Author: GKII

(Matius 6:16-18)

Oleh: Pdt. Dr. Nyoman Enos, M.Th.

 

I. PENGANTAR

Apa itu puasa ? Puasa adalah tidak makan dan minum dengan sengaja dan rela. Ada puasa 40 hari / malam, ada 3 hari / malam, ada 1 hari / malam, dan ada puasa 3 jam.

 

II. TUJUAN PUASA

Untuk mencari atau mendapat Kuasa & petunjuk Tuhan Allah dalam suatu pergumulan pribadi dan pelayanan pekerjaan Tuhan (Kisah Para Rasul 13:1-3 dan Hakim-Hakim 20:26-28)

 III. BAGAIMANA PUASA DILAKUKAN ?

  1. Puasa dilakukan dengan diam – diam,tanpa diketahui orang (Matius 6:17-18)
  2. Hentikan pekerjaan & pertengkaran (Imamat 16:29,23:32 dan Yesaya 58:3-5)

IV. BAGAIMANA BENTUK ACARA DOA PUASA ITU ?

Menurut Kitab Nehemia 9, ada 6 mata acara doa puasa, yaitu:

  1. Mengakui dosa pribadi, keluarga, jemaat, bangsa (Nehemia 9:2b).
  2. Pujian & penyembahan dengan lagu puji-pujian kepada Tuhan (Nehemia 9:3b).
  3. Membaca bagian-bagian kitab suci (Nehemia 9:3a).
  4. Mengikarkan pertobatan untuk tidak berbuat dosa lagi (Nehemia 9:38).
  5. Doa memohon : pemulihan, kuasa Roh Tuhan dalam pelayanan, dan petunjuk Tuhan dalam melaksanakan penginjilan.
  6. Tutup dengan doa Bapa kami (Matius 6:9-13).

V. BERKAT-BERKATNYA

  1. Kuasa Allah dicurahkan (Yesaya 58:8).
  2. Permintaan doa dikabulkan (Yesaya 58:9).
  3. Mampu jadi berkat (Yesaya 58:10).
  4. Tuhan memberi penyertaanNya kepada kita (Yesaya 58:11).
  5. Allah memberi kita kemampuan membangun fisik dan iman jemaat (Yesaya 58:12).

VI. PENUTUP

  1. Umat Tuhan dalam Perjanjian Lama diperintahkan melakukan doa puasa.
  2. Gereja dalam Kisah Para Rasul 13:1-3, melaksanakan doa puasa dalam pelayanannya.
  3. Sekarang seharusnya para Gembala GKII melaksanakan dan meningkatkan semangat puasa.

 

Adakanlah doa puasa yang kudus (Yoel 1:14),

dengan mengikuti 6 (enam) langkah diatas.

Harimau dalam gambar hati manusia melambangkan sifat hati yg cepat marah /  pemarah / amarah.

  1. Kemarahan ibaratnya raungan singa (Amsal 119:12).
  2. Kemarahan adalah sifat yg berasal dari dosa; “Perbuatan daging sudah nyata amarah” (Galatia 5:20)
  3. Perkataan yang pedas merupakan pemicu bangkitnya amarah (Amsal 15:1).
  4. Hati yang tanpa Kasih Kristus, penuh Amarah; “Kasih itu tidak pemarah” (1 Koristus 13:5).
  5. Kemarahan mendorong perbuatan dosa.
  6. Herodes marah, mendorong ia membunuh anak-anak (Matius 2:16).
  7. Raja Uzia marah, mendorong dia berbuat dosa (2 Tawarikh 26:19).
  8. Imam besar marah, mendorong dia menangkap dan membunuh rasul-rasul (Kisah Para Rasul 5:17 & 7:54-60)
  9. Orang pemarah / amarah harus diserahkan kepada api neraka yang menyala-nyala (Matius 5:22).

Tuhan Yesus memberkati.

Oleh: Daniel Ronda

Sewaktu saya berkesempatan berkunjung ke salah satu Gereja Kemah Injil Fairhaven di Dayton Ohio Amerika Serikat beberapa waktu lalu, saya dan istri dibuat terkaget-kaget dengan fasilitas pelayanan anak yang dibuatnya. Bahkan ada khusus Gembala Anak dan tim pelayanan anak yang melayani anak dan remaja atau yang dikenal dengan Sekolah Minggu di Indonedia. Yang mengagetkan fasilitas pelayanan anak yang disiapkan, tempatnya luas bahkan banyak fasilitas permainan dan olahraga. Semuanya memakan biaya 26 milyar rupiah lebih (2 juta dollar) hanya untuk fasilitas pelayanan anak!!! Belum lagi kurikulum pembelajarannya yang baik sekali. Saya tanya kepada gembalanya Rev. David Smith tentang mengapa bagus benar fasilitas pelayanan anak ini dan dia menjawab bahwa pelayanan anak adalah salah satu kunci pertumbuhan gerejanya. Anak yang diselamatkan bukan hanya untuk anak tapi membuat orang tuanya pun tertarik dan menghargai pelayanan ini yang pada akhirnya mereka pun aktif di dalam gereja.

 

Mungkin cerita di atas terlalu besar untuk ukuran kita, tapi pertanyaan seberapa serius sebenarnya kita menggarap pelayanan anak? Apakah ini hanya dibiarkan kepada tim guru-guru sekolah Minggu yang mengurusnya dan membiarkan mereka mencari bahan pelajaran dan mengajar dengan fasilitas seadanya?

 

Sejarah sekolah minggu sebenarnya dimulai dari pelayanan seorang pelayan Tuhan dari Gereja Anglican bernama Robert Raikes (1725-1811) di Inggris. Pelayanan ini sebenarnya dimulai dengan menolong anak-anak agar bisa membaca, karena dalam perkembangan revolusi industri di Inggris di mana dengan banyaknya pabrik-pabrik maka anak-anak pun disuruh bekerja. Bahkan mereka harus bekerja 12 jam sehari dari Senin sampai Sabtu. Maka waktu yang tersisa adalah Minggu sehingga waktu itu dipakai untuk mengajarkan membaca dan menulis untuk anak-anak. Gerakan Raikes mendapat sambutan berbagai organisasi gereja maupun organsiasi di luar gereja baik di Inggris dan Amerika sehingga mereka ramai-ramai membuat pelayanan untuk anak. Akhirnya pada abad ke 19 pelayanan anak ini sangat populer dan hampir ada di semua gereja. Bahkan semua orang tua baik yang rajin ke gereja maupun yang tidak berterima kasih dengan adanya program ini dan mendorong anaknya untuk ikut sekolah minggu. Pelajaran dalam sekolah minggu adalah mengajarkan anak untuk menulis, membaca dan berhitung dan tentunya pelajaran agama. Alkitab menjadi buku teksnya yang dipakai untuk membaca. Anak-anak diminta membaca dan menyalin semua ayat-ayat firman Tuhan. Di kelas ini juga diajarkan katekisasi, berdoa, menyanyi lagu pujian. Mereka juga punya target bahwa anak-anak akan memiliki moral yang baik dan menunjukkan kebaikan kepada sesama. Lalu mereka yang aktif di sekolah minggu, ketika dewasa diangkat menjadi guru sekolah minggu, dan akhirnya diangkat dalam kepemimpinan gereja. Jadi sekolah minggu berperan besar dalam pengembangan kepemimpinan dari sejak anak-anak.

 

Ketika akhirnya pemerintah Eropa dan Amerika membuat sekolah umum untuk anak-anak dari Senin sampai Sabtu dan melarang anak bekerja, maka Sekolah Minggu tetap eksis menjalankan fungsinya sebagai pelayanan rohani untuk anak-anak. Dapat dikatakan sejaka awal Sekolah Minggu sudah ada unsur pelayanan kepada kaum miskin sehingga anak-anak yang tidak mampu ditolong. Begitu pula ada pelayanan sosial dan moral untuk anak-anak yang membawa anak kepada perubahan menjadi pribadi yang takut Tuhan dan berhasil dalam kehidupannya.

