Motif
Businessman in spotlight. Human resource recruitment. Person success, employee and career. Vector illustration concept background

Motif

@danielronda

Saya baru saja menyelesaikan pembacaan buku bagus dari Patrick Lencioni, “The Motive”. Ada isu yang menarik yang diangkat yaitu motivasi orang mau jadi pemimpin. Mengapa seseorang mau menjadi pemimpin dalam sebuah jabatan? Apa motif seseorang menjadi pemimpin? Patrick Lencioni dalam bukunya menjelaskan ada dua motif dasar orang menjadi pemimpin (hal. 81): Pertama, dia ingin melayani sesama serta bertanggung jawab, membawa kebaikan bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin seperti ini mengerti bahwa penderitaan dan pengorbanan adalah suatu yang tak dapat dihindarkan untuk mencapai tujuan dan melayani sesama adalah motivasi utama dalam kepemimpinannya.

Kedua, alasan dasar lainnya adalah pemimpin ingin mendapatkan keuntungan (rewards). Para pemimpin model ini berfokus pada hadiah atau sesuatu yang didapat atas kerja kerasnya. Mereka terjebak ingin mendapatkan perhatian, status atau kedudukan, kekuasaan dan uang. Banyak pemimpin menyadari motivasi yang keliru ini namun mereka tetap melakukannya. Ini yang membuat organisasi menghadapi masalah dengan motif pemimpin seperti ini.

Sebenarnya kepemimpinan itu adalah sebuah keistimewaan (leadership is privilege). Maka sejatinya tidak ada pemimpin yang punya motif murni ingin melayani sesama. Pasti ada saja godaan untuk mendapatkan hadiahnya. Begitu pula pemimpin dengan motif salah, seringkali juga mereka berusaha melakukan sesuatu yang baik bagi organisasi. Olehnya patut pemimpin selalu memeriksa motif dia apakah benar mau melayani. Untuk itu harus ada ukuran untuk mengukurnya dengan alat ukur yang benar. Kalau hanya disuruh memeriksa motif di hati pasti susah diketahui, karena dia tersembunyi. Maka orang yang memiliki motif yang benar dalam memimpin akan memiliki kurang lebih lima tanda seperti ini:

Pertama, pemimpin yang mengembangkan tim kepemimpinan. Pemimpin yang melayani dan bertanggung jawab membentuk dan mengembangkan tim kepemimpinan dan tidak hanya melakukan delegasi kepemimpinan. Pemimpin yang buruk tidak mau tahu apa yang dikerjakan oleh bawahannya. Dia merasa masing-masing kembangkan sendiri bagiannya. Misalnya pemimpin gembala, mengatakan urusan anak dan remaja bukan urusannya. Biarkan saja ada orang yang mengurusnya.

Kedua, berjuang untuk memanajameni bawahan. Memanajameni pribadi-pribadi dalam organisasi akan membantu mengarahkan kerja mereka, mereka sejalan dengan timnya, lalu terjadi komunikasi yang terbuka sehingga tantangan dan masalah sudah diketahui sejak awal. Pemimpin dengan motif benar tidak akan membiarkan mereka jalan sendiri.

Ketiga, berani menghadapi percakapan yang sulit dan tidak menyenangkan, di mana pemimpin yang baik akan siap berhadapan dengan percakapan yang sulit dan tidak menyenangkan untuk bersama dicari solusi. Pemimpin yang menghindari percakapan sulit ini hanya mau laporan ABS (asal bos senang). Ini akan berdampak buruk bagi dirinya dan organisasi yang dipimpinnya.

Keempat, secara aktif dan rutin menyelenggarakan rapat-rapat tim. Banyak pemimpin memandang rendah kekuatan pertemuan atau rapat, karena biasanya rapat selalu diisi dengan perdebatan dan percakapan yang bertele-tele. Maka pemimpin yang baik akan berusaha membangun sistem rapat yang fokus, relevan, sering (walaupun tidak lama). Perlu dibangun sistem rapat yang baik serta membangun dan itu akan menjadi budaya organisasi yang baik.

Kelima, mengkomunikasikan secara konsisten dan berulangkali kepada bawahan hal-hal penting dalam organisasi atau hal yang harus dikerjakan. Dengan pengulangan berkali kali maka akan dirasakan pentingnya pekerjaan tersebut. Begitu pula visi, misi dan nilai dari organisasi perlu diingatkan dalam beberapa kesempatan pertemuan sehingga mereka mengerti, menerima dan menghidupinya. Pemimpin yang tidak mau menyampaikannya secara berulang maka dipastikan tidak akan ada kemajuan dalam pelayanannya.

Lencioni dalam buku ini tidak berfokus kepada bagaimana menjadi pemimpin yang baik, namun lewat fabel (narasi dua orang eksekutif perusahaan) hendak dibangun pelajaran bahwa motif yang benar akan selalu nampak dalam cara dia memimpin. Lima ukuran di atas itu memperlihatkan motif kepemimpinan yang benar. Jangan mengaku pemimpin memiliki motif ingin melayani dan bertanggung jawab jika Anda tidak peduli membangun sistem organisasi yang baik. Apalagi hanya berharap kedudukan, maka pemimpin seperti hanya ingin mendapatkan keuntungan uang dan status, serta tak mungkin dia peduli akan perkembangan pelayanan organisasi yang dipimpinnya.

Sumber Buku: Patrick Lencioni, The Motive: John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, New Jersey, 2020

This Post Has One Comment

  1. Made TImotius

    Terimakasih, artikel ini memberkati saya. Sering mengadakan rapat, lalu mengkomunikasikan hasil rapat, melakukannya secara teratur, dan konsisten akan saya terapkan dalam organisasi yang saya pimpin. Terimakasih Pak Daniel.

Leave a Reply