Tulisan sejarah tentang Robert Alexander Jaffray yang ditulis tahun 2012 oleh hamba Tuhan dari negeri asal Jaffray di Kanada.
Menolak kekayaan dan kekuasaan, ia menjadi perintis/misionaris
di beberapa ladang misi terbesar di dunia
Oleh Barrie Doyle
Ini adalah kisah yang menjadi ciri khas orang Kanada: seorang individu mencapai dampak monumental pada sebuah masyarakat, namun hampir sepenuhnya diabaikan di tanah airnya sendiri.
Robert Alexander Jaffray bagi banyak orang Kristen di Kanada—bahkan mereka yang berada di gereja-gereja Kemah Injil (Alliance)—adalah seorang pemimpin dan pengajar misi yang relatif tidak dikenal. Namun, di negara-negara yang ia pengaruhi, ia adalah seorang pria yang dihormati dan disegani, yang menyerahkan dirinya tanpa pamrih untuk membawa Injil kepada bangsa-bangsa mereka.
Namanya memunculkan gambaran seperti “perintis misi,” “guru Alkitab,” “ahli strategi misi,” “negarawan misi,” dan “pria peta” di hati dan pikiran orang-orang Kristen di berbagai wilayah Asia. Daftar negara dan bangsa yang ia pengaruhi terdengar seperti daftar berita hari ini: Tiongkok, Filipina, Indonesia, Vietnam, dan Kamboja.
Robert “Rob” Alexander Jaffray lahir pada 16 Desember 1873 dan dibesarkan di rumah kaya dan berpengaruh di Toronto.
Ayahnya, Robert Sr., adalah seorang pengusaha sukses yang kecerdasan bisnis dan pengaruh politiknya mewarnai kisah Kanada pada era Ratu Victoria akhir (1837-1901). Jaffray adalah seorang partisan Partai Liberal terkemuka, bekerja untuk dan mendukung pemerintahan Partai Liberal awal di bawah Alexander Mackenzie, perdana menteri kedua Kanada.
Ia adalah salah satu pembangun Kanada, terlibat dalam berbagai hal mulai dari investasi awal perkeretaapian Kanada hingga menjadi wakil presiden Imperial Bank of Canada (kini CIBC). Ia mengubah kekuasaan dan pengaruh itu menjadi kekayaan dan kepemilikan atas surat kabar Toronto, The Globe, cikal bakal The Globe and Mail sampai saat ini.
Sebagai penerbit dan presiden surat kabar tersebut, pengaruh dan kekayaannya semakin besar, yang berpuncak pada pengangkatannya sebagai Senator dari Partai Liberal. Robert Jaffray Sr. memiliki uang, pengaruh, kekuasaan, dan prestise—semuanya ingin ia wariskan kepada putranya, Robert Jr., yang telah ia siapkan sebagai penerus di surat kabar tersebut.
Namun Tuhan memiliki rencana lain.
Pada usia 16 tahun, Rob Jaffray muda menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan segera berada di bawah pengajaran A.B. Simpson. Semangat untuk misi mulai menyala dan membawa konflik ke dalam keluarga Jaffray.
Terganggu oleh tekad putranya dan khawatir akan kesehatannya—Rob muda memiliki masalah jantung dan diabetes—sang konglomerat alias taipan surat kabar itu membujuk dan memohon kepada putranya yang keras kepala. Namun, perdebatan dan permohonan itu sia-sia. Rob bertekad masuk ke New York Missionary Training Institute (yang kemudian bernama: Nyack College) dan mempersiapkan diri untuk pelayanan luar negeri di Tiongkok.
Dengan marah, ayah Rob memberikan ultimatum: jika Robert tetap bersikeras dengan mimpinya, ia akan diputus tanpa warisan. Bahkan, jika Misi CMA ingin mengirimnya ke Tiongkok, mereka harus membayar semua biaya yang diperlukan, karena Jaffray Sr. tidak akan membiayainya!
Namun, jika suatu hari Rob menyadari kesalahannya dan ingin pulang, ayahnya akan membayar kepulangannya.
Tanpa gentar, Jaffray bekerja membiayai sekolahnya dan pada tahun 1897 dikirim oleh CMA ke Wuchow (sekarang Wuzhou), di Tiongkok selatan, di mana ia menghabiskan 35 tahun berikutnya melayani Tuhan dan bangsa Tiongkok. Ia terjun sepenuh hati ke ladang pelayanannya, belajar membaca, menulis, dan berbicara bahasa Tionghoa dengan lancar.