 

Sampai hari ini pelayanan Sekolah Minggu di gereja adalah alat yang paling efektif dalam pertumbuhan gereja selama 200 tahun ini di Amerika Serikat. Memang dapat dibuktikan bahwa gereja-gereja di Amerika yang memiliki pelayanan Sekolah Minggu telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan (Darren W. Thomas). Sekolah Minggu memberi kontribusi besar untuk pertumbuhan gereja. Mengapa demikian? Pertama, secara psikologis orang tua tentu menginginkan anaknya baik apalagi orang tua saat ini tidak ada waktu lagi mengajarkan iman dan pelajaran firman Tuhan kepada anak-anaknya. Maka mereka menyerahkan kepada gereja. Ketika gereja memberikan pelayanan yang istimewa untuk anak akan terjadi apresiasi yang tinggi setiap orang dewasa sehingga mereka pun tertarik kepada komunitas kehidupan gereja karena melihat perubahan apada anak mereka. Kedua, anak-anak yang dididik sejak kecil di dalam Tuhan dan menerima Kristus di usia dini mereka ini akan menjadi tulang punggung pelayanan gereja. Mereka akan berkorban dan menunjukkan dedikasi dalam pengembangan gereja karena penanaman nilai-nilai Kristiani sejak anak-anak. Rata-rata anak menerima Tuhan sebagai juruselamat di usia yang dini. Ketiga, anak-anak akan bertumbuh kepemimpinannya jika aktif dalam pelayanan sekolah minggu. Sulit sekali kemudian bagi mereka tinggalkan gereja pada masa dewasa jika sejak anak-anak telah aktif di sekolah minggu. Banyak orang dewasa yang sukses senantiasa mengingat peran pendidikan dini yang dialaminya di Sekolah Minggu. Bahkan mereka pun akan membawa orang lain ke gereja untuk mengalami perubahan seperti dirinya.

 

Dapat disimpulkan pelayanan anak adalah ladang misi yang potensial dan membawa gereja mengalami pertumbuhan yang dinamis ke depannya. Apa pelajaran bagi warga GKII? Sudah waktunya gembala dan BPJ memberi perhatian khusus kepada agenda pelayanan Sekolah Minggu sehingga bukan menjadi hal biasa dan rutin saja. Harus ada gerakan perubahan yang luar biasa dari para gembala dan BPJ seperti soal penganggaran dana gereja lokal untuk anak, fasilitas ruangan-ruangan, peningkatan kualitas guru-guru bahkan jika diperlukan ada Gembala Anak khusus. Tanpa beban dan sentuhan para pemimpin, pelayanan anak akan menjadi rutinitas biasa dan tidak memiliki peran apapun dalam dinamika perkembangan gereja. Dibutuhkan komitmen yang punya hati terhadap anak-anak (DR).

 

Sumber Penulisan:

Darren W. Thomas, “The Role, History, and Decline of the Sunday School” tersedia di https://eridan.websrvcs.com/…/…/historyofthesundayschool.pdf, diakses tanggal 9 Agustus 2017.

Timothy Larsen, “When did Sunday Schools Start?” tersedia dihttp://www.christianitytoday.com/…/when-did-sunday-schools-…, diakses tanggal 9 Agustus 2017.

Oleh: Daniel Ronda

Seringkali gerakan Pentakosta mendapat olok-olok dari teolog dan akademisi di seminari atau sekolah tinggi teologi. Bahkan masih banyak pemimpin gereja arus utama dan Evangelikal menganggap remeh pergerakan ini dan mengabaikannya. Bahkan terdengar ungkapan sinis “teologi mereka dangkal”, hamba Tuhannya tidak sekolah teologi atau sekolah teologinya abal-abal, hanya bicara kemakmuran dan berkat, hanya pindahkan anggota alias curi domba, dan masih banyak kritik yang dilontarkan. Namun satu hal yang dilupakan bahwa gerakan ini sudah menjadi fenomena dunia secara global yaitu ketika Kristen Protestan kehilangan jutaan anggota justru Pentakostalisme menarik banyak orang masuk ke dalam gerakan ini. Bahkan Katolik pun merasakan dampaknya di Amerika Latin, di mana banyak umat mereka masuk ke aliran ini. Bahkan tiga perempat yang disebut Kristen Protestan di Amerika Latin saaat ini adalah gereja Pentakosta. Amrika Latin adalah rumah besar bagi gerakan Pentakosta.

 

Jika dulu orang berkata asal gereja maka gereja cukup terbagi tiga Katolik, Prostestan dan Ortodoks Timur. Hari ini pembagian itu sudah tidak relevan lagi dan tidak bisa lagi ditelusuri asal muasalnya karena mereka sudah menjadi begitu banyak gerakan baik dari Pentakosta serta Kharismatik dan sejumlah gereja independen. Jadi jika membayangkan gereja itu seperti pohon maka dia sudah rimbun sekali karena terlalu banyak cabangnya. Tentu yang paling menonjol adalah gerakan Pentakosta. Berapa jumlahnya saat ini di dunia? Diperkirakan lebih dari 600 juta anggotanya di seluruh dunia dan itu nomor dua terbesar setelah Katolik. Gereja Katolik menjadi besar sekali membutuhkan beberapa abad sejak upaya mencari daerah baru yang disebut Padroado. Tapi gerakan Pentakosta hanya membutuhkan 100 tahun untuk menjadi kedua terbesar dalam sejarah kekristenan. Apa yang menjadi rahasianya sampai pemimpin Katolik pun turun tangan mempelajari dan mengadopsi ajaran ini?

 

Dengan kata lain apa karakteristik Pentakosta? Walaupun memiliki pandangan beragam ajaran, ada beberapa karakteristik dasar yang ada padanya yaitu Gerakan Pentakosta percaya kepada karya Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul masih berlaku sampai saat ini, termasuk berbahasa roh, seluruh karunia serta tanda dan mujizat. Gerakan ini percaya kepada kesembuhan ilahi, percaya kepada nubuatan yaitu kata-kata hikmat dan pengetahuan yang mana Roh Kudus memimpin gerejaNya hari ini. Ibadah mereka sangat bersemangat dengan alat musik band lengkap, menyanyi dengan bersorak yang disertai tepuk tangan, angkat tangan dan melompat yang penuh antusiasiasme. Banyak yang bertanya, fenomena apakah hal seperti ini? Mengapa bisa menarik begitu banyak orang di abad ke 21 ini? Tentu akan ada banyak analisisnya. Belum ada studi komprehensif tentang gerakan ini, tapi sudah banyak kajian internasional terhadap fenomena global gerakan Pentakosta ini. Yang jelas teologi mereka sederhana namun mereka sangat bergantung kepada kuasa Roh Kudus. Keyakinan mereka akan Roh Kudus sama berkuasanya dari zaman gereja mula-mula sampai sekarang membuat mereka berbeda dengan gerakan pendahulunya.

