You are currently viewing Serial Menyambut Bulan Misi GKII R. A. Jaffray dan Sekolah Alkitab (10)

Serial Menyambut Bulan Misi GKII R. A. Jaffray dan Sekolah Alkitab (10)

  • Post author:
  • Post category:Renungan

Oleh: Daniel Ronda

Strategi Misi Jaffray yang paling berpengaruh di Indonesia adalah lewat pendirian sekolah Alkitab sebagai penyiapan tenaga pelayan untuk penginjilan. Pada mulanya sekolah yang didirikannya bernama Sekolah Alkitab Makasar (SAM). Tahun 1931 ia sudah minta ijin untuk membangun Seklah Alkitab, karena memang salah satu pelayanannya di Tiongkok selama 32 tahun adalah pemimpin sekolah Alkitab dan ia merasa bahwa sekolah telah berhasil mencetak hamba-hamba Tuhan yang kemudian melayani bangsanya sendiri. Akhirnya kelas pertama SAM dimulai pada bulan Januari 1932 dengan 40 orang siswa di jalan daeng tompo (atau Daeng Tompo Straat) yaitu di rumah Pdt. David Clench. Bulan Februari dibuka lagi dan ditambah kelas malam dan yang mendaftar bertambah menjadi 25 orang. Kelas mula-mula ini tidak dipungut bayaran atau gratis.

 

Siapakah siswa-siswa pertama? Menurut catatan kebanyakan siswa dari daerah-daerah Kristen seperti Ambon, Minahasa, Sangihe Talaud, Toraja, NTT, bahkan Sumatra Utara (Batak). Ada juga dari Kalimantan. Beberapa nama yang tercatat sebagai siswa mula-mula seperti Philip R. Tito, Daniel Rundu (Tator), P.N. Potu, Aris Dumat, Yotam Gantume, Hendrik Norman, Eliger Lambanaung (Sangihe Talaud) Yohanes M., Daniel S. Setty (NTT), Arsenis Marpaung, Poltak Saragih (Batak), Laeng/Silwanus Kalong, Yohanes Asang Ling, Martin Rining Laban, Ling Salu Unya (dari Kaltim), A. Lesnussa, J. Sahertian, Paul Wattimury (Maluku). Tentu ada banyak nama lagi yang tidak disebutkan di sini.

 

Dosen mula-mula juga merupakan campuran antara misi dari Barat dan Tiongkok (Tenaga dari Chinese Foreign Mission Union), di mana Dr. Jaffray sebagai dosen dan pendiri, dan juga pendeta David Clench (kepala sekolah), Pdt. Pouw Peng Hong (atau P.H. Pouw), Pdt. A. Mouw, Pdt. R. Deibler, Nn. V. Griebenow, Nn. M. Kemp, Pdt. Harman dan Mary Dixon, Nn. L Marsh, Pdt. J. W. Brill, Pdt. W. Post, termasuk dosen tamu Wilson Wang (dari RRC).

 

Pola Pendidikan: SAM dapat disebut sebagai sekolah misi, karena berupaya mengembangkan konsep pengajaran di kelas dengan praktik di lapangan. Jaffray memiliki konsep belajar setahun atau dua tahun dan sesudah itu praktik satu atau dua tahun, lalu melanjutkan pendidikan lagi selama dua tahun. Pelajaran yang mendapat penekanan adalah penguasaan Alkitab, teknik penginjilan praktis yang kontekstual. Alkitab mendapat penekanan utama dan teologi secara doktrinal yang dalam tidak terlalu dipentingkan. Bagi Jaffray yang penting bagi siswa menguasai Alkitab dan mampu menyampaikannya dengan penuh kuasa kepada orang yang dilayani. Ia mengundang dosen yang datang memiliki hati misi, dan di kemudian hari dosen-dosen ini membawa konsep teologi Dispensasionalis. Kita mengenal bagaimana siswa-siswa Alkitab tahun-tahun pasca Jaffray sangat menguasai peta zaman yang merupakan ciri Dispensasionalis.

 

Ini yang menarik dari pelayan-pelayan Tuhan dari SAM. Ketika khotbah-khotbah yang ada hanyalah berfokus kepada intelektual, lalu ibadah mulai kering. Namun dosen dan siswa SAM membawa kesegaran baru dalam berkhotbah dalam gereja yang lebih dahulu ada. Kegairahan muncul karena khotbah memenuhi kebutuhan langsung dari masyarakatnya, dan tidak melayang berbicara filosofis yang tidak dimengerti jemaat (lihat catatan van den End dalam membandingkan gereja besar dan pelayanan SAM, hal. 443-444). Ini disebut pelayanan praktis kontekstual, ketika jemaat memiliki penghayatan langsung dalam berhubungan dengan Tuhan dan persoalannya.

 

Strategi lain yang dipakai sekolah adalah penjualan buku-buku rohani baik dalam bahasa Melayu, Mandarin, maupun bahasa Bugis. Bagi Jaffray ternyata buku dan sekolah adalah satu mata uang yang tak terpisahkan dalam misinya. Itu sebabnya ia membangun Kalam Hidup di Makassar tahun 1931 dengan mengajak P.H. Pouw sebagai editor (yang kemudian menjadi pemimpin redaksi sampai akhir hayatnya tahun 1953; dia juga melayani di CFMU).