Jaffray mulai memimpin program penginjilan dan perluasan misi yang terus berkembang. Dalam waktu satu tahun setelah kedatangannya di Wuchow, misalnya, Jaffray melakukan perjalanan eksplorasi pertamanya ke jajahan Indochina-Prancis, yang kini menjadi negara Vietnam, Laos, dan Kamboja.
Namun Jaffray tidak hanya sibuk membangun dirinya dalam dunia misi. Segera setelah kedatangannya di Tiongkok, ia bertemu seorang misionaris wanita yang telah lebih dulu berada di ladang pelayanan. Pada 7 Agustus 1900, Robert Jaffray menikahi Minnie Donor, seorang wanita yang menjadi pasangan hidupnya dalam pelayanan sekaligus ibu bagi anak tunggal mereka, Margaret.
Pekerjaannya yang penuh doa membuatnya dikenal sebagai “pria peta,” sebuah julukan yang kemudian diperluas oleh banyak orang hingga mencakup Kemah Injil (Alliance) di seluruh dunia sebagai “umat peta.” Hampir setiap hari ia menatap peta, berdoa bagi yang terhilang dan dengan saksama mempelajari ke mana Injil selanjutnya harus diberitakan.
Pada tahun 1911, Jaffray meluncurkan misi ke Vietnam di Da Nang. Dengan berpegang pada model yang telah ia dirikan, misi itu segera menjadi gereja yang kokoh, melayani orang Vietnam. Yang menyusul adalah ledakan iman di seluruh Vietnam. Seiring waktu, lebih dari 100 misionaris Kemah Injil (Alliance) mengikuti jejak Jaffray ke negara tersebut.
Pada tahun 2011, gereja-gereja Kemah Injil (Alliance) Vietnam di Kanada, Vietnam, dan seluruh dunia merayakan 100 tahun Alliance di negara mereka dan mengakui peran yang dimainkan oleh seorang Kanada yang rendah hati dalam pertumbuhan mereka. Saat ini (tahun 2012), Gereja Injili Vietnam (Christian and Missionary Alliance) memiliki hampir 300 pendeta dan 340 gereja; gereja tersebut juga mengelola sekolah dasar dan menengah, rumah sakit, seminari, dan percetakan.
Kembali di Tiongkok, beban kerjanya semakin bertambah, bahkan ketika ia merencanakan strategi dan lokasi misi baru. Ia memimpin Sekolah Alkitab Wuchow dan kemudian mendirikan Seminari Alliance di Hong Kong, mempersiapkan orang Kristen Tiongkok untuk pelayanan.
Menderita diabetes dan masalah jantung, ia memiliki meja khusus yang dibuat agar bisa digunakan saat berbaring. Bahkan ketika terbaring sakit, ia tetap menulis, mempersiapkan, dan mempelajari peta-petanya yang berharga. Rutinitas hariannya sering dimulai pukul 5 pagi, berdoa dan menulis di meja khususnya.
Bertekad menyediakan Injil dan bahan pelatihan dalam bahasa Tionghoa, ia mendirikan majalah Alkitab berbahasa Tionghoa. Untuk menerbitkannya dan banyak bahan pelatihan lainnya—sebagian besar ditulis oleh Jaffray sendiri—ia mendirikan penerbitan South China Alliance Press. Banyak kuliahnya dari sekolah Alkitab diubah menjadi artikel yang didistribusikan ke mana pun orang Tionghoa beribadah, baik di dalam maupun luar negeri.
Pada akhir usia 20-an (pelayanannya), Jaffray mengusulkan pindah ke Hindia Belanda, yang kini menjadi Indonesia. Ekspedisi penjelajahan pulau (Kalimantan) tahun 1928 meneguhkan rencananya, dan ia mendirikan basis di Makassar, Sulawesi (tahun 1931). Jaffray menerapkan pola yang sama yang berkembang di Tiongkok: sekolah Alkitab dan percetakan yang masih berkembang hingga kini (bernama Kalam Hidup yang berpusat di Bandung).
Satu dekade kemudian, misionaris dari Amerika Utara (AS dan Kanada) dan Tiongkok aktif bekerja bersama orang Kristen Indonesia untuk melayani di setiap pulau utama di kepulauan itu.
Pada tahun 1938, Jaffray kembali ke Kanada untuk cuti. Ia kini berusia 65 tahun, telah mencapai banyak hal, dan mampu menunjuk banyak pelayanan dan gereja yang berkembang di sebagian besar Asia Tenggara, Indonesia, dan Tiongkok yang ia kasihi.