 

Di Indonesia sendiri gerakan Pentakosta tiba sudah sejak tahun 1921. *) Dulu jika menyebut kata Pentakosta di kampung saya di Toraja pasti langsung disebut sekte yaitu istilah halus untuk bidat, namun hari ini gerakan ini menjadi gerakan yang besar dan berpengaruh di Indonesia. Bagi yang belajar misiologi akan tercengang melihat fenomena perkembangannya di Indonesia. Bahkan hampir setengah populasi Kristen di Indonesia adalah Pentakosta dan Kharismatik, walaupun tidak ada data komprehensif dan akurat yang menjelaskan jumlah mereka. Walaupun demikian secara kasat mata mereka yang menguasai media dan tempat ibadah yang strategis. Bila di awal kedatangan Pentakosta mereka melayani kaum marjinal, maka saaat ini mereka sudah masuk ke semua lini sosial masyarakat dari rakyat jelata sampai konglomerat. Mereka pun aktif berpolitik di Indonesia dan nampak lebih aktif bersuara di media daripada lembaga-lembaga seperti PGI dan KWI yang sudah lama menjadi partner pemerintah. Tentu kita masih menunggu banyak tulisan-tulisan tentang gerakan ini di Indonesia, namun sudah sepatutnya gereja-gereja tidak mengabaikan fenomena ini.

 

Pelajaran apa yang bisa diambil GKII dari gerakan global yang fenomenal ini? GKII dapat dipulihkan menjadi gerakan besar jika kita bersedia mendengarkan dan mau belajar dari gerakan ini yang memiliki keyakinan yang kokoh akan otoritas firman Tuhan, penuh gairah dalam mengabarkan Injil dan mencari jiwa, dan memiliki komitmen yang dalam kepada sentralitas Yesus Kristus dan percaya kepada kuasa Roh Kudus yang masih bekerja sampai saat ini. Walaupun kita harus tahu memilah kebenaran, tapi gereja harus saling belajar dan memperkaya diri dengan saling mendengarkan dan bukan saling mencela dan mengkritik satu kepada yang lainnya, karena semua pergerakan yang ada pasti ada maksud Tuhan di balik itu (DR).

 

Sumber Penulisan:

*) Studi nukilan sejarah tentang Pentakostalisme di Indonesia juga bisa dibaca salah satunya dari tulisan Cornelis van der Laan, “Mutual Influences of Indonesian and Dutch Pentacostal Churches” di Jurnal GEMA Vol. 36, No. 1, April 2012 : 95–126 tersedia di
http://ukdw.ac.id/journal-t…/…/gema/article/viewFile/138/pdf diakses tanggal 8 Agustus 2017.

Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).

Oleh: Daniel Ronda

Tanggal 1 Oktober 1949 ditandai sebagai hari kemenangan komunisme di Tiongkok di bawah kepemimpinan Mao Zedong (Tse-tung) dan mendeklarasikan negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dalam tahun pertama pemerintahan komunis memerintah, ribuan misionari asing diusir keluar dari Tiongkok di mana jumlah orang Kristen tahun itu di seluruh negeri ada berjumlah 4 juta jiwa. Pemerintah komunis melarang adanya agama yang mempercayai Tuhan tapi menggantinya dengan menghormati negara dan pemimpin besar mereka yang diberi gelar Ketua Mao. Jadi praktik penyembahan kepada Tuhan secara resmi dilarang dan diganti dengan kesetiaan kepada negara.

 

Pada tahun 1951, pemerintah komunis membuat suatu biro yang dinamakan Biro Urusan Agama yang tugasnya mengawasi agama dan kegiatan agama serta memberikan hukuman sampai hukuman mati kepada pemimpin dan penganut agama-agama yang bertentangan dengan undang-undang yang dibuat pemerintah komunis. Upaya memadamkan agama rupanya tidak berhasil dan tidak berjalan sesuai rencana sehingga mereka akhirnya membentuk badan kontrol yang mengawasi dengan ketat dan keras. Badan kontrol yang dibentuk pemerintah bernama Gerakan Tiga Patriotis Diri (Three Self Patriotic Movement). Badan ini bertugas mengontrol gereja-gereja dan memaksa para pemimpin gereja menandatangani pernyataan bahwa agama Kristen adalah agama imperialis Barat yang dipakai negara-negara Barat untuk menjajah dan menghancurkan Tiongkok. Mereka dipaksa menandatangani surat itu. Jika tidak bersedia maka mereka akan dipenjara dengan siksaan, dipermalukan di depan umum dan gereja mereka ditutup. Karena cukup banyak denominasi gereja di Tiongkok, maka mereka memutuskan untuk mendaftarkan gereja sehingga gereja yang boleh ada harus mendaftar pada pemerintah dalam hal ini Biro Keagamaan yang dibentuk. Tentunya, selain menandatangani pernyataan bahwa Kristen adalah agama imperialis Barat, mereka juga harus menyatakan kesetiaan patriotis mereka kepada negara. Bila ada gereja yang berani beribadah tanpa mendaftar maka pasti akan menghadapi penganiayaan, penjara dan penutupan gereja.

 

Tahun 1966-1976 di Tiongkok ada periode yang disebut Revolusi Kebudayaan. Ketua Mao terjun tangan langsung melawan kekristenan. Dia dalam pidato menyatakan secara resmi bahwa agama Kristen adalah musuh negara dan memerintahkan untuk gereja dihancurkan, kekayaan gereja disita, bahkan tidak boleh ada ekspresi keagamaan yang dilakukan di depan umum atau di masyarakat, seperti doa, ibadah syukur dan sebagainya. Tentu tujuannya menghapuskan kekristenan di seluruh negeri. Bahkan mereka melakukan berbagai propaganda lewat berbagai media termasuk surat kabar yang secara arogan membuat orang Kristen merasa jerih dengan iman mereka. Bahkan dalam sebuah koran di Sanghai yaitu South China Morning Post pada bulan Agustus 1966 menuliskan sebuah berita besar dengan judul “Kekristenan Segera Habis di Sanghai”. Apakah benar kekristenan mati akibat gerakan revoiusi kebudayaan ini? Sejarah justru berbicara sebaliknya.

 

Lewat tekanan komunisme yang berat dihadapi gereja di Tiongkok, Tuhan menghadirkan sosok-sosok anak Tuhan yang setia dan melawan arogansi pemaksaan agama harus didaftar dengan aturan yang zalim. Mereka adalah Wang Mingdao (1900-1991), Allen Yuan (1914-2005), Moses Xie (lahir tahun 1918). Mereka adalah para tokoh gereja yang setia dengan Tuhan dan menentang semua kontrol agama atas negara. Ketiga orang ini dipenjara rata-rata 20 tahun dan bahkan dalam penjara mereka mengalami interogasi keras dan siksaan karena iman mereka kepada Yesus. Ada juga tokoh yang dihukum 10 tahunan seperti Watchman Nee (1903-1972) dan Samuel Lamb (lahir tahun 1925). Tokoh-tokoh ini walaupun ada aniaya yang berat mulai melakukan pelayanan media dengan banyak menulis buku, pamflet, traktat, lagu-lagu rohani untuk mendukung gerakan gereja bawah tanah yaitu gereja yang tidak mau dikontrol Biro Pengawas Keagamaan. Lewat tekanan yang dialami maka makin menjamur gerakan gereja di bawah tanah atau disebut juga gereja rumah atau gereja tidak terdaftar (unregistered church).

 

Inilah catatan yang menarik tentang pertumbuhan gereja di Tiongkok. Ketika gereja mengalami aniaya yang sangat berat baik dari aturan maupun secara kekerasan fisik, gereja di sana yaitu gereja rumah ini makin bertumbuh dengan pesat. Seharusnya dapat dikatakan sulit bertumbuh manakala gereja di sana tidak boleh sama sekali mengaakan kontak dengan pihak asing, kiriman uang dari pihak luar, bahkan buku-buku dan bahan pelajaran pun tidak boleh dari luar. Tapi lewat kemandirian gereja di Tiongkok ini justru gereja rumah ini mengalami ledakan dalam jumlah bahkan masuk ke semua elemen masyarakat mulai dari level sosial atas sampai ke bawah. Saat ini jumlah orang Kristen di Tiongkok ada sekitar 90 juta jiwa. Ini membuat gereja yang paling bertumbuh di dunia. Bahkan mereka sudah mulai mengutus penginjil ke luar negeri, sehingga diperkirakan di tahun 2025 gereja di Tiongkok akan menjadi gereja pengutus penginjil terbesar di dunia. Mereka keluar dengan pelatihan yang sederhana dengan membawa identitas kontekstual untuk menghidupi diri mereka dan status mereka di negara tujuan pelayanan.

