pesimis akan bangsa ini tapi justru ikut berjuang memperbaikinya. Peran gereja adalah peran kritis tapi membangun. Maka ada agenda dan isu dalam gereja dan kekristenan yang mana kita bertanggung jawab menyelesaikannya:

1. Menguatnya agama masuk ke politik identitas. Mulai menjamur di mana politikus menggunakan agama sebagai kendaraan mendapatkan jabatan politik. Ini menyebabkan bingkai keharmonisan dan kerukunan mulai meluntur di negeri ini. Kekerasan, kebencian dan diskriminasi mulai merajalela. Upaya sudah banyak untuk menata relasi ini seperti menghidupkan Pancasila tapi masih sangat elitis gerakannya dan baru berupa wacana. Pemimpin gereja berkewajiban menjadi pelopor perdamaian dan saat yang sama berjuang menegakkan keadilan dalam berbangsa dan bernegara.

2. Korupsi yang makin ganas dan sudah masuk ke semua level pemerintahan yang berkolaborasi dengan swasta. Pengajaran seringkali belum sampai menyentuh area ini karena kerap gereja membutuhkan dana untuk pelayanan dan sering menutup mata serta telinga dari mana sumber dana asal persembahan yang masuk.

3. Persoalan lingkungan hidup yang sudah sangat parah di semua daerah di Indonesia, mulai masalah plastik, polusi udara, sungai yang tercemar, industri yang mencemari lingkungan, sampai hutan yang diganti sawit tanpa batasan, hutan yang terus digunduli. Khotbah gereja harus kuat dalam masalah lingkungan ini.

4. Edukasi terhadap penggunaan teknologi di era digital sangat kurang. Alat digital sudah di tangan jemaat. Mereka sudah menjelajah dunia dan memanfaatkannya secara luas namun belum ada yang mengajari jemaat bagaimana penggunaan ini dengan etika yang benar.

5. Pemuridan dan pengajaran yang stagnan, di mana masih banyak gereja-gereja umumnya masih mengandalkan materi yang sudah lama dalam katekisasi, pemuridan. Saat ini lebih kepada pengajaran mimbar saja yang kurang lebih 30-60 menit tiap minggunya. Ahli pendidikan Kristen sudah waktunya turun gunung dan mulai serius dengan konten pemuridan dan bukan fokus ke manajemen pendidikan sahaja.

6. Pengajaran yang aneh muncul di gereja: pencampuran kekristenan dengan agama suku yang menghasilkan sinkretisme, penolakan KTP-el karena dianggap alat Antikristus, pemujaan terhadap Israel dianggap sejajar atau bahkan melebihi Kristus, dan belum diterimanya perempuan dalam pelayanan secara maksimal. Sekolah teologi wajib mengangkat isu ini dan tidak sibuk dengan proses akademik dan pengejaran akreditasi semata.

7. Banyak kasus gereja yang terjadi yaitu relasi yang tidak harmonis di antara kepemimpinan gereja seperti relasi gembala dan pengurus jemaat. Banyak perpecahan gereja yang terjadi karena falsafah pelayanan Alkitabiah tidak dihidupi dalam kepemimpinan gereja. Pimpinan sinode patut menjadi pengarah dan penengah dalam resolusi konflik dalam gereja.

8. Gereja yang abai terhadap generasi berikutnya seperti anak, remaja dan pemuda. Yang ada adalah aktivitas pelayanan terhadap mereka, namun dengan fasilitas dan alokasi dana yang minim sekali. Belum lagi kekurangan tenaga pelayan khusus untuk melayani anak/remaja. Banyak kali panitia pembangunan lebih fokus pembangunan kepada ruang ibadah besar tapi lalai dengan pembangunan kelas-kelas kecil. Belum lagi kesadaran perlindungan terhadap anak dan adanya lingkungan yang baik terhadap mereka. Bila gereja abai akan hal ini maka akan dirasakan dampaknya secara serius ke depan di mana bangku-bangku mulai kosong karena generasi muda sudah mulai tinggalkan gereja. Ini akhirnya menjadi masalah negara juga. Gereja dan negara harus bersinergi peduli kepada generasi muda!

Peran gereja yang kritis dan membangun membawa kepada optimisme akan masa depan bangsa tapi yang tidak dengan kekuatan sendiri tapi dengan percaya kepada kuasa dan cinta kasih Tuhan. Selamat memasuki tahun yang baru dengan penyertaan dan berkat Tuhan Yesus! Shalom!

Jakarta, 30 Desember 2018
#leadershipwisdom