You are currently viewing Serial Menyambut Bulan Misi GKII: Kisah Penginjillan yang Unik di Korea (4)

Serial Menyambut Bulan Misi GKII: Kisah Penginjillan yang Unik di Korea (4)

  • Post author:
  • Post category:Renungan

Oleh: Daniel Ronda

Hari ini Korea dikenal sebagai negara yang pertumbuhan kekristenannya sangat pesat dan juga pengirim misionari terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Korea saat ini bukan hanya menjadi negara maju secara ekonomi tapi juga kaya dengan sejarah misi. Bagaimana sebenarnya Injil mula-mula masuk Korea dan sampai berkembang di sana? Ada cerita unik di dalamnya yang dapat jadi pelajaran.

 

Pada awalnya Korea adalah sebuah kerajaan yang dipimpin pemimpin agama yang tinggal di biara-biara. Negara ini termasuk lemah sehingga sering dijajah dan diserang negara tetangga baik oleh China maupun Jepang. Korea akhirnya menjadi negara yang sering terisolasi dari negara luar karena serangan yang bergiliran dari negara tetangga.

 

Sejarah penjajahan awal terbesar yang dicatat adalah serangan tentara Jepang tahun 1592 yang dipimpin Toyotomi Hideyoshi yang mengirim sembilan batalyon untuk menghancurkan Korea. Dari peristiwa itu Jepang banyak mengambil pria Korea dibawa ke Jepang untuk dijadikan budak tawanan dalam kamp penjara Jepang. Yang menarik pada saat itu pemerintah Jepang memberikan izin bagi imam-imam Yesuit Katolik untuk bekerja di kamp tawanan itu. Salah satu Pastor Yesuit yang melayani di kamp itu adalah Pastor Frois (1532-1597). Dia melaporkan kurang lebih dalam kamp di mana dia bekerja ada 300 orang Korea di Nagasaki. Itu baru satu dari sekian banyak kamp tawanan untuk orang Korea. Yang menarik tidak ada orang Korea di tanahnya yang menjadi Kristen. Namun dalam tawanan di negara lain mayoritas tawanan Korea menjadi Kristen. Cuma sungguh menyedihkan karena iman itu pula pada akhirnya mereka dihukum mati dan lewat konfirmasi Perintah atau Dekrit Pemerintah Jepang tahun 1614 (1614 Edict) bahwa ratusan tawanan Korea dihukum mati karena mereka memilih menjadi Kristen. Jadi alasan mereka dibunuh karena iman mereka kepada Kristus. Sungguh ironi bahwa mereka sudah mati sahid dan menjadi martir karena iman mereka sebelum ada orang Kristen di tanah Korea sendiri.

 

Sejarah kemudian berlanjut ke China, di mana kekristenan justru masuk ke Korea lewat China. Adalah duta besar Korea untuk China bernama Chung tu-won sekitar tahun 1770 membawa ke Korea buku karya Matteo Ricci yaitu “Tianzhu atau Pengajaran yang Benar tentang Tuhan di Sorga”. Buku-buku Matteo Ricci yang dibawa ke Korea banyak beredar dan dibaca di China dalam tahun-tahun itu. Itu yang membuat ilmuwan muda Korea datang ke China dan salah satunya bernama Yi Pyok. Di Korea ada gerakan intelektual yang dikenal dengan nama Sekolah Shilhak (Sekolah untuk Pelajaran Praktis). Gerakan ini sangat tertarik mempelajari hal-hal yang datang dari dunia Barat. Mereka mulai membuka diri untuk belajar dunia filsafat dan berbagai keilmuan dari luar Korea. Pada tahun 1783 gerakan Sekolah Shilhak ini minta kepada Yi Sang-hung (Lee-Seung-hun), anak dari duta besar, meminta kerajaan China mengizinkan mereka mengunjungi markas misi Katolik di China untuk dapat belajar tentang kekristenan. Lalu Yi yang saat itu berusia 27 tahun belajar kekristenan di bawah Pastor Yesuit dan dibaptis di Beijing sebelum kembali ke Korea. Yi kembali ke Korea tahun 1784 dengan nama baptis Peter Seung-hun. Dialah yang membawa kekristenan ke Korea dan membawa buku-buku literatur Kristen dalam bahasa Mandarin untuk diterjemahkan. Buku-buku ini kemudian dibagikan ke gerakan Sekolah Shilhak untuk dipelajari. Para intelektual dan ilmuwan muda yang mempelajari kekristenan ini mencapai kesimpulan bahwa kekristenan jika diajarkan di Korea akan membawa keuntungan bagi orang Korea karena menurut mereka bahwa etika kekristenan tidak beda dengan etika Konghucu (Confucian). Lewat pengajarannya Peter Seung-hun membaptis pertama orang Korea di tanah Korea yang bernama Lee Pyok yang kemudian diberi nama baptis Yohanes Pembaptis. Mereka lalu terus mengembangkan kekristenan sehingga banyak yang dibaptis dan kemudian mereka melatih para imam. Lagipula pihak kerajaan Korea sangat positif menyambut kekristenan dan mengizinkan perkembangan pelayanan Injil di tanah Korea. Inilah kisah awal kekristenan di Korea di mana nanti saya akan lanjutkan menulis tentang pelayanan misi Kristen Protestan di Korea.

 

Pelajaran yang bisa diambil untuk GKII dalam bulan misi sebagai berikut: pertama, kekristenan ternyata lebih mudah tumbuh jika mereka keluar dari akarnya walaupun harganya mahal yang harus dibayar. Ini mengingatkan pentingnya pelayanan Diaspora bagi saudara-saudara kita yang sedang mencari nafkah di luar negeri. Mari kita mendoakan dan mendukung pelayanan diaspora ini terutama di Hongkong di mana ada 150 ribu orang Indonesia di sana. Kita mendoakan rencana pembukaan pelayanan di Taiwan di mana ada 250 ribu saudara-saudara kita di sana. Ini belum termasuk di negara-negara lainnya.

 

Kedua, para penginjil mula-mula bukanlah orang asing tapi orang Korea asli. Itu berarti pentingnya pelatihan tenaga lokal bagi pelayanan penginjilan dan pengutusan. Bahkan literatur yang digunakan adalah dari China. Ini pelajaran tentang pentingnya pelayanan literatur dalam pelayanan misi. Jangan anggap sepele buku atau traktat yang baik dan menarik. Peran penerbitan sangat diperlukan dalam PI. Teknik menggunakan buku dan traktat masih perlu dipelajari oleh para penginjil sebagai penopang pelayanan. Tentu tidak sembarangan kita membaginya tapi sangat penting dimiliki oleh para penginjil karena banyak orang yang bukan saja imannya tumbuh karena mendengar tapi juga karena membaca (DR).

 

Catatan: Bulan Agustus sebagai Bulan Misi GKII

 

Sumber bacaan: Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).