 

Kisah dramatis di pertumbuhan gereja di Tiongkok dan munculnya gereja di sana menjadi gereja pengutus membuat peta misi dunia akan mengalami perubahan pada akhir abad ke 21. Di samping itu sebagai warga GKII, maka pelajaran yang bisa diambil adalah walaupun ada aniaya dan kesukaran hidup dalam pelayanan kita tidak boleh takut akan masa depan gereja dan diri kita. Jangan menyerah karena kesulitan hidup, setiap hamba Tuhan GKII harus siap bayar harga. Dalam konteks gereja, semakin gereja dianiaya semakin kuat gereja itu jadinya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa menghalangi terang Injil Tuhan (DR).

 

Sumber bacaan: Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).

Oleh: Daniel Ronda

Mungkin nama-nama gereja berikut sudah kita dengar sebelumnya atau ada yang baru mengetahui seperti GKKA (Gereja Kebangunan Kalam Allah), Gepekris (Gereja Persekutuan Kristen Indonesia), dan GPMII (Gereja Persekutuan Misi Injil Indonesia). Ketiga gereja itu adalah berasal dari sebuah gerakan misi di Tiongkok yang digagas oleh Dr. R.A. Jaffray yang kemudian membentuk organisasi misi yang bernama Chinese Foreign Missionary Union (CFMU). Saat Jaffray masih menjadi guru di Sekolah Alkitab Cien Tau di kota Ik Chou Provinsi Kwang Si di China Bagian Selatan, Jaffray oleh rekan-rekannya dikenal sebagai manusia peta karena di dinding kantornya dipenuhi oleh berbagai peta dunia. Suatu hari di hadapan murid-muridnya ia membentangkan peta Asia Tenggara dan mata tertuju kepada Indonesia (dulu Hindia Belanda) dan menantang para siswa sekolah Alkitab bahwa mereka harus berdoa untuk adanya tenaga penginjil yang siap diutus ke daerah-daerah ini. Apalagi Jaffray melihat begitu banyak orang Tionghoa berada di luar negeri tapi belum ada gereja di antara mereka di sana. Sekolah Alkitab Cien Tau waktu itu sudah punya hati misi dan dikenal dengan motonya “Buka ladang baru, bersedia menderita dan berkobar-kobar dalam Roh”. Sejarah kemudian membuktikan para lulusan sekolah Alkitab ini keluar dari negaranya pergi melayani sampai ke Indonesia.

 

Untuk merealisasikan gerakan penginjilan ini keluar dari Tiongkok, maka di tahun 1929 bersama rekan-rekan sekerjanya para pendeta dari gereja Tionghoa memulai karya CFMU yang fokusnya melayani Asia Tenggara yaitu ke Vietnam, Kamboja, Thailand, Myanmar, Malaysia dan Indonesia. Nama-nama yang diundang Jaffray adalah Dr. Leland Wang, Pdt. Tzau Liu Thang, Pdt. Hwang Yen Tsu, Pdt. Liang Tsie Kau, Pdt. Wu Ci Hwa, Dr. William C Newbern D.D dan Pdt. Wilson Wang. Akhirnya terbentuk CFMU pada tanggal 26 Maret 1929 berkedudukan di Ik Chou, Provinsi Kwang Si yang nantinya kemudian markasnya dipindahkan ke Hongkong.

 

CFMU kemudian menjadi lembaga misi yang menggerakkan orang menjadi penginjil. Banyak di antara mereka yang berlatar belakang pengusaha dan pedagang yang kemudian bersedia menjadi penginjil dan masuk Sekolah Alkitab Cien Tau sebelum diutus ke luar negeri. Lembaga misi ini kemudian dipimpin oleh Dr. Leland Wang dan Jaffray sendiri menjadi wakilnya. Mengapa demikian? Karena Jaffray berkeinginan gereja Tionghoa sudah waktunya menjadi gereja pengutus misi dan bukan dari gereja Barat lagi. Ini adalah sejarah misi yang patut dicatat bahwa gereja di China di tahun 1920-an sudah mengutus penginjil ke luar negeri dan di tahun 1929 sudah terbentuk lembaga misi gereja Tionghoa pertama dengan nama CFMU yang terlibat dalam pengutusan luar negeri sampai ke Indonesia.

 

Ada beberapa nama penginjil yang diutus di Indonesia, seperti Pdt. Choe Sing Hwen. Dia adalah misionari pertama CFMU yang diutus keluar Tiongkok yang mula-mula melayani di Vietnam lalu diutus ke Makassar dan Tarakan. Lalu ada Pdt. Tze Ying Kwang melayani di Makassar. Kemudian ada Pdt. Tsang To Hang melayani di Bali. Juga Pdt. C.Y. Wong diutus ke pulau di Sumatera, tepatnya di Bangka-Belitung dan sekitarnya. Kemudian dia mengadakan penginjilan di beberapa daerah di Jawa. Ada juga Pdt. Yason S. Linn serta Pdt. Liem Kwang Ling yang diutus ke Samarinda dan masuk ke pendalaman Kalimantan Timur dengan menyusuri Sungai Mahakam. Pelayanan mereka kemudian dilanjutkan oleh Pdt. Chang Shieh Ying yang berhasil membuka ladang baru di pendalaman Kalimantan Timur. Lalu Pdt. James Timothy Chen dan beberapa penginjil yang diutus melayani di Samarinda. CFMU bukanlah lembaga misi hebat dalam finansial karena mereka banyak mengalami krisis keuangan terutama di tahun 1940-1945an terjadi gejolak politik dunia maupun di Tiongkok. Namun dalam kesulitan mereka bertahan melayani dan siap menderita demi Injil Kristus.

 

Dari pelayanan mereka lahirnya tiga gereja Tionghoa di Indonesia yaitu GKKA, Gepekris dan GPMII. Itu terjadi karena Bimas Kristen RI di tahun 1972 meminta gereja di bawah naungan CFMU harus berganti nama dengan nama Indonesia. Dari CFMU inilah lahir tiga sinode di atas. Belum lagi para penginjil yang tamatan dari Sekolah Alkitab Cien Tau yang notabene adalah murid Jaffray bergabung dengan gereja-gereja Tionghoa yang sudah ada di Indonesia atau mendirikan gereja sendiri di kemudian hari. Misalnya Jason S. Linn (Yason S. Lim) yang adalah utusan misi CFMU yang lama melayani di Kalimantan, kemudian datang ke Jakarta membentuk pelayanan di antara orang Kanton (Cantonese) dan sekarang berdiri gereja yang dikenal dengan nama Gepembri (Gereja Pemberita Injil).