Namun tahun itu, dengan perang yang semakin dekat, ia dan keluarganya didesak untuk tetap tinggal di Kanada. Namun Jaffray khawatir. “Jika saya tidak kembali sekarang, kecil kemungkinan saya akan pernah kembali sama sekali. Saya harus kembali ke Timur Jauh (Asia Tenggara). Saya ingin mati di sana, tempat seluruh hidup saya telah dicurahkan.”
Kembali di Makassar, dengan perang yang benar-benar telah meletus, perhatian Jaffray terutama tertuju pada rekan-rekan pelayanannya. “Anda mungkin jauh lebih aman di pedalaman daripada di pantai, tetapi Tuhan akan menuntun Anda. Anda tahu bahwa Hong Kong telah menyerah kepada Jepang dan keadaan di Manila terlihat cukup serius,” tulisnya kepada rekan-rekannya.
Ketika pasukan Jepang menginvasi Hindia Belanda pada tahun 1941, Makassar segera jatuh, dan keluarga Jaffray bersama warga sipil lainnya dipenjara. Minnie dan Margaret dikirim ke kamp wanita, sementara Robert dikirim ke kamp tawanan perang sekitar 150 mil di utara kota (Pare-Pare di Sulawesi Selatan).
Usianya membuatnya dibebaskan dari kerja berat, jadi ia tetap sibuk menerjemahkan karya-karya berbahasa Tionghoa ke dalam bahasa Inggris, sehingga ketika perang berakhir karya itu dapat diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia.
Seiring perang berlangsung, kondisi kamp memburuk, dan kesehatan Jaffray mulai menurun. Pada Juli 1945, pasukan Sekutu bertempur di pulau-pulau utara Indonesia, dan pesawat pembom Amerika menghantam Makassar. Para tawanan dipindahkan lebih jauh ke pedalaman Pegunungan Toraja.
Jaffray ditempatkan di sebuah gubuk bambu dan kandang babi yang dengan cepat diubah menjadi ruang perawatan darurat. Para penyintas melaporkan bahwa semua orang hidup dari ransum kelaparan, sering kali tidak makan selama 24 atau 36 jam, dan ketika mendapat ransum harian, itu hanya setengah cangkir nasi. Seorang sesama tawanan, F. Randall Whetzel, melaporkan bahwa penderita diabetes Jaffray membutuhkan garam dan gula, “tetapi tidak ada yang bisa didapatkan.”
Disentri melanda kamp dan kekejaman para penjaga meningkat. Whetzel melanjutkan: “Saya kembali terkena disentri dan ditempatkan di ruang perawatan sekitar empat tempat tidur dari Jaffray. Hari demi hari ia semakin lemah. Perawat pria diperintahkan untuk memanggil jika ia mendeteksi Jaffray mulai tergelincir (mendekati ajal).”
Pada 29 Juli 1945, hanya beberapa minggu sebelum perang berakhir, Robert Alexander Jaffray meninggal dunia dalam Tuhan. Kebaktian pemakaman diadakan sore hari pada hari yang oleh Whetzel disebut “hari yang dingin dan berangin,” dan paduan suara gabungan dari para tawanan Protestan dan Katolik menyanyikan “Nearer My God to Thee.”
Minnie dan Margaret baru mengetahui kematian Robert ketika mereka dibebaskan. Setelah perang, keluarga Jaffray pindah ke Makassar, tempat sebuah tugu peringatan kini berdiri.
Terkesan oleh teladan Robert Jaffray, Whetzel kembali ke Indonesia pada tahun 1948, diutus oleh Christian and Missionary Alliance. Ia melayani sebagai penerus Jaffray sebagai direktur lapangan dari tahun 1957 hingga 1963.
Gereja-gereja di Indonesia, Kamboja, Vietnam, dan Tiongkok, serta gereja-gereja diaspora dari negara-negara tersebut, terus bertumbuh. Warisan Robert Jaffray tetap hidup.
*Barrie Doyle, APR, penulis buku The Media and the Message, adalah Direktur Komunikasi Christian and Missionary Alliance di Kanada (tahun 2012).
*Diterjemahkan oleh Daniel Ronda dari Barrie Doyle, “Our Best-Kept Secret Revealed,” Alliance Canada, Spring 2012, hlm. 21–23. Catatan: huruf tebal dalam kurung adalah tambahan penerjemah.
