Author: GKII

Oleh: Daniel Ronda

 

Ada pepatah umum manusia sering katakan, “hidup itu adakalanya naik dan ada kalanya turun”, jadi bersiap selalu menerima semua situasi baik naik atau turun. Bagi pepatah ini musibah, sakit, penderitaan, kebangkrutan dianggap sebagai peristiwa turun dan sebaliknya berkat jasmani dan rohani, kesehatan serta karir yang bagus dianggap sebagai peristiwa naik. Sebenarnya dari kacamata iman, hidup itu naik-naik, bukan naik-turun. Mengapa? Karena kalau mengingat kisah Yusuf di dalam Kitab Kejadian maka orang bisa membuktikan hidupnya naik-turun. Masa dia naik ketika dia mendapat kasih sayang berlebih dari orang tuanya, dia menjadi pejabat terpenting di kerajaan Mesir. Tapi masa dia dibuang ke sumur, dijual ke Mesir dan masuk penjara dianggap sebagai peristiwa turun dalam masa Yusuf. Itu benar, karena secara nyata memang itu masa turun, tapi dari mata iman itu adalah peristiwa yang membuat dia naik. Dengan dijual saudara-saudaranya ke Mesir maka dia kelak akan menyelamatkan kaum keluarganya bahkan ratusan ribu bangsanya dari kelaparan. Bahkan peristiwa pemenjaraannya karena difitnah istri Potifar menjadi momen dia berjumpa dengan orang dalam kerajaan yang kemudian dipanggil untuk menafsirkan mimpi Firaun. Lewat mimpi itu rakyat Mesir pun terselamatkan dan dia menjadi penguasa di Mesir. Jadi dari mata iman hidup itu adalah naik dan naik. Yang secara manusia disebut turun tapi dalam mata iman kita itu adalah peristiwa yang membuat seseorang naik.
Yang terpenting dari semua peristiwa Yusuf itu ada dalam Kejadian 39:21 yaitu “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.” Penting sekali penyertaan Tuhan dan kesetiaan-Nya kepada manusia. Sepanjang hidup ini disertai dengan penyertaan serta kasih setia Tuhan maka hidup yang disebut orang naik-turun itu adalah sebenarnya hidup yang naik-naik!
Jangan bersedih sahabat! Yuk bangkit dan melangkah maju!

Oleh: Daniel Ronda

 

Tahun 2017 ini dirayakan sebagai ulang tahun GKII Wilayah Papua ke-55 yang jatuh pada setiap tanggal 6 April. Suatu syukur kepada Tuhan Yesus, kepala gereja yang menuntun gerejaNya sampai hari ini. Ketika menengok sejarah, ada pertanyaan yang menggelayut di pikiran kita yaitu mengapa juga dirayakan tanggal 13 Januari sebagai hari kelahiran GKII di Papua?

 

Kisah Tanggal 13 Januari 1939

Adalah keputusan Misi CMA di Makassar yang melihat kebutuhan besar akan Injil di Papua yang dulu bernama Dutch New Guinea. Pada tahun 1937 Pemerintah Hindia Belanda menemukan Danau Wissel di daerah Paniai yang ternyata sudah didiami masyarakat di sana sekitar 50 ribuan orang, walaupun yang baru berhasil didaftar 10 ribuan orang. Setelah mendengar hal ini, Dr. Jaffray dengan Tim Misi CMA memutuskan mengutus C. Russell Deibler dan Walter M. Post untuk melakukan perjalanan eksplorasi ke sana. Mereka berangkat dengan kapal Laut melewati Maluku dan tiba di Barat Daya Papua yaitu Pelabuhan Oeta tanggal 24 Desember 1938. Dengan bantuan wakil pemerintah Hindia Belanda, Bapak Cator di FakFak maka dipersiapkan perjalanan dengan motor trail ke sana. Maka tanggal 26 Desember berangkatlah Russel Deibler bersama seorang lainnya melakukan perjalanan eksplorasi selama 18 hari. Bapak Post tidak ikut dalam perjalanan. Maka tanggal 13 Januari 1939 tibalah mereka di Danau Paniai dan berjumpa dengan dua suku besar yaitu Zonggunu dan Kapauku. Setelah melakukan pendekatan dan pengamatan maka mereka kembali ke Makassar. Pada bulan Maret 1939 dua keluarga yaitu Kel. Deibler dan Kel. Post didampingi 3 mahasiswa Sekolah Alkitab Makassar dan 20 orang Dayak menuju ke Paniai. Sejak itulah Injil mulai diberitakan dan berkembang menjadi gereja-gereja di antara suku-suku di sekitar Danau Wissel. Sejak itu 13 Januari 1939 ditetapkan sebagai hari tibanya atau masuknya Injil di Tanah Papua oleh Misi CMA.[1]