 

Pelajaran apa yang diambil dari kisah misi badan CFMU ini? Pertama, gereja di Tiongkok adalah teladan gereja Asia dalam mengutus penginjil ke luar negeri. Bukan karena mereka kaya dan hebat, tapi karena mereka digerakkan oleh kasih Kristus untuk mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang. Walaupun tujuan pertamanya mencari jiwa-jiwa diaspora yaitu menjangkau orang Tionghoa di luar negeri namun para penginjil ini juga menjangkau suku-suku lain yang ada di Indonesia termasuk suku-suku di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Bima dan seterusnya. Kedua, hamba Tuhan harus siap bayar harga untuk menjadi hamba Tuhan dan rela menderita demi Kristus. Ini pelajaran berharga dari sejarah jangan sampai zona nyaman yang ada pada gereja-gereja saat ini membuat lalai untuk menjangkau dunia di luar sana yang membutuhkan kasih Tuhan. Dibutuhkan hamba Tuhan yang siap bayar harga. Ketiga, sudah waktunya sesama gereja di bawah payung pendiri Dr. R. A. Jaffray bersinergi bersama dalam menjangkau ladang yang masih luas ini untuk melanjutkan apa yang telah diwariskannya (DR).

 

Sumber Penulisan:

“Gereja Pemberita Injil” tersedia di http://profilgereja.wikidot.com/gereja-pemberita-injil diakses tanggal 30Juli 2017

“Sejarah CFMU” tersedia di http://gkkaupg.blogspot.co.id/2009/03/sejarah-cfmu.html diakses tanggal 30 Juli 2017.

“Sejarah GEPEKRIS” tersedia di http://www.gepekris.com/tentang-kami/sejarah/ diakses tanggal 30 Juli 2017.

“Sejarah GKKA Indonesia Jemaat Ujungpandang” tersedia dihttp://www.gkkamks.org/our-history/ diakses tanggal 30 Juli 2017.

Oleh: Daniel Ronda

Menurut Rodger Lewis bahwa ada tiga strategi keberhasilan yang kemudian disebut tiga pilar pelayanan Dr. R.A. Jaffray yaitu : penerbitan, pendidikan dan gereja pusat (baca Lewis 37-76). Kemudian dari patokan ini semua tulisan selanjutnya tentang strategi misi GKII mengikuti pedoman ini dalam menulis tentang Jaffray. Untuk penerbitan, beliau menerbitkan majalah The Pioneer dan The South China Alliance Tidings (Lihat catatan Nierkinchen). Untuk di Indonesia yang sampai hari ini penerbitan yang eksis dan telah membesar adalah penerbitan Kalam Hidup. Untuk pendidikan, STT Jaffray yang dulu bernama Sekolah Alkitab Makassar adalah hasil pelayanan beliau dan kemudian munculnya STT-STT lain di daerah-daerah. Sedangkan untuk gereja, Rodger Lewis banyak memfokuskan kepada Gereja Kemah Injil walaupun ada gereja lain yang lahir dari tangan Jaffray secara langsung seperti Gereja KIBAID, Gereja Bahtera Injil, Gereja Menara Injil, serta yang lahir dari lembaga bentukan Jaffray yaitu Chinese Foreign Missionary Union (CFMU) yaitu GKKA, GPMII dan GEPEKRIS. Pertanyaan yang mungkin patut dipikirkan adalah benarkah hanya itu strategi misi Jaffray?

 

Jika meneliti sejarah lebih jauh sebenarnya pelayanan Jaffray di Indonesia memiliki satu pilar dengan lima strategi, bukan tiga pilar seperti yang ditulis Rodger Lewis. Pilar utama Jaffray adalah penggenapan Amanat Agung Yesus Kristus. Itu satu-satunya alasan mengapa dia datang ke Indonesia dan satu-satunya sebab ada Gereja Kemah Injil Indonesia. GKII tanpa penginjilan dan misi pengutusan maka itu bukanlah GKII. Lewat pilar ini maka Jaffray membuat lima strategi misi yaitu: 1. Pekabaran Injil; 2. Penanaman Gereja sampai menjadi mandiri; 3. Pembentukan Sekolah Teologi sebagai pembentukan hamba-hamba Tuhan; 4. Penerbitan; 5. Membantu masyarakat dengan sekolah dan klinik (Catatan ini ada pada arsip surat di Kantor Misi CMA Jakarta, “Riwajat Singkat dari Usaha Missie “The Christian and Missionary Alliance” di Indonesia, halaman 1).

 

Catatan pribadi yang saya temukan dalam tulisan Jaffray sendiri memaksa kita mendefinisikan kembali strategi misi GKII ke depan: Pertama, pentingnya strategi yang relevan dan kontekstual untuk pekabaran Injil di Indonesia. Jaffray di tahun 1930-an telah berhasil membawa strategi pekabaran Injil yang bisa secara masif membawa jiwa maka GKII harus bangkit mencari berbagai strategi pekabaran Injil untuk generasi masa kini yang disebut geneerasi milenial.

 

Kedua, penanaman gereja adalah kelanjutan dari pekabaran Injil. Jangan sampai GKII hanya pandai menginjil tapi tidak mampu melakukan penanaman gereja sehingga menjadi gereja yang mandiri secara dana dan pemerintahan gereja. Perlu ada suatu gerakan khusus tentang strategi menanam dan memelihara serta menumbuhkan gereja yang merupakan kumpulan orang yang dimenangkan.

 

Ketiga, sekolah-sekolah teologi harus berorientasi kepada misi dan bukan kepada kegiatan akademis intelektual semata. STT dan sekolah Alkitab harus menopang gereja dalam menyiapkan hamba-hamba Tuhan. Pada sisi lain gereja-gereja harus secara nyata mendukung sekolah Alkitab sehingga terjadi sinergi antara keduanya.

 

Keempat, penerbitan memang sedang memasuki era kesuraman karena adanya pengaruh dunia digital dan membaca sudah berpindah dari konvensional buku kepada e-book secara digital. Walaupun demikian masih ada harapan bagi gereja untuk terus mengembangkan pelayanan penerbitan untuk tujuan penginjilan. Jangan sampai penerbitan ada hanya untuk komersial dan bukan memenuhi mandat Amanat Agung Yesus Kristus.

 

Kelima, Jaffray juga memperhatikan strategi pelayanan sosial dalam penginjilannya. Dia mendorong ada kilinik, panti asuhan dan sekolah-sekolah dalam pelayanan. Itu sebabnya GKII masih memiliki panti asuhan, pernah ada sekolah dan klinik tapi saat ini sekolah dan klinik sudah mulai pudar dan redup. Ini harus menjadi perhatian gereja untuk memulihkan pelayanan holistik dan sosial masyarakat. GKII tidak boleh hanya berfokus kepada hal-hal spiritual dalam gereja tanpa memperhatikan hal-hal sosial, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.

 

Jadi strategi misi Jaffray itu jauh lebih banyak dari apa yang selama ini kita pahami. Semoga ini membawa kebangkitan bagi pelayanan GKII ke depannya (DR).

Oleh: Daniel Ronda

Strategi Misi Jaffray yang paling berpengaruh di Indonesia adalah lewat pendirian sekolah Alkitab sebagai penyiapan tenaga pelayan untuk penginjilan. Pada mulanya sekolah yang didirikannya bernama Sekolah Alkitab Makasar (SAM). Tahun 1931 ia sudah minta ijin untuk membangun Seklah Alkitab, karena memang salah satu pelayanannya di Tiongkok selama 32 tahun adalah pemimpin sekolah Alkitab dan ia merasa bahwa sekolah telah berhasil mencetak hamba-hamba Tuhan yang kemudian melayani bangsanya sendiri. Akhirnya kelas pertama SAM dimulai pada bulan Januari 1932 dengan 40 orang siswa di jalan daeng tompo (atau Daeng Tompo Straat) yaitu di rumah Pdt. David Clench. Bulan Februari dibuka lagi dan ditambah kelas malam dan yang mendaftar bertambah menjadi 25 orang. Kelas mula-mula ini tidak dipungut bayaran atau gratis.

