You are currently viewing Strategi Pelayanan Gereja Kota (2)

Strategi Pelayanan Gereja Kota (2)

  • Post author:
  • Post category:Kesaksian

Cara Membantu Orang Baru Diterima di Gereja

Oleh Daniel Ronda

 

Gereja kota haruslah berorientasi misi yaitu mencari dan membawa jiwa baru dalam gereja, karena manusia kota begitu beragam dari yang belum percaya sampai yang Kristen nominal alias KTP saja. Maka gereja tempat perjumpaan dan persekutuan orang baru percaya harus mendapat perhatian serius dari para gembala dan pemimpin rohani. Terus terang banyak gereja lebih memperhatikan pemuridan dan pendewasaan jemaat yang sudah ada. Maka gereja banyak menghabiskan waktu untuk menyusun tema tahunan, berbagai pola ibadah, tema-tema khotbah, retret dan seminar yang semua berfokus membina jemaat menjadi dewasa rohani. Itu baik tapi ada yang hilang di mana gereja pada satu sisi kurang memberi perhatian kepada orang baru yaitu bagaimana menjangkau mereka, dan setelah mereka bersedia datang ke gereja maka perlu diketahui apa perasaan mereka jika baru pertama kali masuk gereja. Padahal Yesus sering menggunakan perumpamaan tentang orang yang terhilang sangat penting sekali dan mendapat perhatian yang sangat serius (Lukas 15). Gereja mula-mula dalam Perjanjian Baru membuka diri kepada orang baru yang masuk ke dalam gereja dan terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang luar biasa.

 

Maka gereja harus memiliki tindakan nyata untuk mengkomunikasikan diri bahwa gereja siap menyambut orang baru masuk gereja. Ada beberapa prinsip yang praktis yang bisa dipakai menyambut orang baru dan orang yang belum bergereja sampai mereka menjadi murid Kristus dan membawa orang lain lagi menjadi muridNya:

  1. Gereja yang memiliki petunjuk: gereja harus membuat petunjuk (sign) di gereja sehingga orang baru tahu menikmati gereja tanpa kebingungan. Misalnya, ada tulisan besar mana gedung utama, ruang sekolah minggu, toilet, perpustkaan, parkir, dan fasilitas lainnya. Petunjuk itu harus jelas sehingga orang baru merasa nyaman masuk gereja.
  2. Perkenalkan yang melayani: orang yang naik mimbar perlu diperkenalkan atau memperkenalkan diri dengan singkat. Misalnya, gembala perlu memperkenalkan diri dengan mengatakan: “Selamat pagi, saya Pdt. A gembala jemaat di tempat ini!” – “Senang menyambut Anda sekalian dalam gereja kami.” – “Jika Anda memerlukan bantuan, silakan hubungi kami, seperti nomor-nomor HP yang tertera di Buletin”. Itu hanya contoh kata-kata perkenalan singkat, juga jika ada pengkhotbah tamu perlu diperkenalkan. Prinsipnya, harus ada konteks atau penjelasan mengapa orang itu bicara dan siapa orang yang bicara. Hal lain adalah juga tamu-tamu yang hadir diundang berdiri untuk diperkenalkan secara singkat, sehingga mereka bisa diterima.
  3. Harapkan tamu datang: bagaimana perasaan Anda jika pergi ke rumah seorang teman dan mereka menyambutnya dengan hangat dan gembira? Pasti kita merasa senang dan disambut. Sebaliknya, bila kita pergi ke rumah teman tapi tidak disambut dengan baik, pasti kita rasakan tidak adanya sambutan sehingga mengecewakan hati. Hal yang sama untuk pengunjung baru dalam gereja. Ada berapa hal yang kita buat sehingga mereka merasa disambut dengan hangat, misalnya: ada penyambut tamu yang dilatih untuk bersikap hangat dan bukan sekadar berdiri bagi buletin, sukarelawan yang menyambut anak-anak, ada hadiah kecil untuk orang baru. Ini hanya contoh dan bisa lagi ditambah sesuai dengan konteks gereja masing-masing.
  4. Jelaskan apa yang terjadi: setiap gereja punya liturgi dan format ibadah masing-masing. Harus ada penjelasan singkat tentang makna yang dilakukan. Misalnya apa makna perjamuan kudus, mengapa kita harus memuji Tuhan dan apa kepentingan mendengarkan khotbah. Tapi jangan panjang dan bertele-tele. Jelaskan secara singkat saja. Orang baru punya latar belakang liturgi dan pola ibadah yang beda atau sama sekali tidak tahu mengapa dan untuk apa ada model ibadah seperti yang dilakukan.
  5. Jelaskan Alktab dalam konteksnya: orang zaman sekarang di kota sudah banyak yang buta huruf dengan cerita-cerita Alkitab, sehingga perlu ada penjelasan tentang latar belakang Alkitab sehingga dengan konteks itu mereka akan menghargai Alkitab. Ini penting diingat untuk para pengkhotbah yang akan menyampaikan Firman Tuhan. Misalnya menjelaskan iman Abraham harus dijelaskan peristiwa dalam cerita Alkitab apa yang menyimpulkan bahwa Abraham adalah orang beriman. Ini suatu contoh memberikan pernyataan Alkitab dalam konteksnya.
  6. Layani anak-anak dengan baik: orang perkotaan ingin pengalaman rohani yang dialamai harus juga dirasakan oleh anak-anak mereka. Ortu akan senang jika anak-anak mereka juga takut Tuhan. Maka gereja kota harus memiliki tim pelayanan sekolah minggu yang hebat dan fasilitas yang cukup baik. Gereja harus ramah terhadap anak, sehingga semua merasa aman dan dilayani.
  7. Buat website (situs) atau media sosial gereja Anda: orang kota saat ini akan mencari di internet tentang gereja Anda. Maka setiap gereja kota wajib memiliki website dan memiliki informasi dasar tentang alamat, jadwal kebaktian dan kontak nomor telepon yang bisa dihubungi. Lalu ada informasi yang diperlukan seperti durasi waktu ibadah, layanan yang disediakan, dan seterusnya. Juga pastikan website Anda “mobile friendly” sehingga bisa dibuka lewat HP. Jangan lupa selalu memperbaharui situs internet Anda. Banyak gereja yang buat situs tapi tidak diperbaharui dan informasinya kadaluarsa. Bila belum bisa membuat website, maka hadirkan gereja di media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter. Dengan informasi yang tersedia maka besar kemungkinan gereja akan dikunjungi dan mengalami pertumbuhan.

Ide diambil dari tulisan Rich Birch, “7 Ways to Help Unchurched Guests Feel Welcome without Selling Out” diakses tanggal 7 Desember 2016, tersedia di www.churchleadership.com/leading-ideas/7-ways-help-unchurched-guests-feel-welcome-without-selling/