Pengumuman: DOA & Puasa bersama untuk mendukung saudara-saudara kita yang ada di Intan Jaya Papua (06-08 Juli 2026)
Tuhan Yesus Memberkati

RAHASIA TERBAIK KAMI TERUNGKAP

Bagikan Artikel

Menolak Kekayaan dan Kekuasaan, Ia Menjadi Perintis/Misionaris
di Beberapa Ladang Misi Terbesar di Dunia
Oleh Barrie Doyle

Ini adalah kisah tentang Robert Alexander Jaffray, seorang individu yang memberikan dampak besar bagi banyak masyarakat melalui pelayanan misi, meskipun namanya relatif kurang dikenal di tanah kelahirannya sendiri. Bagi banyak orang Kristen di Kanada, termasuk dalam lingkungan Christian and Missionary Alliance (Alliance), Jaffray dikenal sebagai seorang pemimpin dan pengajar misi yang berdedikasi. Namun, di berbagai wilayah Asia yang menjadi ladang pelayanannya, ia dikenang sebagai seorang hamba Tuhan yang menyerahkan hidupnya untuk membawa Injil kepada berbagai bangsa. Robert “Rob” Alexander Jaffray lahir pada 16 Desember 1873 di Toronto, Kanada, dalam keluarga kaya dan berpengaruh. Ayahnya, Robert Jaffray Sr., adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi dan politik Kanada. Sejak kecil, Robert dipersiapkan untuk meneruskan usaha keluarga, tetapi Tuhan memiliki rencana yang berbeda dalam hidupnya. Pada usia 16 tahun, ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan mulai memiliki kerinduan untuk melayani melalui pekerjaan misi. Walaupun keputusan tersebut mendapat penolakan dari keluarga karena dianggap meninggalkan masa depan yang menjanjikan, Jaffray tetap teguh mengikuti panggilannya. Ia kemudian menempuh pendidikan di New York Missionary Training Institute yang kemudian dikenal sebagai Nyack College untuk mempersiapkan diri melayani di luar negeri. Pada tahun 1897, ia dikirim oleh Christian and Missionary Alliance (CMA) ke Wuchow, Tiongkok Selatan. Di sana ia melayani selama sekitar 35 tahun, mempelajari bahasa Tionghoa, mengajar Alkitab, melakukan penginjilan, dan membangun pelayanan gereja. Karena kebiasaannya mempelajari peta sambil berdoa bagi bangsa-bangsa yang belum terjangkau, ia dikenal dengan julukan “pria peta”.

Pelayanan Robert Jaffray terus berkembang ke berbagai wilayah Asia. Pada tahun 1911, ia memulai pelayanan misi di Vietnam melalui wilayah Da Nang. Pelayanan tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan gereja yang kuat dan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan kekristenan di Vietnam. Selain pelayanan penginjilan, Jaffray juga memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan pembinaan pemimpin gereja. Ia memimpin Sekolah Alkitab Wuchow dan mendirikan Seminari Alliance di Hong Kong untuk mempersiapkan orang-orang percaya agar dapat melayani Tuhan. Ia juga mendirikan penerbitan South China Alliance Press untuk menyediakan bahan pembelajaran Alkitab dalam bahasa Tionghoa. Memasuki akhir dekade 1920-an, Jaffray mulai melihat kebutuhan pelayanan yang lebih besar di Asia Tenggara. Pada tahun 1928, ia melakukan perjalanan eksplorasi ke Kalimantan yang semakin meneguhkan panggilannya untuk membuka pelayanan di Indonesia. Pada tahun 1931, ia mendirikan pusat pelayanan di Makassar, Sulawesi, dengan pola pelayanan yang mencakup sekolah Alkitab, penginjilan, dan penerbitan literatur Kristen. Salah satu warisan penting dari pelayanan tersebut adalah berkembangnya penerbitan Kristen Kalam Hidup yang kemudian berpusat di Bandung. Melalui pelayanan ini, para misionaris dari berbagai negara bekerja bersama orang-orang Kristen Indonesia untuk melayani berbagai wilayah di kepulauan Indonesia. Pada tahun 1938, Jaffray kembali ke Kanada untuk mengambil masa cuti, tetapi hatinya tetap tertuju kepada pelayanan di Asia Tenggara. Ia memilih kembali ke Indonesia karena merasa panggilan hidupnya masih berada bersama masyarakat yang telah ia layani selama bertahun-tahun.

Ketika Jepang menginvasi Hindia Belanda pada tahun 1941, wilayah Makassar jatuh ke tangan Jepang dan Robert Jaffray bersama banyak warga sipil lainnya ditangkap. Istrinya, Minnie, dan anak mereka, Margaret, ditempatkan di kamp tahanan perempuan, sementara Robert dipindahkan ke kamp tawanan perang di Sulawesi Selatan. Dalam kondisi yang sulit, ia tetap menggunakan waktunya untuk menerjemahkan tulisan-tulisan Kristen dan melayani sesama tawanan. Namun, keadaan kamp yang penuh kekurangan makanan, penyakit, dan penderitaan membuat kondisi kesehatannya semakin menurun, terutama karena ia sebelumnya telah mengalami diabetes dan gangguan kesehatan lainnya. Pada tahun 1945, para tawanan dipindahkan ke wilayah pedalaman Pegunungan Toraja dengan kondisi yang semakin berat. Meskipun tubuhnya melemah, Jaffray tetap mempertahankan iman dan pengharapannya kepada Tuhan. Pada 29 Juli 1945, beberapa minggu sebelum Perang Dunia II berakhir, Robert Alexander Jaffray meninggal dunia dalam Tuhan di kamp tahanan perang di Sulawesi. Setelah perang berakhir, teladan hidupnya menginspirasi banyak orang untuk melanjutkan pelayanan di Indonesia dan berbagai wilayah Asia. Warisan Robert Alexander Jaffray tetap hidup melalui gereja-gereja, sekolah Alkitab, penerbitan Kristen, dan para pemimpin yang telah dipersiapkannya. Kehidupannya menjadi teladan tentang pengorbanan, kesetiaan, dan keberanian untuk mengikuti panggilan Tuhan dengan memberikan hidupnya bagi pelayanan misi.


Sumber:
Barrie Doyle, “Our Best-Kept Secret Revealed,” Alliance Canada, Spring 2012, hlm. 21–23.
Diterjemahkan oleh Daniel Ronda.

Bagikan ke