 

Siapakah siswa-siswa pertama? Menurut catatan kebanyakan siswa dari daerah-daerah Kristen seperti Ambon, Minahasa, Sangihe Talaud, Toraja, NTT, bahkan Sumatra Utara (Batak). Ada juga dari Kalimantan. Beberapa nama yang tercatat sebagai siswa mula-mula seperti Philip R. Tito, Daniel Rundu (Tator), P.N. Potu, Aris Dumat, Yotam Gantume, Hendrik Norman, Eliger Lambanaung (Sangihe Talaud) Yohanes M., Daniel S. Setty (NTT), Arsenis Marpaung, Poltak Saragih (Batak), Laeng/Silwanus Kalong, Yohanes Asang Ling, Martin Rining Laban, Ling Salu Unya (dari Kaltim), A. Lesnussa, J. Sahertian, Paul Wattimury (Maluku). Tentu ada banyak nama lagi yang tidak disebutkan di sini.

 

Dosen mula-mula juga merupakan campuran antara misi dari Barat dan Tiongkok (Tenaga dari Chinese Foreign Mission Union), di mana Dr. Jaffray sebagai dosen dan pendiri, dan juga pendeta David Clench (kepala sekolah), Pdt. Pouw Peng Hong (atau P.H. Pouw), Pdt. A. Mouw, Pdt. R. Deibler, Nn. V. Griebenow, Nn. M. Kemp, Pdt. Harman dan Mary Dixon, Nn. L Marsh, Pdt. J. W. Brill, Pdt. W. Post, termasuk dosen tamu Wilson Wang (dari RRC).

 

Pola Pendidikan: SAM dapat disebut sebagai sekolah misi, karena berupaya mengembangkan konsep pengajaran di kelas dengan praktik di lapangan. Jaffray memiliki konsep belajar setahun atau dua tahun dan sesudah itu praktik satu atau dua tahun, lalu melanjutkan pendidikan lagi selama dua tahun. Pelajaran yang mendapat penekanan adalah penguasaan Alkitab, teknik penginjilan praktis yang kontekstual. Alkitab mendapat penekanan utama dan teologi secara doktrinal yang dalam tidak terlalu dipentingkan. Bagi Jaffray yang penting bagi siswa menguasai Alkitab dan mampu menyampaikannya dengan penuh kuasa kepada orang yang dilayani. Ia mengundang dosen yang datang memiliki hati misi, dan di kemudian hari dosen-dosen ini membawa konsep teologi Dispensasionalis. Kita mengenal bagaimana siswa-siswa Alkitab tahun-tahun pasca Jaffray sangat menguasai peta zaman yang merupakan ciri Dispensasionalis.

 

Ini yang menarik dari pelayan-pelayan Tuhan dari SAM. Ketika khotbah-khotbah yang ada hanyalah berfokus kepada intelektual, lalu ibadah mulai kering. Namun dosen dan siswa SAM membawa kesegaran baru dalam berkhotbah dalam gereja yang lebih dahulu ada. Kegairahan muncul karena khotbah memenuhi kebutuhan langsung dari masyarakatnya, dan tidak melayang berbicara filosofis yang tidak dimengerti jemaat (lihat catatan van den End dalam membandingkan gereja besar dan pelayanan SAM, hal. 443-444). Ini disebut pelayanan praktis kontekstual, ketika jemaat memiliki penghayatan langsung dalam berhubungan dengan Tuhan dan persoalannya.

 

Strategi lain yang dipakai sekolah adalah penjualan buku-buku rohani baik dalam bahasa Melayu, Mandarin, maupun bahasa Bugis. Bagi Jaffray ternyata buku dan sekolah adalah satu mata uang yang tak terpisahkan dalam misinya. Itu sebabnya ia membangun Kalam Hidup di Makassar tahun 1931 dengan mengajak P.H. Pouw sebagai editor (yang kemudian menjadi pemimpin redaksi sampai akhir hayatnya tahun 1953; dia juga melayani di CFMU).

Perempuan di sekolah Alkitab juga mendapat bagian yang penting dalam pelayanan SAM, dimana sejak tahun 1935 berdiri sekolah Alkitab Perempuan yang dipimpin oleh Nn. M. Kemp. Prinsipnya bahwa perempuan perlu berperan dalam pekabaran injil dalam menjangkau perempuan. Ini manarik, karena ketika gereja didominasi oleh pria pada waktu itu, perempuan telah diberi tempat khusus di SAM. Sayang bahwa sesudah perang dunia II berakhir, sekolah khusus perempuan ini tidak dilanjutkan lagi.

 

Spiritualis mendapat penekanan penting dalam pendidikan di SAM. Adanya siswa yang datang selalau mendapat bimbingan rohani baik dalam tradisi klasik spiritualitas yaitu ibadah doa harian, baca Alkitab, ibadah bersama. Ini membuat sehingga tidak ada satupun siswa yang datang dan tamat hanya memenuhi memahami Alkitab secara Intelektual. Pola ini ternyata membuahkan hasil di lapangan. Dengan pengetahuan yang sangat minim tentang strategi kontekstual dan antropologi budaya, namun dapat membuat masyarakat suku terutama di pedalaman Kalimantan dan Papua dapat menerima injil secara massal. Hari ini kantong-kantong kekristenan masih eksis di daerah-daerah tersebut, dan ini bukti dari jejak Jaffray yang memiliki visi pendidikan yang memiliki tujuan, yaitu kerajaan Allah.

 

Menarik juga bahwa sejak awal kedatangan Jaffray diterima dengan baik oleh gereja-gereja setempat yang sudah ada lebih dulu di Makassar atau Sulsel. Ini dibuktikan dalam tulisan-tulisan yang muncul dalam buku sejarah GKSS (Gereja Kristen Sulawesi Selatan) dan Gereja Toraja. Bahkan sejak awal ada alumni Jaffray yaitu A. Rumpa yang menjadi guru injil di Gereja Toraja tahun 1940-an. Dia adalah murid langsung Dr. Jaffray. Dalam sejarah Gereja Toraja disebutkan bahwa SAM adalah lembaga yang bersahabat (van den End, 33)

 

Pendidikan Pasca Dr. Jaffray: Setelah Jaffray meninggal dalam tawanan Jepang tahun 1945, dan SAM sempat berhenti beroperasi tahun 1942-1945, maka SAM dibuka kembali tahun 1946 di bawah pimpinan Pdt. Walter M. Post. Mereka masih meneruskan semangat pelayanan Jaffray, dan mulai melibatkan tenaga Indonesia sebagai pengajar.

 

Pada tahun 1958 SAM berubah nama menjadi Jaffray Bible College (JBC) untuk mengenang sang pendiri. JBC lalu menjadi sekolah induk bagi organisasi GKII (Gereja Kemah Injil Indonesia) seluruh Indonesia. diselingi dengan berbagai konflik internal pada masa-masa itu, JBC boleh berbangga karena eksisinya terus bertambah bahkan terus maju. Akhirnya tahun 1966 JBC berubah menjadi Sekolah Tinggi Theologia Jaffray (STTJ). Konflik bukannya mereda, justru ketika berubah menjadi sekolah tinggi persoalan mulai muncul baik secara internal maupun pengrusakan massa eksternal yang terjadi tahun 1967. Ini mengakibatkan semua dokumen penting, perpustakaan hancur berantakan. Dan di jalan Lajangiru (sekarang Gunung Merapi) berserakan buku-buku. Namun semua pengajar dan mahasiswa selamat, walaupun menghadapi berbagai ancaman.

 

Tahun 1975. STT Jaffray mulai era baru di mana memasuki masa di mana berhubungan dengan Kopertis dan memulai program sarjana muda, dan dilanjutkan dengan S1 tahun 1981, dan dimulainya S2 tahun 1989 serta S3 tahun 2012. Bukan hanya itu dari dan lewat STT Jaffray baik secara langsung maupun tidak langsung kemudian muncul STT-STT lainnya dalam lingkup GKII sampai 12 STT dan 12 STA/SMTK serta sekolah Alkitab berbahasa daerah yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi, NTT dan Papua.

