Tugas Pemimpin Rohani

Tugas Pemimpin Rohani

Oleh Daniel Ronda

 

Pemimpin rohani itu beragam, mulai dari gembala / penginjil, ketua daerah / klasis, wilayah dan pusat. Lalu apakah tugas seorang pemimpin rohani sebenarnya? Tentu dia bukan seorang pemimpin politik yang ketika dia diangkat, maka dia bagi-bagi kekuasaan. Yang berjasa memilihnya akan ditempatkan di tempat yang baik, sedangkan yang tidak memilihnya digusur. Pemimpin rohani juga bukan penguasa yang harus dilayani dan titahnya harus diikuti. Pemimpin rohani adalah pelayan alias hamba. Benar, dia adalah hamba sahaya yang tiada pernah merasa dirinya tuan besar. Kekuasaan ada padanya bukan dipakai untuk kepentingan dirinya tapi kepentingan orang lain. Memang pemimpin rohani harus mengurusi masalah organisasi dan penegakan aturan-aturan yang berlaku. Tapi di samping mengurusi masalah organisasi dan manajemen kegerejaan, maka tugas utamanya adalah hal yang berhubungan dengan kerohanian. Ini yang harus diulang dan ditekankan, masalah kerohanian atau spiritualitas. Pertama-tama, pemimpin adalah imam bagi umatNya di mana dia mengucapkan dan menyampaikan berkat Tuhan bagi umatNya dan saat yang sama dia mendoakan jemaatnya kepada Tuhan. Hal yang sama berlaku bagi semua level pemimpin rohani sampai ketua klasis (daerah), wilayah dan pusat. Perannya adalah sebagai imam-imam bagi Allah (Wahyu 1:6).

 

Kedua, pemimpin rohani adalah pelindung bagi domba-dombanya. Serangan musuh secara rohani banyak dihadapi jemaat. Ada serangan berupa godaan dan dosa, sakit penyakit, musibah dan masalah. Maka pemimpin harus menjadi tempat perlindungan dalam arti memberikan waktu mendengarkan secara empati dan meyakinkan bahwa Tuhan itu masih ada. Tuhan tidak pernah tidur. Dia mendoakan dengan sepenuh hati tiap-tiap hari. Dalam konteks pemimpin klasis/daerah/wialayah dan pusat, maka peran yang sama berlaku yaitu mendoakan para gembala dengan sungguh tiap hari. Bukan sesekali, tapi tiap hari berdoa untuk gembala. Dia harus menjadi pelindung bagi gembalanya. Jangan percaya dengan hanya mendengar omelan, keluhan dan kritik para jemaat yang egois dan berstandar dunia dalam menilai pemimpin rohani. Justru lindungi gembalamu karena dia manusia yang butuh perhatian dan kasih sayang. Berpihaklah kepadanya karena mereka inilah yang di garis depan menghadapi berbagai masalah dalam jemaat. Ada yang puas dengannya, tapi ada yang tidak puas. Obyektif dalam menilai dan berikan penguatan-penguatan. Ingat jasa-jasanya serta kerelaannya mengabdi, perbaiki kekurangannya dan tempatkan di tempat yang benar dengan penuh kasih.

 

Ketiga, pemimpin rohani adalah pemimpin membalut yang terluka (Yehezkiel 34:16). Ia berperan sebagai konselor yang memberikan solusi dan berbelas kasihan dalam pergumulan yang dihadapinya. Jangan sampai pemimpin justru dikenal sebagai tukang marah, suka menyakiti dan melukai hati orang-orang yang dipimpinnya. Kemarahan bukan membuat orang menjadi baik tapi justru akan melukainya dan akhirnya orang terluka cenderung akan ikut melukai, sehingga terjadi lingkaran yang tidak terselesaikan. Pemimpin yang sejati adalah yang berinisiatif melepaskan pengampunan, menjadi konselor dan mengobati yang mengalami luka-luka batin. Ketidaktaatan bawahan dihadapi dengan peraturan yang telah dibalur dengan kasih.

 

Akhirnya, pemimpin harus meneladani Yesus yaitu memberi hidup. Dia mengatakan bahwa Aku datang untuk memberi kehidupan dan hidup yang kuberikan adalah hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10). Pemimpin sejati adalah pemimpin yang membawa kepada kehidupan. Perkataannya menghidupkan, contoh dalam laku dan tindaknya memberikan kehidupan, bahkan tindakan praktisnya memberikan suatu kehidupan seperti dalam menolong, mengampuni, memberkati dan menghiburkan. Hidup seperti ini sangat dirindukan oleh siapa saja yang sedang dipimpin. Pemimpin yang memberi hidup bagi orang lain tidak akan punya niat mematikan orang lain. Bukan hanya katanya, perilakunya pun tidak akan mematikan orang lain. Lawan dari pemimpin yang memberi kehidupan adalah laksana pencuri (baca seluruh Yohanes 10). Pemimpin pencuri adalah pemimpin yang membinasakan orang yang dipimpinnya. Dia senang jika orang yang dipimpinnya menjadi hancur. Semoga kita bukan pemimpin yang demikian!

Leave a Reply