 

Kisah Tanggal 6 April 1962

Dalam kurun waktu dua puluh tahunan Injil berkembang bukan hanya di kalangan suku Mee dan suku di sekitar Paniai, tapi sudah merambah ke Pegunungan Tengah Papua yaitu Suku Dani, Moni, Nduga, Damal, Amungme, dan seterusnya. Dengan terbentuknya gereja-gereja lokal, maka Misi CMA bersama pemimpin gereja nasional di Papua merasa perlu untuk membentuk suatu organisasi Gereja Kemah Injil Papua (New Guinea) yang kemudian akan bergabung dengan Gereja kemah Injil yang lain di Indonesia yang sudah lahir lebih dahulu. Nama waktu itu adalah KINGMI yang singkatannya adalah Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia.  Maka pada tanggal 6 April 1962 berkumpullah para pemimpin gereja baik dari Papua maupun Misi CMA untuk mengadakan konferensi pertama kalinya di Beoga. Mereka menamakan gereja mereka adalah Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia atau disingkat KINGMI Irian Jaya setelah masuk Indonesia. Pemimpin nasional yang pertama adalah Bapak Ch. Paksoal. Sejak itulah 6 April disebut hari ulang tahun lahirnya organisasi GKII di Tanah Papua.[2]

 

Penjernihan Istilah KINGMI dan GKII

Mengapa ada penggunaan KINGMI dan kini GKII? Dari tata bahasa, KINGMI adalah singkatan dari Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia. Ini mengikuti pedoman ejaan bahasa Indonesia tempo dulu. Sekarang diganti dengan mengikuti ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan sehingga dibalik menjadi Gereja Kemah Injil Indonesia.

Dari segi hukum organisasi, maka KINGMI awalnya adalah persekutuan di mana sejak tahun 1946 terbentuklah KINGMI, lalu ada di wilayah masing-masing mulai dari KINGMI Kalbar, Kaltim, Intim atau KINGMIT tahun 1951. Serta bergabung KINGMI Irian Jaya tahun 1962 dan KINGMI Jawa Sumatera tahun 1965. Lalu bergabung pula KINGMI Bahtera Injil di Sulut dan KINGMI Kibaid di Toraja serta Gereja Zending Kristen Indonesia di Jakarta. Sejak 1983 dalam Konferensi di Makassar, KINGMI memutuskan untuk menjadi gereja kesatuan dan bukan lagi persekutuan. Artinya semua KINGMI di wilayah masing-masing bergabung dan menyatukan diri menjadi KINGMI kesatuan dan kemudian diubah namanya menjadi GKII. Ada Kibaid dan Bahtera Injil serta GZKI tidak bersedia bergabung dan memisahkan diri. Sedangkan yang lainnya menyatukan diri, sehingga KINGMI tidak ada lagi dan diganti dengan nama Gereja Kemah Injil Indonesia. Jadi tidak ada lagi yang namanya KINGMI karena masing-masing wilayah telah menyetujui pembentukan gereja kesatuan.[3]

 

“Terus Mendaki”

Mengingat medan Papua yang begitu luas dan begunung-gunung, seorang pemimpin GKII di Papua pernah ditanya, “Bagaimana pencapaian GKII sampai usia 20 tahun ini (1982)?”. Dia mengatakan bahwa gereja sudah mengalami pertumbuhan, gereja nasional sudah berdiri dan banyak jiwa yang sudah datang kepada Kristus. Tapi itu baru saja mulai, kita harus terus mendaki![4] Ini adalah gambaran yang tepat, bahwa perjalanan pelayanan gereja Tuhan di Papua belum usai. Kita baru saja sedang mendaki yaitu berjuang untuk melepaskan manusia dari genggaman Iblis dan membawa mereka kepada kedewasaan dalam Kristus serta membawa damai dan sejahtera kepada masyarakat. Mari terus mendaki sampai Tuhan Yesus sang kepala gereja membawa kita kepadaNya di surga! Perjuangan masih panjang, mari kita daki bersama-sama. Selamat Ulang Tahun GKII di Tanah Papua ke-55! Tuhan memberkati.