 

Refleksi: Sekolah teologi bagi Jaffray sangat penting dalam pelayanan penginjilan. Dalam sejarahnya alumni Jaffray dikenal memiliki semangat pekabaran Injil, pelayanan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, memiliki spiritualitas yang tinggi. Apakah pendidikan teologi saat ini masih setia pada panggilan misi dan pengutusan mencari jiwa yang terhilang? Mari di bulan Misi ini kita mendoakan sekolah teologi agar menjadi alat di tanganNya untuk menghasilkan tenaga yang memiliki hati misi (DR).

 

Sumber Penulisan:
1. Rodger Lewis, Karya Kristus di Indonesia, Bandung: Kalam Hidup, 1995
2. Th. Van den End, sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja 1901-1961, Jakarta: BPK GM, 1984.

Oleh: Daniel Ronda

Mengapa William Carey disebut Bapak Misi Modern padahal dia bukan penginjil pertama dari gereja Protestan yang keluar negeri bahkan dari gereja Baptis pun dia juga bukan yang pertama? Bahkan sudah ada Zinzendorf dan gerakan Moravia yang sudah lebih dahulu mengutus penginjil ke luar negeri.

 

Dia disebut berjasa sebagai bapak misi modern bukan karena apa yang telah dikerjakannya di India tapi oleh karena tulisan dan dorongannya dia akhirnya lahir puluhan lembaga misi yang siap mengutus penginjil, mendorong munculnya ratusan penginjil yang siap diutus dan pada waktu itu menjadi gerakan mobilisasi terbesar sepanjang sejarah gereja Protestan. Mungkin banyak yang belum mengenalnya. Untuk itu diharapkan semua hamba Tuhan harus mempelajari sejarah hidupnya supaya kita bisa menghargai karyanya dan belajar semangat misinya untuk dikobarkan sepanjang sejarah.

 

William Carey lahir di Inggris tanggal 17 Agustus 1761. Masa kecilnya dia cukup susah karena berasal dari keluarga miskin dan dari sebuah desa yang terpencil. Dia punya penyakit kulit yang sangat rentan dengan cahaya sinar matahari sehingga dia harus memilih pekerjaan yang tidak kena cahaya matahari. Untuk itu dia memilih bekerja menjadi tukang sepatu. Ia menjadi anggota gereja Baptis Khusus (Particular Baptist) tapi jemaat ini agak disingkirkan dalam pergaulan dalam masyarakat karena gerejanya sangat konservatif dan tidak kompromi dengan dosa. Boleh dikatakan sejak kecil sampai remaja dewasa Carey merepresentasikan dirinya sebagai orang yang terpinggirkan secara ekonomi, sosial dan bahkan dalam agamanya. Namun singkat cerita dia bertumbuh menjadi seorang Kristen yang baik dan terpanggil menjadi hamba Tuhan. Setelah melewati proses persiapan dan pendidikan, beliau dilantik menjadi gembala di sebuah Gereja Baptis yang kecil.

 

Dalam kaitan dengan penginjilan, kisah dramatis perubahan Carey terjadi sewaktu ada teman sejawatnya dalam pertemuan bulanan sesama hamba Tuhan menantang dia dengan pertanyaan apakah perintah penginjilan atau Amanat Agung Yesus Kristus ke seluruh dunia yang diberikan kepada muridNya masih berlaku sampai hari ini? Apalagi kajian Calvinistik berkembang ke arah lain yaitu tidak perlunya penginjilan karena Tuhan akan mampu menyelamatkan tanpa kita harus pergi. Diskusi ini ternyata berkepanjangan dan terus terjadi berkali-kali, sehingga akhirnya lewat diskusi ini Carey lalu menulis buku yang diterbitkan tahun 1792. Buku setebal hanya 87 halaman ini dikatakan sebagai tulisan yang paling berpengaruh yang pernah ditulis dalam Bahasa Inggris pada zamannya. Dari judulnya saja kita sudah mendapatkan apa yang terkandung dalam tulisan itu. Bukunya berjudul: “An Enquiry into the Obligation of Christian to Use Means for the Conversion of Heathens.” Waktu itu judul-judul buku cukup panjang dan tidak seperti sekarang judul-judul buku pendek dan kadang tidak sesuai dengan isinya.

 

Mari kita kaji tulisan beliau. Bagian pertama dari buku adalah “An Enquiry into the Obligation of Christians” (Hal yang merupakan kewajiban orang Kristen) menyatakan adanya halangan sejarah dan teologis untuk menjadi seorang penginjil. Salah satunya adanya pengajaran yang keliru tentang Calvinisme yang seolah-olah menganggap tidak perlu lagi penginjilan karena semua sudah ada ketetapan Allah. Bagi Carey, Tuhan tetap menggunakan manusia untuk tugas penyelamatan. Lalu bagian “for the Conversion of the Heathens” (Pertobatan orang yang tidak percaya) dijelaskan bahwa Carey punya komitmen yang jelas dan tegas bahwa perlunya penginjilan dan misi ke seluruh dunia serta perlunya manusia meresponi berita keselamatan dari Tuhan. Tapi ada bagian kalimat tengahnya yang sering dilupakan orang yaitu kata “use means” (penggunaan berbagai cara). Padahal inilah poin yang penting dari buku ini menyebabkan dia dijuluki Bapak Misi Modern.

 

“Use Means” mengungkapkan pentingnya orang percaya ikut bertanggung jawab dalam melaksanakan misi sehingga perlu orang percaya mengorganisasi diri mereka dan membentuk suatu struktur sehingga orang percaya dapat diatur dan diarahkan untuk mendukung penginjilan misi seluruh dunia. Dalam dunia sekarang perlu punya strategi manajemen misi yang menyebabkan orang percaya termobilisasi dalam penginjilan dunia. Ini sumbangan penting dari William Carey untuk dunia Kristen Protestan. Hal ini sebenarnya bukan baru dalam gereja Katolik, karena dalam Katolik sudah ada ordo-ordo atau komunitas atau lembaga yang terbentuk untuk berbagai jenis pelayanan dalam gereja dan dunia. Ada yang fokus kepada penginjilan, pendidikan, rumah sakit, orang miskin dengan panti sosialnya serta banyak jenisnya dalam gereja Katolik. Orang yang terlibat tidak hanya para imam atau pastor tapi juga kaum awam terlibat dalam pelayanan ini. Berbeda dengan reformasi Protestan di mana fokus masih menghadapi penindasan dan masalah internal sehingga selama dua ratus tahun pertama sejak reformasi tidak ada pengiriman tenaga penginjil ke luar negeri. Itu bukan hanya karena faktor teologis tapi juga memang tidak ada lembaga-lembaga pelayanan yang dibuat dalam mendukung gereja.

 

Dalam buku Carey yang penuh berisi tulisan historis dan teologis tentang pentingnya penginjilan, dia tidak menemukan apa kata Alkitab dan kajian teologis bagaimana misi harus didukung dan dikembangkan dalam gereja Kristen. Maka Carey mencoba mengusulkan suatu sistem dengan meminjam organisasi dagang yang sekuler dan dipakai dalam mengorganisasi pelayanan dalam gereja. Bagi Carey pendekatan misi itu tidak hanya dilakukan oleh para hamba Tuhan dan jemaat hanya mendukung dari segi dana, tapi bagaimana menata suatu sistem organisasi yang juga melibatkan jemaat awam atau seluruh jemaat terlibat dalam pelayanan. Jadi pendekatan bahwa hanya pendeta yang bisa jadi penginjil dipatahkan dalam konteks Carey. Misalnya Carey melibatkan perempuan juga bisa diutus ke misi luar negeri dengan memakai karunia yang diberikannya sebagai dokter, perawat dan banyak peran lainnya. Akibat dari buku ini banyak organisasi misi mulai terbentuk baik di Inggris maupun di Amerika. Mereka membentuk organisasi yang membidangi penerjemahan Alkitab, kesehatan, pendidikan dan banyak lagi. Ini terbukti pada waktu Carey ke India dia berhasil membentuk lembaga misi Baptis yang besar, penerjamahan Alkitab< Rumah Sakit, ikut dalam perjuangan masalah sosial dan kesmiskinan dan seterusnya.

