You are currently viewing SUPERBOOK

SUPERBOOK


Oleh Daniel Ronda

Suatu ketika ada yang menanyakan tentang film dan kurikulum anak yang bernama Superbook:

Ibu (I): Selamat Siang pak, Shalom!

Saya (S): Shalom. Bagaimana kabar bu? Ada yang bisa dibantu?

I : Pak, saya ada pertanyaan soal film dan buku Superbook. Kata orang-orang di gereja saya itu menyesatkan dan perlu dikaji ulang.

S : Ibu sudah nonton belum?

I : Sudah pak. Anak saya suka tapi karena ada dibilang tidak benar jadi saya bingung. Bingungnya karena katanya kok ada Chris, Joy dan Gizmo dalam Taman Eden dan Adam dan Hawa? Wah, ikut bingung juga saya.

S : Bu, buku Superbook itu BUKAN Alkitab dan bukan pengganti Alkitab. Film dan kurikulum itu hanya METODE menceritakan kebenaran Alkitab dengan cara teleport dan narasi di mana anak-anak yang diwakili tiga tokoh ini memiliki pergumulan dibawa masuk ke dalam cerita-cerita Alkitab. Lalu mereka dibawa kepada kisah Alkitab dan mereka bertanya tentang pergumulan yang mereka hadapi. Setelah selesai baru mereka kembali ke dunianya dan mengaplikasikan apa yang mereka pelajari dari cerita Alkitab. Jadi cerita Alkitab tidak diubah.

I : Jadi itu hanya metode bercerita ya pak yang divisualkan dengan teknologi?

S : Benar bu. Saat ini gaya itu dipakai juga dalam Khotbah Masa Kini (Contemporary Preaching) yang disebut metode naratif di mana si pengkhotbah mengajak jemaatnya membayangkan bahwa mereka ada dalam situasi dan cerita pada waktu kejadian dalam Alkitab. Pendengar diajak merasakan dan ikut dalam cerita itu sehingga mereka bisa mengambil pelajaran untuk saat ini. Bedanya kalau Superbook pakai teknologi audio visual sehingga tampak nyata.

I : Mulai paham. Tapi ada lagi pertanyaan saya pak, apakah teolog-teolog dan gereja-gereja sudah mengkaji ini? Masak tidak ada masalah?

S : Yang menciptakan ini adalah Tim CBN dari Amerika Serikat yang dikenal dengan reputasi Injili yang mempertahankan Alkitab adalah Firman Allah. Sudah mendapat dukungan dari semua pihak termasuk teolog dan gereja karena memang generasi milenial sekarang perlu ada metode baru dalam mendekati Alkitab.

I : Bagaimana dengan gereja-gereja Pak, Apa sudah dipakai juga?

S : Sudah banyak, bahkan semua aras dari gereja Injili, Protestan, Pentakosta, Kharismatik, Baptis pada pakai film dan kurikulum ini. Kalau gak percaya, lihat deh situsnya di superbookindonesia.com. Yang terakhir terlihat Gereja Kristen Protestan Bali menerimanya. Lihat situsnya ya!

I : Gereja Bapak pakai tidak?

S : Kami sudah ada MoU dengan Superbook Indonesia. Bahkan Gereja Kemah Injil Amerika saja terima dan pakai. Juga Gereja Kemah Injil Vietnam menjadi kurikulum nasional wajib lagi.

I : Oooo gitu ya?! Tapi kok di gereja saya dipermasalahkan ya?

S : Iya saya tidak tahu bu. Kita tidak usah menduga-duga. Nanti bisa diberitahu supaya mereka memahami bahwa Superbook tidak sesat dan tidak perlu ada yang dikaji lagi.

I : Iya pak. Ini kesaksian. Anak saya gara-gara film Superbook itu jadi suka tanya cerita Alkitab dan ingin tahu cerita Alkitab dan suka Alkitab. Saya senang dan kaget juga. Bukankah itu luar biasa kan pak?

S : Itulah, karena dunia kita dan dunia anak-anak sekarang beda. Mereka sudah sejak dini ada dalam dunia digital. Kita semua tahu tapi metode mengajarkan Alkitab seringkali tidak mau berubah.

I : Benar pak, masak metode mengajar waktu saya dulu masih anak-anak sama sampai sekarang. Anak-anak kan tidak tertarik dong !

S : Yah, sabar dan kita doakan agar Alkitab itu dapat relevan dan menjangkau generasi milenial.

I : Oke, itu dulu ya pak. Terima kasih. Sorry mengganggu waktu Bapak. Shalom.

S : Sama-sama. Tidak mengganggu kok. Shalom! (DR)

Catatan: tulisan ini dibuat 2 tahun lalu dan masih relevan untuk dibaca sebagai pengetahuan sebelum memakai kurikulum pelayanan anak Superbook