 

[1] “Our First Missionaries to Wissel Lake Dutch New Guinea”, Majalah “Pioneer” ((Vol. 10/36: May 1939), hal. 15-20, diakses tanggal 7 April 2017 tersedia di https://www.cmalliance.org/resources/archives/downloads/pioneer/pioneer-1939-05.pdf . Juga lihat tulisan John R. Turnbull, “God’s Day for New Guinea” dan artikel lainnya di Pioneer (Vol X/36: Nov. 1939), hal. 12-35 diakses tanggal 7 April 2017, tersedia di https://www.cmalliance.org/resources/archives/downloads/pioneer/pioneer-1939-11.pdf
[2] Dari berbagai arsip di Kantor CMA Jakarta dan Majalah Behind The Range (Fall 1992), hal. 2-3 tulisan dari Don Gibbons yaitu “A Remarkable Story…Our Awesome God”.
[3] Catatan lengkap ini ada di berbagai sumber termasuk AD/ART GKII dan buku Rodger Lewis, Karya Kristus di Indonesia (Bandung: KH, 1995), hal. 471-491.
[4] Grace Cutts, “KINGMI (GKII) – A Birthday Blessing for You”, Majalah “Behind The Range” (Vol 17/2: 1982), hal. 9.

Oleh: Daniel Ronda

 

Apa itu spiritualitas?

Spiritualitas dalam Alkitab adalah suatu relasi atau hubungan yang akrab (intimacy) antara Tuhan dan umatNya yang dinyatakan Alkitab dalam bentuk narasi yang komunikatif, ritual, penyembahan (pujian), perintah dan teladan. Itu dilakukan dengan ritual seremoni, ibadah, relasi dalam doa serta disiplin membaca Firman Tuhan dan ketaatan baik pribadi maupun bangsa atau komunitas dalam hal ini gereja.

Jadi seperti apa spiritualitas yang Alkitabiah?
Spiritualitas Alkitabiah adalah rumusan atau pedoman tentang relasi antara Tuhan dan umatNya yang ditemukan dalam Alkitab dan pokok-pokok spiritualitas itu diaplikasikan ke dalam dunia masa kini. Dasar-dasar Alkitab:

  1. Allah yang berelasi dengan umatNya dalam penciptaan. Ini yang disebut Intimacy (atau intimasi) sebagai inti dari nilai spiritualitas. Kejadian 1-2 di mana Allah berkomunikasi secara intim dengan manusia;
  2. Allah mencari dan menyelamatkan manusia yang jatuh dalam dosa. Ini disebut dengan anugerah, sehingga spiritualitas adalah suatu relasi syukur karena anugerah Allah yang begitu besar dalam menyelamatkan manusia berdosa. Kejadian 3 adalah Allah mencari dan menyelamatkan manusia yang berdosa;
  3. Spiritulitas adalah berpuncak dalam seremoni penyembahan kepada Tuhan atau ibadah.
  4. Spiritualitas Alkitab berbicara soal disiplin dalam doa serta disiplin membaca dan merenungkan firman. Mazmur 1 adalah contoh tentang kesukaan akan firman Tuhan;
  5. Spiritulitas adalah komitmen untuk menjadi serupa dengan Kristus sehingga kekudusan adalah bagian dari komitmen menjadi serupa dan bukan sebuah ketaatan legalistik tanpa adanya syukur kepada Tuhan. Contoh dalam 1 Pet 1:16 tentang perlunya hidup kudus;
  6. Akhirnya spiritualitas adalah berbicara tentang komitmen melaksanakan pelayanan dan berbuah sambil menantikan kedatangan Tuhan. Mat 28:18-20 tentang Amanat Agung yang ada unsur penyertaan Tuhan dalam ketaatan pelayanan.

Pokok-Pokok Spiritulitas itu apa saja?

