Gembala Sebagai Fundraiser

Gembala Sebagai Fundraiser

Oleh Daniel Ronda

 

Tentu tugas gembala yang utama adalah sebagai pemelihara dan penjaga umat Tuhan, di samping tugas kepemimpinan dan manajerial dari organisasi gereja yang dipimpinnya. Namun ada tugas yang tak kalah pentingnya yaitu sebagai seorang penggerak dan penggali dana (fundraiser). Ada beberapa kesalahan pemimpin: banyak pemimpin yang berpikir jemaat akan otomatis mengerti tentang memberi persembahan, persepuluhan dan bentuk pengorbanan lainnya. Padahal prinsip komunikasi tetap sama, orang tidak akan tergerak sampai ada yang memberitahu dan mengajarkan serta menggerakkannya. Ada juga gembala yang merasa itu bukan tugasnya, itu tugas majelis. Maka yang terjadi adalah hanya pengumpulan dana rutin yang mana kemudian pengelolaan persembahan menjadi rumit karena dana sedikit tapi terlalu banyak aturannya untuk dana yang sedikit itu. Akibatnya gembala merasa bahwa dia diperlakukan tidak adil, sudah bekerja keras tapi persembahan kecil. Yang lainnya adalah ada juga gembala yang malu bicara uang karena takut dianggap mata duitan. Atau ada gembala merasa bahwa kalau bicara pemberian atau mendukung pelayanan maka dirinya tidak akan dapat apa-apa, karena dana itu diserahkan kepada pelayanan. Ini pandangan naif karena hanya memikirkan diri sendiri dan itu berlawanan dengan prinsip penggembalaan yaitu menyerahkan diri untuk kepentingan orang lain.

 

Bagaimana dengan surat dan proposal dalam menggali dana? Saya selalu mengatakan itu tidak cukup karena surat proposal itu hanya kertas tertulis yang dingin. Bisa proposal sepanjang ada penjelasan verbal sebelumnya. Bila tidak, maka proposal menjadi mubazir. Apalagi banyak lembaga menggunakan prinsip yang sama yaitu kirim proposal. Seorang pengusaha pernah berbicara kepada saya bahwa proposal di rumahnya menumpuk begitu banyak dan dia bingung karena tidak mengenal lembaga yang minta bantuan ini.

 

Lalu bagaimana menyikapi hal tentang pemberian? Gembala harus terdepan mengajarkan tentang pemberian dan tidak perlu malu karena uang itu bukan untuk dirinya tapi bagi pelayanan. Dia secara sengaja membuatkan tema-tema tentang pemberian jemaat secara berkala. Bahkan dia juga rajin membicarakan kemajuan persembahan, memberikan kesaksian tentang apa yang terjadi atas pemberian jemaat. Seperti Rasul Paulus, kita pun tak segan memuji pengorbanan jemaat serta mendoakannya sehingga jemaat merasakan sukacita dan berkat memberi.
Langkah selanjutnya tentu dia sendiri menjadi teladan dalam memberi. Tidak bisa mengajar tapi tidak melakukannya.

 

Namun ada yang tidak kalah pentingnya bahwa setiap pemberian harus dipertanggungjawabkan lewat laporan yang transparan dan ucapan terima kasih jika itu diserahkan kepada lembaga. Jangan pernah menyalahgunakan keuangan karena sekali kepercayaan rusak maka sulit membangunnya kembali. Gembala sebaiknya tidak memegang uang gereja/organsiasi ataupun pasangannya jadi bendahara. Pemimpin harus membuat pagar sehingga dapat menjauhkan diri dari godaan yang menjatuhkan.

 

Prinsip lain yang penting adalah jangan pernah minta untuk kepentingan diri sendiri atau keluarga. Minta dukungan untuk pelayanan, orang miskin dan pembangunan itu wajib dilakukan. Jika dilakukan, maka dengan sendirinya persembahan akan meningkat dan pada akhirnya kembali kepada kesejahteraan pemimpin itu sendiri. Jadi gembala harus mulai belajar membuka mulutnya tentang pemberian, jangan percaya proposal tapi tampilkan dengan kata-kata yang keluar dari hati tentang arti dan berkat memberi secara meyakinkan. Tuhan akan menguatkan pemimpin menjadi fundraiser!
(Repost Agustus 2014 by DR).

Leave a Reply