Perempuan di sekolah Alkitab juga mendapat bagian yang penting dalam pelayanan SAM, dimana sejak tahun 1935 berdiri sekolah Alkitab Perempuan yang dipimpin oleh Nn. M. Kemp. Prinsipnya bahwa perempuan perlu berperan dalam pekabaran injil dalam menjangkau perempuan. Ini manarik, karena ketika gereja didominasi oleh pria pada waktu itu, perempuan telah diberi tempat khusus di SAM. Sayang bahwa sesudah perang dunia II berakhir, sekolah khusus perempuan ini tidak dilanjutkan lagi.

 

Spiritualis mendapat penekanan penting dalam pendidikan di SAM. Adanya siswa yang datang selalau mendapat bimbingan rohani baik dalam tradisi klasik spiritualitas yaitu ibadah doa harian, baca Alkitab, ibadah bersama. Ini membuat sehingga tidak ada satupun siswa yang datang dan tamat hanya memenuhi memahami Alkitab secara Intelektual. Pola ini ternyata membuahkan hasil di lapangan. Dengan pengetahuan yang sangat minim tentang strategi kontekstual dan antropologi budaya, namun dapat membuat masyarakat suku terutama di pedalaman Kalimantan dan Papua dapat menerima injil secara massal. Hari ini kantong-kantong kekristenan masih eksis di daerah-daerah tersebut, dan ini bukti dari jejak Jaffray yang memiliki visi pendidikan yang memiliki tujuan, yaitu kerajaan Allah.

 

Menarik juga bahwa sejak awal kedatangan Jaffray diterima dengan baik oleh gereja-gereja setempat yang sudah ada lebih dulu di Makassar atau Sulsel. Ini dibuktikan dalam tulisan-tulisan yang muncul dalam buku sejarah GKSS (Gereja Kristen Sulawesi Selatan) dan Gereja Toraja. Bahkan sejak awal ada alumni Jaffray yaitu A. Rumpa yang menjadi guru injil di Gereja Toraja tahun 1940-an. Dia adalah murid langsung Dr. Jaffray. Dalam sejarah Gereja Toraja disebutkan bahwa SAM adalah lembaga yang bersahabat (van den End, 33)

 

Pendidikan Pasca Dr. Jaffray: Setelah Jaffray meninggal dalam tawanan Jepang tahun 1945, dan SAM sempat berhenti beroperasi tahun 1942-1945, maka SAM dibuka kembali tahun 1946 di bawah pimpinan Pdt. Walter M. Post. Mereka masih meneruskan semangat pelayanan Jaffray, dan mulai melibatkan tenaga Indonesia sebagai pengajar.

 

Pada tahun 1958 SAM berubah nama menjadi Jaffray Bible College (JBC) untuk mengenang sang pendiri. JBC lalu menjadi sekolah induk bagi organisasi GKII (Gereja Kemah Injil Indonesia) seluruh Indonesia. diselingi dengan berbagai konflik internal pada masa-masa itu, JBC boleh berbangga karena eksisinya terus bertambah bahkan terus maju. Akhirnya tahun 1966 JBC berubah menjadi Sekolah Tinggi Theologia Jaffray (STTJ). Konflik bukannya mereda, justru ketika berubah menjadi sekolah tinggi persoalan mulai muncul baik secara internal maupun pengrusakan massa eksternal yang terjadi tahun 1967. Ini mengakibatkan semua dokumen penting, perpustakaan hancur berantakan. Dan di jalan Lajangiru (sekarang Gunung Merapi) berserakan buku-buku. Namun semua pengajar dan mahasiswa selamat, walaupun menghadapi berbagai ancaman.

 

Tahun 1975. STT Jaffray mulai era baru di mana memasuki masa di mana berhubungan dengan Kopertis dan memulai program sarjana muda, dan dilanjutkan dengan S1 tahun 1981, dan dimulainya S2 tahun 1989 serta S3 tahun 2012. Bukan hanya itu dari dan lewat STT Jaffray baik secara langsung maupun tidak langsung kemudian muncul STT-STT lainnya dalam lingkup GKII sampai 12 STT dan 12 STA/SMTK serta sekolah Alkitab berbahasa daerah yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi, NTT dan Papua.

 

Refleksi: Sekolah teologi bagi Jaffray sangat penting dalam pelayanan penginjilan. Dalam sejarahnya alumni Jaffray dikenal memiliki semangat pekabaran Injil, pelayanan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, memiliki spiritualitas yang tinggi. Apakah pendidikan teologi saat ini masih setia pada panggilan misi dan pengutusan mencari jiwa yang terhilang? Mari di bulan Misi ini kita mendoakan sekolah teologi agar menjadi alat di tanganNya untuk menghasilkan tenaga yang memiliki hati misi (DR).

 

Sumber Penulisan:
1. Rodger Lewis, Karya Kristus di Indonesia, Bandung: Kalam Hidup, 1995
2. Th. Van den End, sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja 1901-1961, Jakarta: BPK GM, 1984.