You are currently viewing Natal dan Tahun Baru = Resolusi?

Natal dan Tahun Baru = Resolusi?

  • Post author:
  • Post category:Renungan

Renungan:
Natal dan Tahun Baru = Resolusi?
Oleh Daniel Ronda

Perayaan Natal memang terhubung dengan Tahun Baru Masehi, sebuah penanggalan yang berpedoman pada kelahiran Yesus Kristus (Isa Almasih). Namun karena penanggalan masehi ini sudah menjadi standar kalender semua bangsa di dunia maka perayaan Tahun Baru menjadi universal, milik semua bangsa tak terkecuali apapun agamanya. Yang paling sering dilakukan di acara pergantian tahun adalah mengadakan resolusi atau sebuah komitmen untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik. Misalnya, resolusi sehat mau diet makan dan olahraga teratur, baca Alkitab seluruhnya dalam setahun, ada lebih banyak waktu untuk keluarga, kurangi waktu memakai media sosial, sekolah lanjutan lagi, dan banyak resolusi lainnya. Biasanya resolusi itu berhasil di awal-awal bulan dan seringkali selanjutnya gagal dipenuhi. Lalu dengan penuh kesalahan kita mohon ampun di Hari Paskah, dipulihkan lagi dan gagal lagi. Tiba Natal dan Tahun Baru lagi, maka buat resolusi lagi. Itulah perjalanan manusia di mana resolusinya acapkali gagal tapi selalu buat resolusi yang berujung kegagalan, Mengapa?

Resolusi tidak tercapai karena ambisi pribadi, sebuah sikap mengandalkan kekuatan diri untuk mencapainya. Tuhan lalu menjadi “alat bantu” untuk mencapai sesuatu yang baik itu. Lalu itu menjadi sebuah siklus tahunan yang berulang dan selalu diakhiri dengan rasa bersalah dan berujung frustrasi karena berputar dari tahun ke tahun.

Sebelum mengakhiri tahun 2018, ada baiknya kita baca dan renungkan Filipi 2:5-11. Pelajaran tentang pentingnya sikap (attitude) di mana Kristus seharusnya menjadi Tuhan dan dijadikan pusat keteladanan sebagaimana maksud konteks penulisan teks itu. Pelajaran ini bukan soal ambisi membuat resolusi, tetapi sikap Kristus. Resolusi bicara tentang kerja lebih keras, melakukan lebih banyak, berusaha mengubah manusia lama dan meningkatkan peforma. Yang justru diperlukan adalah re-orientasi, di mana mengacu pada Kristus yang rela menjadi manusia, mengosongkan diri dari ambisi dan hak yang dimilikinya. Re-orientasi berbicara tentang sikap tentang cara berpikir yang sudah diberikan lewat inkarnasi Kristus yaitu sikap pasrah untuk dapat diangkat oleh Dia.

Daripada membuat begitu banyak resolusi, malam tahun baru sebaiknya dimulai dengan doa. Sebuah doa yang akan diulang di berbagai kesempatan untuk menjadi serupa dengan Kristus. Isi doa berbicara tentang pembaharuan komitmen kepada Tuhan dalam hidup dan pelayanan. Kita perlu meneladani John Wesley yang berdoa dan berjanji kepada Tuhan menjelang tahun baru: “Saya bukan lagi milik saya sendiri. Taruh saya atas apa yang Engkau kehendaki, taruh saya dengan siapa yang Engkau kehendaki. Taruh saya untuk melakukan, taruh saya untuk menderita. Biarkan Engkau taruh saya untuk bekerja bagiMu dan dikhususkan bagiMu, semua pujian yang kuterima hanya untukMu, semua kritikan yang kuterima hanya untukMu, Biarkan saya penuh, biarkan saya kosong. Biarkan saya memiliki segala sesuatu, biarkan tidak punya sesuatu. Saya sepenuhnya menyerahkan segala sesuatunya kepada pengharapanMu dan pelayanan. Dan sekarang, Tuhan yang mulia dan pemberi berkat, Bapa, Anak dan Roh Kudus, Engkau milik saya, dan saya milikMu. Jadilah demikian. Dan perjanjian doa yang saya buat di dunia, biar diteguhkan di surga. Amin.

Selamat Tahun Baru, sahabat!

(Sumber inspirasi penulisan: Omar Rikabi, “What Christmas Can Teach Us About New Year’s Resolutions”, 1 Januari 2018, diakses dari seedbed.com)