  1. Intimasi: spiritualitas adalah bukan hubungan komandan dengan bawahan tapi relasi antara pencipta dan ciptaan dalam keakraban. Itu dilakukan dalam penyembahan atau ibadah;
  2. Anugerah: bahwa relasi hubungan yang akrab harus didasari bahwa bukan karena saya baik tapi karena Tuhan yang menyelamatkan saya;
  3. Disiplin dan ketaatan: berarti ada unsur usaha manusia mendekatkan diri dengan Tuhan secara teratur dan disiplin dalam doa, penyembahan dan Firman Tuhan.
  4. Hidup yang memberkati: Ibu Teresa adalah contoh spiritualitas ditemukan ketika melayani sesama yang miskin.

Bagaimana pemimpin mewujudkan spiritulitas dalam kehidupan gereja?

  1. Pemimpin yang memberi teladan dalam kedekatan dengan Tuhan;
  2. Hidup dalam anugerah artinya tidak merasa diri sudah hebat tapi karena Tuhan yang angkat;
  3. Integritas yaitu apa yang dikatakan selaras dengan apa yang dibuat.
  4. Pemimpin dalam pengamatan saya ada yang fokus kepada ketaatan saja sehingga jatuh kepada legalistik formal. Sedangkan seharusnya relasi dulu dengan Tuhan. Juga spritualitas itu harus menjamah hati sehingga mengubah karakter menjadi serupa dengan Dia.
  5. Spiritualitas yang benar akan menghasilkan perubahan karakter dan komitmen yang sungguh dalam pelayanan. Ini yang akan menghasilkan pertumbuhan gereja.

Siapa model dalam Alkitab yang bisa dijadikan contoh?

  1. Daud bisa menjadi model tentang jatuh bangunnya dia menjadi pemimpin. Tulisannya di Mazmur kaya akan spiritulitas baik tatkala dia berhasi, maupun ketika dia sendiri terpuruk dalam dosa.
  2. Sedangkan untuk PB, tentu Tuhan Yesus adalah yang utama sebagai teladan spiritualitas kita bagaimana dalam kemanusiaanNya tunduk dan taat kepada Bapa. Relasi yang dalam ditunjukkan dalam Yohanes 17 sebagai salah satu contoh.
  3. Juga Paulus sebagai contoh bahwa pekabaran Injil adalah bentuk ekspresi spiritualitasnya di mana dia melihat hidup adalah Kristus. Yesus adalah pusat kehidupan dan pelayanannya.

Bagaimana mengaplikasikan spiritualitas dalam gereja?

  1. Lewat mimbar pengajaran, lewat acara-acara bersama seperti doa dan puasa, penelaahan Alkitab.
  2. Ibadah yang Kristosentris namun juga relevan bagi semua orang dan generasi, sehingga semua orang baik tua sampai anak-anak memiliki relasi dengan Tuhan. Kreativias dan inovasi ibadah adalah bagian dari relevansi yang tidak boleh mengorbankan hakikat penyembahan yang berpusat kepada Kristus.
  3. Kekudusan yang ditegakkan dalam anugerah dan pengampunan. Tiada hak bagi orang saling menghakimi tapi saling menopang dan mengangkat satu kepada yang lain. Artinya perlu menjadi komunitas yang penuh kasih dan anugerah tanpa menghilangkan tanggung jawab.
  4. Hidup keluar dalam menopang dan menolong orang lain yang menderita serta menggarami dunia kehidupan di mana kita berada lewat kata, perbuatan dan tindakan kasih.

 

Catatan: ini adalah jawaban kuesioner dari rekan sejawat Rev. Erwin Nuh Tantero yang sedang menyusun Disertasi. Jawabanlalu saya modifikasi menjadi sebuah artikel sederhana tentang spiritulitas. Blessings. (DR)

Kami atas nama Badan Pengurus Pusat Gereja Kemah Injil Indonesia mengucapkan Selamat HUT GKII Wilayah Papua 1,2,3 ke 55. Tuhan Yesus akan membangkitkan gerejaNya dan bersama kita meluangkan maju. Tuhan memberkati!

 

Gembala: Ev. Daud Nubatonis, S.Th.
Jl. Kepanjen Permai 2 blok MM 1B, Desa Talang Agung
Kec. Kepanjen, Kab. Malang
HP: 081233355981

Gembala: Ev. Andreas Mars Santoso, S.Th.
Jl. Slamet Riyadi 18B
Madiun 63117
HP: 081346376284

Pdt. Marison Philipus, STh.
Jl. Raya Solo No. III A Kraton
Maospati 63392
HP: 081335690576