 

Apa pelajaran yang bisa diambil dari Carey dan bukunya untuk GKII? Sudah waktunya kita menata kembali kegerakan misi untuk melibatkan kaum awam atau kaum profesional. Kita jangan fokus pada bulan misi semata meminta uang mereka untuk mendukung misi. Kita harus melibatkan mereka dalam berbagai pelayanan sesuai dengan bidangnya untuk menopang manajemen misi strategis yang holistik.

 

Hal kedua adalah perlunya manajemen strategi misi dengan lebih profesional. Seringkali kita tidak pernah menata bagaimana harus pergi tapi sistem organsiasi masih amburadul baik dari segi kemampuan menggerakkan, anggaran pelaporan pendanaan dan laporan-laporan misi. Kita harus melakukannya lebih baik dari tahun ke tahun. Semoga (DR).

 

Catatan: Bulan Agustus sebagai Bulan Misi GKII

 

Sumber bacaan: Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).

Oleh: Daniel Ronda

Walaupun kekristenan relatif lebih lambat tiba di Korea tapi gereja di Korea sampai hari ini mengalami pertumbuhan yang spektakuler di dunia. Hari ini banyak yang menjuluki gereja Korea sebagai kiblat bagi gerakan pertumbuhan gereja modern di dunia. Ada banyak gereja lokal yang sampai memiliki puluhan ribu bahkan ratusan ribu anggota jemaat. Yang paling dikenal orang adalah Gereja Yoido Full Gospel yang didirikan oleh Pendeta David Yonggi Cho. Saya pernah mengunjungi gerejanya yang begitu besar dan sesak dipenuhi manusia yang datang beribadah. Gereja ini bermula di tahun 1958 dengan 5 orang anggota di sebuah ruang tamu. Saat ini gereja ini mengklaim memiliki anggota 700.000 anggota jemaat. Ini adalah gereja yang terbesar di dunia. Saat ini jumlah orang Kristen di Korea sekitar 15.000.000 jiwa atau antara 25-30% dari populasi penduduknya. Di Korea kurang lebih ada 47,000 gereja lokal sehingga Korea dapat dianggap sebagai salah satu pusat Kristen di Asia saat ini. Yang paling menarik tentunya bukan jumlah orang Kristen dan gerejanya di sana tapi ternyata gereja Korea adalah gereja pengutus terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

 

Menurut Korea Research Institute fo Missions (KRIM) yang meneliti gerakan penginjilan di Korea. Dilaporkan bahwa tahun 1979 ada 93 orang Korea diutus keluar untuk menjadi penginjil di luar negeri. Lalu pertumbuhannya bergerak cepat, di mana menjadi 1.178 penginjil keluar negeri di tahun 1989, dan 8.103 orang di tahun 2000. Tahun 2006 sudah menjadi 14.905 orang menjadi penginjil dan diutus oleh 174 gereja atau lembaga misi, dan itu pertumbuhannya luar biasa besarnya dalam tempo 27 tahun. Gereja Korea mengutus penginjil ke 168 negara dan tentunya yang paling banyak ke Asia sebanyak 47% terutama di China, Filipina dan Jepang. Lalu ke Amerika Latin sekitar 6% dan ke Afrika sekitar 8%. Saat ini sekitar setiap tahun dikirim 1000 orang penginjil ke luar negeri dan menjadikan gereja yang punya kekuatan besar dalam pengutusan.

 

Apa rahasia pertumbuhan gereja Korea? Saya sudah tiga kali mengunjungi gereja-gereja Korea. Salah satunya adalah Gereja Kwanglim Metodis Korea yang waktu itu dipimpin oleh Pendeta Sundo Kim. Gereja ini memiliki puluhan ribu anggota dan yang menarik semangat dan energi pelayanan mereka yang berapi-api. Dia terus ingin menambah gereja baru dan pelayanan sosial padahal usianya sudah lanjut. Tiap kali saya bertemu dengan hamba Tuhan dari Korea semangat pelayanan dan etos kerjanya tinggi sekali. Saya berkunjung ke tempat teman saya di Busan, Pendeta Daniel Keum. Dari pagi sudah ke kantor dan melakukan pelayanan sampai jauh malam baru pulang. Mereka melayani dengan kerja keras yang luar biasa. Saya punya teman Pendeta Yun di Jakarta, di mana waktu saya berkhotbah di gerejanya dia menceritakan jam kerjanya. Dia sudah masuk kantor jam 8 dan terus melakukan pelayanan baik dari kantor, mengajar atau berkunjung sampai jam 11 malam! Wah, itu sangat mengagumkan etos kerjanya. Tapi itu bukan sembarang etos kerja. Kerja keras mereka punya satu tujuan yaitu mencari dan menyelamatkan jiwa yang terhilang dan membawa kepada keindahan persekutuan di dalam Kristus ketika mereka sudah berada di gereja. Misi amanat agung adalah motivasi dari kerja keras mereka. Ibadah doa pun tidak asal-asalan tapi bisa dihabiskan berjam-jam untuk berdoa. Begitu pula dengan ibadah Minggu yang dikemas lewat ibadah, persekutuan, dan pemuridan sehingga bisa jadi sepanjang hari Minggu ada di gereja. Motivasi mereka adalah Amanat Agung Yesus Kristus.

 

Bagaimana dengan hamba-hamba Tuhan di Indonesia? Jangan sampai kita tidak dapat menjadi gereja pengutus karena etos kerja lemah, gairah pelayanan letih lesu dan terlalu banyak santai dan mengerjakan hobi yang berlebihan. Tidak mungkin GKII bangkit jika etos kerja yang lemah dan santai dalam pelayanan. Di GKII kita harus meneladani Pdt. Nyoman Enos yang di usia 70 tahun masih menggunakan motor dan pergi mengabarkan Injil ke desa-desa tanpa lelah, karena baginya tidak ada waktu luang dan santai. Harinya harus dipenuhi dengan semangat untuk mencari dan menyelamatkan jiwa-jiwa.

 

Melihat gerakan pengutusan penginjil gereja Korea secara keseluruhan maka tentunya kita harus belajar dari mereka dan belajar memahami orang Korea sebagai penginjil, karena tujuan mereka jelas yaitu mengabarkan Injil, menanam gereja dan menolong orang miskin. Tapi tanpa pemahaman atas budaya mereka akan terjadi benturan budaya yang mengganggap orang Korea suka mengatur orang Indonesia. Justru kalau lihat motivasinya karena tidak boleh bersantai karena Amanat Agung bicara tentang peluang dan waktu maka kita harus menghargai cara kerja mereka. Maka GKII harus juga melihat dan menjalin kerjasama dengan pusat misi dunia saat ini yaitu gereja Korea. Dari gereja Korea kita akan belajar bagaimana etos kerja mereka dan juga sekaligus belajar bagaimana menjadi gereja pengutus dengan menjalin kerjasama dengan mereka.

 

Catatan: Bulan Agustus sebagai Bulan Misi GKII

 

Sumber bacaan: Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).